
-"K-kalau soal itu, saya tidak tahu. M-maaf Tuan, saya tidak tahu itu dari negara mana, saya bahkan baru tahu rupanya ada bendera dengan warna sama tapi dari negara lain."- Dia pun akhirnya menyerah, karena dia hanya sebatas tahu soal negara dan warna benderanya saja.
Delvin yang tadinya sedikit marah karena orang yang dia ajak bicara itu benar-benar membuat jawaban yang kurang pasti, pada akhirnya Delvin pun menutup teleponnya.
"Bagaimana Tuan?" tanya dokter ini, dialah orang yang sempat merawat Elvano, melakukan operasi pengangkatan peluru di beberapa bagian tempat ditubuhnya, serta melakukan tindakan mengobatan proses penyembuhan, setidaknya selama beberapa hari saja, sampai akhirnya pria yang dia rawat, sudah lebih dulu kabur sebelum ada anak pasukan yang sedang mencarinya sampai ke tempat ke klinik tersebut.
"Walaupun temanmu mengatakan kalau dia melihat Tuanku masuk kargo penerbangan indonesia, tapi aku masih ragu, karena bendera merah putih itu bukan dari indonesia saja, tapi juga Monaco." kata Delvin sekali lagi, membuat si empu itu langsung kebingungan, sebab apa yang di katakan oleh Delvin ini memang benar adanya.
"Maaf Tuan, kalau hasilnya tidak sesuai dengan harapan anda." ucap dokter ini seraya memberikan hormat atas rasa bersalahnya.
Delvin yang tidak pernah beranggapan kalau itu adalah kesalahan, hanya berkata : "Kau tidak perlu minta maaf. Setidaknya berkat informasi dari temanmu ini, aku bisa mempersempit pencarian, antara Tuan itu pergi negara mana." jawabnya.
Delvin pun sudah berniat untuk pergi ke bandara, karena di sanalah kemungkinan besar dari data informasi yang di butuhkan oleh Delvin untuk menemukan Tuan majikannya itu, tapi sayangnya, di balik itu semua, seseorang sudah berhasil menyadap pembicaraan mereka berdua.
__________________
Kembali ke tempat di mana Elvano dan Elvina sedang dalam perjalan menuju tempat parkir di Rita super mall.
"Tolong ambilkan kartunya." pinta Vina, karena dia masih harus menjaga keseimbangan dari motornya, dia pun tidak berani melepaskan salah satu tangannya dari stang motor, dan menyuruh Elvano untuk mengambil kartu parkir yang akan keluar dari mesin.
Dan Elvano pun mengulurkan tangannya di depan sebuah mesin parkir, disitulah kartu parkir langsung keluar dari mulut mesin.
"Sudah." Jawabnya.
__ADS_1
Setelah itu, Vina pun kembali mengendarai motornya untuk masuk kedalam area parkir motor yang cukup luas itu.
Dia mencari-cari tempa parkir yang masih kosong, tentunya dan berhasil menemukannya, dia akhirnya menghentikan motornya.
'Huhhh...berat, jelas, ini cukup berat. Kalau seandainya Elvano tidak ikut, aku pasti hanya membawa barangnya saja. Tapi ya sudahlah, anggap saja ini keberuntungan karena aku bisa punya teman untuk pergi berkeliling seperti ini.
Dan karena Elvano juga pada dasarnya tampan, tinggi, walaupun tidak sesuai dengan citranya, dia malah naik motor denganku, tapi mereka semua pasti berpikir kita sepasang kekasih?
Hehehe, ambil kesempatan dalam peluang besar seperti ini. Lagi pula, sangat jarang kan, atau tepatnya ini pertama kalinya aku pergi dengan seorang pria.
Ambil hikmahnya saja di balik aku harus menyetir motor dengan keras, lelah dan panasan seperti ini, aku membawa seorang bule.'
