Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Percaya


__ADS_3

"Hahh~" dengan perasaan yang bisa sesenang itu, Elvano langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurnya dengan kasar. 'Aku pasti akan tidur dengan nyenyak malam ini.' harap Vano, dia sudah berangan-angan untuk bisa mendapatkan mimpi yang cukup indah.


Maka dari itu, Elvano yang merasa beban beratnya sudah dia lepas semua, langsung memejamkan matanya.


Di situlah, alam mimpi miliknya pun mendatanginya.


'Padahal aku hanya mendapatkan perasaan dia yang mau menerima permintaan maaf dariku, tapi hatiku bisa-bisanya sesenang ini. Kalau seperti ini aku pasti benar-benar di anggap bodoh dengan kelemahan yang berasal dari rasa suka, kan?' batin Elvano, dan perlahan dia pun jadi tertidur dengan senyuman menghiasi bibir seksinya.


Melepaskan rasa lelah dan beban pikiran yang selama ini mengganggunya, tidur adalah solusi yang terbaik.


"Vina,"


_____________


Cip... Cip... Cip...


Mentari pagi menyinari bumi pertiwi?


Ah, iya, pagi yang cerah memang menyinari wajah bumi yang akhirnya akan mendapatkan kisah dari semua makhluk hidup yang ada saat itu juga.


Tentu saja, cerita itu termasuk dari hasil alam mimpi yang di mimpikan oleh Elvano.


Tok... Tok... Tok...


"Tuan, sarapan paginya sudah siap, apa anda mau sarapan di meja makan atau mau makan di dalam kamar?" pagi itu, Delvin masuk untuk membangunkan sang Tuan muda yang sangat jarang sekali bangun kesiangan.


Karena tidak seperti biasanya, Delvin pun jadinya terpaksa untuk membangunkan sang majikan muda nya itu.


Hanya saja, saat Delvin masuk ke dalam kamar sang Tuan muda, rupanya orang tersebut sudah bangun, dan sekarang sudah terduduk dengan wajah melamun.


"Apa ada sesuatu yang tidak bagus?" tanya Delvin. Ketika Delvin menghampiri majikannya tersebut, dia langsung melirik ke arah aset berharga milik dari Tuan muda ini.


Pagi hari pada dasarnya memang selalu menjadi awal pagi yang menciptakan kesan pertama dari adik mereka masing-masing, tapi ketika Delvin memergoki milik dari Tuan muda, itu jelas sedikit berbeda dari pada yang seharusnya.


Agak lebih tinggi, seperti menara Eiffel yang sesungguhnya.


"Ada apa? Apakah Tuan tiba-tiba membayangkan hal yang tidak-tidak ya?" tanya Delvin dengan cukup berani.


Dia tentu saja membahas apa yang sedang mencuat di depan sana.


Delvin sadar, kalau ucapannya bisa di bilang sama sekali tidak sopan, akan tetapi Delvin sangat menyayangkan momen itu jika tidak di buat sebagai candaan.


"Bukan sekedar membayangkan lagi, tapi aku memimpikannya!" tekan Elvano sambil mengacak rambutnya sendiri.


Dia cukup frustasi, bahwa mimpi indah yang di harapkan nya adalah mimpi yang membuatnya terjerumus dalam aliran sesat, sebab dia bermimpi yang tidak-tidak.


"Dan mimpi itu kelihatannya benar-benar membuat milik anda bereaksi dengan cukup menantang ya? Ngomong-ngomong, berkat itu, saya jadi melihat anda seperti orang yang baru saja mengompol," ledek Delvin sekali lagi.


Dia sungguh sangat suka mengatakan itu di atas penderitaan dari majikannya sendiri, sebab cukup menyenangkan untuk melihat setiap reaksi wajah yang di perlihatkan kepadanya.

__ADS_1


"'Kau memang anak buah yang tidak sopan santun, kau menghina majikanmu sendiri?" kelit Elvano. Dia lumayan tersinggung dengan ucapannya Delvin, akan tetapi apa yang di katakan nya itu juga hal yang tidak bisa membuat diri Elvano menyangkal.


"Hanya bercanda, kenapa di ambil hati sekali sih?" sindir Delvin. Dia pun melihat celana boxer yang di pakai oleh Tuan muda sudah benar-benar basah seperti baru saja masuk dalam kubangan.


Padahal itu adalah kubangan yang berhasil di buat sendiri dengan pasangan di dalam mimpinya.


"Pasti sangat bersemangat sekali, sampai basah seperti itu," imbuhnya.


Elvano seketika jadi cukup pusing, memikirkan Delvin yang sama sekali tidak punya tahu malu mengatai majikannya sendiri seperti itu, memilih untuk diam saja.


