Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Gendongan


__ADS_3

ZRASSHH.....


"Lah, hujan?!" tanya Vina dengan ekspresi terkejutnya, karena baru saja keluar dari pintu keluar, dia harus dihadapi dengan banyaknya awan kelabu yang menurunkan air sebanyak yang bisa awan itu tampung selama mendapatkan uap air dari laut yang di lewatinya.


"Baru juga mau pulang, kenapa tiba-tiba hujan begini?" ucap salah stau orang lagi, dan merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Vina juga.


Ketika banyak dari mereka yang langsung mengeluh dengan hujan yang tiba-tiba datang, maka tidak dengan Vina.


"Kau mau menerjang hujan?" tanya Vano ketika ia melihat Vina yang tidak begitu terkejut lagi, seakan sudah menemukan solusinya sendiri atas masalah dari hujan yang sudah turun dari beberapa menit yang lalu itu.


"Tidak lah, masa repot-repot lari menerjang hujan seperti mereka? Aku kan sudah sedia payung! Seperti kata pepatah, sedia payung sebelum hujan," Dengan bangga, Vina pun membuka payung berwarna biru Navy.


"Dan sedia wanita untuk jadi Istri" gumam Vano tanpa sengaja, di saat Vano hanya memperhatikannya saja, sambil melihat payung di buka oleh Vina itu adalah payung lipat kecil, sedangkan mereka itu, berdua. Selain tidak muat, jelas Vano yang punya tubuh tinggi, tidak akan mampu mengimbangi tinggi tubuh Vina, jika satu payung berdua.


Tapi karena Vina tidak mendengar gumamannya tadi, Vano pun merasa lega, karena tidak ketahuan oleh wanita ini.


"Tapi aku cuman ada satu, ayo," Vina dengan repot-repot jadi harus mengangkat payungnya tinggi-tinggi, gara-gara harus mengkondisikan tubuh Vano yang tinggi itu.


"Ini salah Vina," kata Vano, dia meyerahkan kantong belanja kepada Vina, dan Vano merebut payung yang di pegang Vina, setelah itu Vano tiba-tiba saja mengangkat tubuh Vina layaknya mengangkat tubuh anak kecil.


"Kyaa~ V-vano, apa yang kau lakukan ini? Turunkan aku!" Vina mulai meronta, dia sangat takut, malu, sekaligus khawatir, sebab mau bagaimanapun, Vano masih terluka, dan malah menggendongnya seperti itu, hal tersebut jelas jadi menambah beban pikiran Vina.


"Ini lebih efektif ketimbang aku harus menyamakan jalanmu yang lambat di saat hujan seperti ini. Jika aku menggendongmu seperti ini, kan kakimu jadi tidak terkena air hujan," jawab Vano dengan bangga.


"'Ciee, keren juga dua orang itu. Bisa-bisanya mesra-mesraan di depan umum seperti ini," satu ucapan, kembali terdengar.

__ADS_1


"Walah, anak muda zaman sekarang memang seperti itu ya? Aku jadi iri deh, apalagi yang laki-laki itu kelihatan sekali kalau dia bule," ucap salah satu orang lagi diantara para pengunjung yang sedang menunggu bersiap untuk menerjang hujan.


Vina yang sudah sepenuhnya malu dan tidak bisa turun, gara-gara cengkraman tangan dari Vano terhadap paha nya begitu kuat, pada akhirnya dia membungkukkan badannya ke arah bahu nya Vano, dan melingkarkan kedua tangannya ke leher Vano.


"Memalukan, padahal aku kan bisa jalan sendiri, basah juga tidak apa-apa, tapi kenapa pakai sok-sokan seperti ini?" protes Vina.


ZRASSSHH....


Hujan yang cukup deras itu, tidak sepenuhnya membuat Vano berhenti berjalan, karena yang ada, dia seperti berada dalam nuansa nostalgia yang perah Vano alami, ketika dia berjalan di tengah deretan parkiran mobil dan motor tepat di bawah hujan.