"Ayo, itu tinggal saja di situ." Kata Vani terhadap Vano yang masih memegang kantong plastik besar yang berisi barang serta bunga yang sempat dia beli di toko tadi.
"Kalau ada yang mencuri, berarti dia yang dapat dosa." cetus Vina. Walaupun agak was-was, tapi karena selama ini tidak pernah mendapati kesialan yang namanya pencurian seperti itu, Vina pun tetap meninggalkan barang belanjaan sebelumnya itu di motor.
"Kau wanita aneh ya?" Tanya Vano dengan senyuman mencibirnya.
Padahal banyak diantara mereka yang cukup was-was untuk meninggalkan barang sembarangan di luar, tapi Vina justru membiarkannya begitu saja. Bagi Vao, Vina adalah wanita yang paling aneh yang dia temui.
Ya, walaupun ingatan miliknya hilang, tapi Vano sejujurnya merasakan kalau sebelum-sebelum ini dirinya pasti sudah banyak bertemu dengan macam wanita, tapi dari sekian banyaknya wanita yang dia temui, justru Vina lah yang merasa cukup unik, aneh, dan selalu berhasil menarik perhatiannya.
"Aneh gimana maksudnya?" Tanya balik Vina seraya mengambil kantong plastik itu dari tangan Vano, dan meletakkannya di depan motornya, lalu dia pun dengan sengaja menjembreng jas hujan dan menutupinya.
__ADS_1
Karena wilayah itu adalah daerah yang sering kali hujan jika menjelang siang dan sore, dia hanya berusaha mengantisipasi kantong plastik itu basah secara langsung.
Dan tentu saja, untuk mencegah dari mereka berdua terkena hujan, jika memang benar-benar hujan, Vina pun sudah membawa payung lipat di dalam tas kecilnya, walaupun hanya satu saja.
"Kau hidup dan mengabaikan apapun yang di sekitarmu seolah-olah itu bukan hal yang penting. Jadi, menurutku aneh saja, ketika banyak orang begitu memikirkan apa yang mereka dengar, dan apa yang harus di lindungi, kau justru hidup seolah tidak ada apapun di sekitarmu." jelas Vano, karena merasa gerah, dia pun sempat melepaskan jaketnya dan meletakkannya di dalam jok motor, lalu dia mengikuti Vina pergi.
Sedangkan Vina, dia justru tersenyum mencibir karena apa yang di katakan oleh Vano, memang ada benarnya.
"Jika menurutmu aku memang seperti itu, apa kau akan menganggap aku sebagai orang yang seperti apa? Orang yang tidak punya perasaan? Terutama pada diri sendiri? Begitu?"
Vano sempat melirik perempuan yang ada di sampingnya itu, karena merasa perjalanan untuk sampai ke pintu gedung mall lumayan jauh, Vano menyimpan kedua tangannya di dalam saku dari hoodie nya, dan menjawab : "Walaupun aku memang ingin bilang seperti itu, tapi tidak akan gunanya juga aku berbohong. Hanya saja, menurutku memang bagus juga sih, setidaknya kau tidak perlu memikirkan dari para lalat seperti tadi.
Tapi setidaknya, kalau kau ingin tidak ada lagi yang mengataimu sep-"
"Ujung-ujungnya aku bisa di katai seperti itu, itu karena keberadaanmu saja Elvano."
DEG....
Mendengar namanya kembali di panggil dengan mulutnya Vina, entah kenapa tiba-tiba saja dirinya seperti mendapatkan satu sengatan yang tidak tahu asalnya dari mana.
Maka dari itu, Vano pun terdiam sejenak seraya menata hatinya untuk menghadapi perempuan di sampingnya itu.
"Vina, sebaiknya kau tahan saja, abaikan semua yang kau dengar, apapun itu, dan lebih bagus untuk fokus saja pada tujuanmu, itu adalah yang terbaik untukmu." kata Vano kepada Vina.
__ADS_1