"Apakah saya boleh tahu siapa yang anda mimpikan itu?" tanya Delvin dengan sengaja, sampai-sampai Delvin yang tanpa punya niat untuk menjaga martabatnya sendiri, malah membungkukkan tubuhnya tepat di depan Tuan muda nya sendiri.


'Padahal dia sudah tahu, kenapa pakai tanya segala? Apakah dia mau menyindirku lebih dari pada ini?' pikir Elvano dengan tatapan penuh selidik. "Apa ada aturan kalau mimpiku berkaitan dengan pekerjaanmu?"


Tatapannya jadi semakin datar, dan begitu menusuk Delvin yang sangat merasakan derita menjadi anak buahnya Elvano sendiri.


"Tidak, tapi saya kan bertanya sebagai teman anda, apakah tidak boleh?' tanya Delvin sekali lagi, dia menjawab sekaligus menanyakan hak nya sebagai teman nya sang Tuan muda juga.


"Itu privasiku, jadi kau tetap saja tidak punya hak untuk tahu." sahut Elvano dengan nada ketus. "Kenapa kau bertingkah seperti ini? Pergi sana dari pada menatapku dengan tatapan mesum seperti itu, itu membuatku sanga jijik," tambahnya.


"Karena pemandangannya cukup menyenangkan, jadi saya merasa sangat di sayangkan kalau hal seperti ini di lewatkan begitu saja.


Tapi Tuan, apakah anda benar-benar tidak mau mengurus itu dulu, itu masih berdiri, dan Vina-" Delvin yang dengan sengaja hanya mengakhiri kata dengan nama Vina, membuat Elvano langsung kembali di buat tegang, saat melihat Vina rupanya sudah ada di ambang pintu.


Akan tetapi ekspresi wajah Vina benar-benar tampak sangat terkejut juga dengan penampilannya Elvano yang masih acak-acakan itu, terutama harta miliknya yang kebetulan sedang mencuat hebat.


"M-maaf, aku salah waktu," dengan tergesa-gesa, Vina pun pergi dari sana dan meninggalkan kesan buruk pada diri Vano yang benar-benar terlihat seperti pria brengsek, karena secara tidak langsung dia melakukan pelecehan se*s*al terhadap Vina yang tidak sengaja melihatnya itu.


"Maaf, saya lupa."


"Lupa-lupa, kau sudah pikun sampai usia semuda kau, sudah main lupa segala?" tanya Elvano."Sana pergi, aku akan sarapan saat ku memang sudah lapar." mengusir Delvin pergi dari kamarnya, Elvano pun benar-benar harus menahan malu nya sendiri karena kejadian ini.


Tanpa sepatah kata, Delvin keluar dengan senyuman sinis nya, meninggalkan Tuan muda nya sendirian di dalam kamarnya.


"Kenapa Vina tiba-tiba naik ke lantai dua dan ingin menemuiku?" gumam Elvano, dia yang merasa penasaran sekaligus sudah di selimuti rasa malu, langsung menutup separuh wajah bagian bawahnya dengan telapak tangannya.


Dari situlah, Elvano pun melirik ke arah bawah, dan beranggapan kalau ini akan jadi masalah yang cukup serius untuk hubungan mereka berdua untuk ke depannya.


"Hah! Kenapa harus di saat seperti ini sih, dia melihat penampilanku yang buruk ini?" dumel Elvano terhadap dirinya sendiri.


Padahal selama ini dia mau bagaimanapun caranya, mementingkan penampilannya yang kece, setidaknya akan membuat orang lain bisa tertarik kepadanya, bahkan termasuk Vina sendiri, mengingat wanita itulah yang lebih sering bersamanya ketimbang wanita lain.


Tapi semua itu kacau balau saat pertama kalinya dirinya berpenampilan seperti itu di depan Vina.


"Dia pasti terkejut, kira-kira sekarang di matanya itu, aku sudah punya kesan apa ya?" pikir Elvano, beranjak dari tempat tidurnya, dia pun segera mendinginkan pikiran dan juga tubuhnya sendiri.


___________


'Padahal aku datang dengan niat yang baik dan sopan. Tapi berkat pintu kamarnya ternyata sudah terbuka, aku secara tidak sengaja jadi melihatnya. Hahh~ Padahal kemarin dia menjadi seorang wajah Iblis yang terlihat seperti ingin membunuhku, tapi ekspresi wajahnya tadi, kenapa dia begitu malu, sampai aku menganggapnya imut?