'Aku seperti pernah melakukan hal yang sama seperti ini. Masih samar-samar, tapi aku tetap punya insting kalau aku memang pernah berjalan seperti ini di bawah hujan. Tapi-' sengaja menggantungkan kalimatnya di dalam pikirannya, Vano lantas sedikit mendongak ke atas.


Yang menjadi perbedaan antara detik ini dengan perasaan familiar yang Vano rasakan itu, adalah di waktu.


Makannya, Vano pun sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Vina, karena terlalu dalam dalam memikirkan soal ingatannya itu.


PLAK..


"Vano!" panggil Vina dengan tepukan yang sedikit kasar di belakang punggung Vano.


"Hm? Kau tadi tanya apa?" toleh Vano, membuat Vina jadi salah tingkah lagi, karena wajah mereka berdua benar-benar dekat.


"T-turunkan aku, kau kan lagi sakit, jangan banyak bergerak apalagi membawa beban sepertiku ini, pasti berat,"


Dengan seringaian tipisnya, Vano menjawab : "Apanya yang berat, bahkan kau sama sekali tidak berat. Sebenarnya apa sih yang kau makan, kurus kering sep-"

__ADS_1


"Iya-iya, aku memang kurus kok, aku memang kurus, karena mau seberapa banyak aku makan, aku tetap tidak akan gemuk! Turunkan aku jika tujuanmu ingin mengejekku!" pekik Vina, dia pun kembali meronta ingin di turunkan.


Vano yang merasa baru saja menyinggung hati Vina, dan Vina sendiri tiba-tiba jadi marah sampai meronta seperti itu, tidak ada pilihan lain, Vano pun langsung berakting.


"A-ahw..., jangan bergerak banyak seperti itu, bahuku kananku jadi sakit." rintih Vano.


"...! Kan aku sudah menyuruhmu untuk menurunkanku, kan?" protes Vina, dia masih saja tidak mau kalah, sekalipun Vano berakting kesakitan.


'Dia ternyata keras kepala,' karena sudah jadi seperti itu, Vano akhirnya menurunkan tubuh Vina, dan saat itu juga sebenarnya mereka berdua sudah sampai di samping motornya Vina yang terparkir itu.


'Huh...huh, aku merasa kewalahan, menghadapi dia. Padahal sampai satu minggu yang lalu, dia seperti pangeran tidur, tapi sekarang, dia tiba-tiba jadi seperti Iblis saja.' Batin Vina, dia mencoba mengatur nafas, sekaligus debaran jantung yang sedang cepat itu. "Ki-kita, sekarang kita pulang saja." kata Vina. Dia pun segera mengeluarkan jaket yang sempat di simpan di dalam jok motor untuk di pakai oleh Vano, lalu tidak lupa dengan mantel untuk di pakai oleh mereka berdua.


__________


Tapi di kala mereka berdua sedang sibuk dengan urusan mereka untuk pulang bersama, dan tentu saja menggunakan motor, sebuah helikopter melintas tidak jauh dari mereka.


"Tuan, kita mau mendarat di mana?" tanya sang pilot.


"Apa kau tahu hotel yang bisa aku tempati di sini?" tanya seorang pria berjas hitam ini kepada sang pilot.


"Ada Tuan, ada hotel Aston tidak jauh dari sini, apakah anda mau menginap di sana?"


"Kalau seperti itu, turunkan aku disana," perintah pria ini, seraya memandangi pemandangan kota kecil itu dari dalam helikopter berwarna abu itu. 'Elvano, aku akhirnya datang ke kota yang kau tinggali, sampai bertemu sebentar lagi.


aku jamin, pertemuan kita nanti akan jauh lebih menegangkan dari pertemuan terakhir kita.' pikir pria ini, dengan senyuman tipisnya, dia pun membuka layar handphone lipat miliknya, dimana dia baru saja mendapatkan satu dokumen berisi informasi dari seorang perempuan dari desa yang tinggal bersama dengan Elvano.

__ADS_1


__ADS_2