__ADS_1


Aku memang sudah gila, aku menganggap pemandangan tadi itu adalah sebuah berkah untukku, padahal itu seperti sebuah kutukan.


Apa yang akan dia lakukan kepadaku, karena aku secara sembarangan melihatnya?' pikir Vina panjang lebar.


Oleh karena itulah, Vina pun bergegas pergi dari lantai dua menuju lantai satu dan bersembunyi di dalam kamarnya sendiri untuk menenangkan hati dan juga pikiran?!


Tidak, dia tidak akan pergi ke dalam kamarnya, karena orang yang akan dia temui selain Elvano, karena dia sendiri gagal bertemu dengan pria itu, maka dia pun menghampiri Delvin yang sedang ada di dalam dapur.


'Wah, aku suka melihat laki-laki bisa memasak seperti itu. Di balik profesinya, dia punya keahlian lain yang membuatnya lebih menonjol.


Apakah semua anak buahnya itu di dasari dengan aturan wajah harus tampan?


Aku dari tadi hanya melihat wajah mereka yang tampak segar, terlepas dari keributan yang terjadi kemarin.' di balik dirinya sudah berdiri di balik meja, dia sesekali melirik ke arah kanan dan kiri.


Beberapa anak buah Delvin serta pelayan yang ada di sekitar rumah, berlalu lalang tanpa terlihat adanya masalah apapun dalam kehidupan mereka dalam bekerja.


'Kayanya jadi pelayan di sini, mereka benar-benar terlihat sangat makmur.' detik hati Vina.


"Apa kau ingin bicara sesuatu denganku?" satu pertanyaan pun akhirnya terlontar dari mulutnya Delvin yang sedang mencuci tangan, dan kebetulan posisinya sedang memunggungi Vina.


Delvin, pria yang punya insting yang cukup kuat.


"Ini, ke-"


"Ah~" Delvin tiba-tiba saja menyela dengan suara yang meremehkan. "Untuk masalah kedua orang tuamu, sebenarnya mereka berdua aman-aman saja, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi,"


"Tapi- video yang sempat aku lihat di handphone kakakknya Elvano itu?"


"Hanya dua orang yang menyamar jadi kedua orang tuamu, apa kau percaya dengan apa yang aku katakan ini?" tanya Delvin, dia pun langsung memutar tubuhnya ke belakang dan menatap Vina dengan sangat serius, sampai-sampai gelas yang sedang di pegang oleh Delvin, seakan terlihat sedang di genggam erat sampai pecah.


'Kenapa dia berekspresi seperti itu ya? Seram.' menelan saliva nya sendiri, Vina pun bertanya lagi, "B-bagaimana aku bis-"


Melihat sorotan mata Delvin terlihat lebih dingin dari pada yang tadi, Vina seketika jadi tahu kalau apa yang barusan Delvin katakan itu sebagai pesan apakah diri Vina percaya atau tidak, meskipun itu hanya sekedar informasi lisan saja?


Begitu menyadari maksudnya, tanpa sepatah kata lagi, Vina mengangguk paham.


"Karena kau percaya, silahkan sarapan dulu," kata Delvin, suasana dan auranya tiba-tiba berubah jadi normal lagi.


'Mau aku bilang percaya, selama tidak ada bukti, hatiku tetap saja tidak bisa percaya.


Tapi ini kan sudah jadi zaman modern, banyak tipu muslihat yang bisa di gunakan untuk mengecoh lawan. Mungkin saja yang di katakan oleh Delvin benar.


Dan jika aku memang kurang percaya, lebih baik aku bicara langsung kepada Elvano secara terpisah. Jika jawabannya sama, maka aku akan percaya?' Vina tiba-tiba saja jadi terdiam.


Kata `percaya` tiba-tiba menjadi satu titik penting, kenapa dirinya bisa meras lega jika yang mengatakannya adalah Elvano?


'Kenapa aku tiba-tiba jadi punya pikiran seperti itu? Delvin kan adalah anak buahnya Elvano yang sangat dekat, jadi dia tidak mungkin berbohong yang mengatasnamakan Elvano juga.


Tapi kenapa aku tidak sebegitu percaya apa yang dia katakan itu? Tapi aku sendiri malah akan percaya dengan mudah jika yang mengatakannya adalah Elvano?' Vina pun jadi kebingungan sendiri, sebab dia benar-benar sudah menganggap kalau Elvano adalah satu-satunya orang yang bisa Vina percaya, terlepas sebanyak apa orang yang ada di dekatnya, mengatakan hal yang sama kepadanya.

__ADS_1


Hanya ada satu orang saja yang bisa membuat hatinya bisa lebih lega, dan itu hanya Elvano seorang.


__ADS_2