
-"Tuan, saya adalah Asbang anda,"-
Elvano yang baru saja dihubungi oleh seseorang yang mengatakan dirinya adalah Asbang, sontak jadi bingung. 'Asbang?'
Karena dia tidak tahu apa itu Asbang, dia pun langsung menjauhkan handphonenya dari telinganya.
Di sana pun tertera nama Asbang (Asisten Bayang)
'Delvin ini jeli juga kalau aku tidak tahu apa itu Asbang, untung saja aku jadi tahu Asbang itu apa tanpa perlu bertanya kepada orang ini.' kata hati Elvano, dia merasa lega karena dia jadi tidak perlu mempermalukan dirinya sendiri karena hanya tidak tahu apa itu Asbang.
"Ada apa kau menghubungiku?"
-"Jadi ini benar-benar Tuan?"-
"Hei, kau pikir aku ini hantu ya? Aku benar-benar Tuanmu, aku masih hidup dan sebaiknya cepat katakan apa yang ingin kau katakan kepadaku, karena aku harus pergi sekarang, jadi tidak punya waktu untuk bicara,"
-"Maaf, saya hanya terlalu bahagia saja, karena anda akhirnya selamat dari ambang kematian itu,"-
"Dari kata-katamu aku sepertinya harus bertemu denganmu lebih dulu, agara komunikasi kita aman. Maksudnya aku pikir bisa saja ada orang di sekitar yang akan meretas dan menguping pembicaraan kita." Walaupun ia tidak punya segala ingatan dari kehidupan sebelumnya, tapi karena ia merasa cukup familiar dengan posisi dimana dirinya harus bercanda atau waspada, dia pun jadi tidak gampang di curigai, apalagi oleh si Asbang ini.
DEG....
-"Ok, itu tidak masalah, jadi kira-kira pertemuannya itu kapan?"- tanya pria yang ada di ujung telepon.
"Besok. Aku perlu waktu untuk bisa kembali ke Paris, jadi paling tidak besok sore," jawabnya. Kalau saja ada pintu ajaib seperti pintu kemana saja milik doraemon, sebenarnya Elavno sangat ingin bisa langsung sampai di tempat dimana Vina di sekap.
Tapi karena tidak ada hal yang seperti itu, dia pun harus terus bersabar, agar rencana untuk misi penyelamatan Vina bisa di lakukan dengan lancar.
"Intinya nanti akan aku hubungi lagi jika aku sudah sampai di sana,"
-"Baik Tuan, akan saya tunggu kedatangan anda,"-
TUT....
"Tuan, mari kita berangkat, tidak ada yang tertinggal kan?" Delvin bertanya sambil memasukkan handphone nya lagi kedalam saku jas.
"Palingan jejak kaki, ayo, aku tidak ingin terlalu lama di sini. Jika aku lebih lama lagi berada di sini, aku yakin yang aku tempati ini bukanlah rumah sakit medis, tapi rumah sakit jiwa," sindirnya.
Karena selama lebih dari seminggu dirinya benar-benar berada di dalam rumah sakit terus atas dasar perawatan intensif, Elvano sudah merasa bosan setengah mati.
Maka dari itu, ketika tahu kalau Vina di culik oleh anak buahnya Arthur, itu pun jadi kesempatan baginya untuk bisa keluar dari rumah sakit dan menghindari banyak tes serta pemeriksaan lain.
__ADS_1
Walaupun sebenarnya pemeriksaan itu penting, tapi sayangnya karena yang menjadi taruhannya kali ini adalah nyawa orang lain, jadi dia mau tidak mau pun harus segera pergi menyelamatkan Vina secepatnya.
Apalagi mengingat kalau ternyata itu adalah kejadian dari satu minggu yang lalu, Elvano pun benar-benar merasa sangat terpukul, dan sekaligus harus menelan kenyataan yang paling pahit, karena gara-gara dirinya Vina jadi kena imbasnya juga.
Maka dari itu, Vano pun jadinya sangat bersalah kepada Vina karena terlambat mengetahuinya.
'Vina, tunggu aku, aku akan menyelamatkanmu,' detik hati Vano, lalu dia bersama dengan Delvin pun pergi dari sana untuk menuju ke bandara dan pulang ke tanah air mereka yang berada di perancis.
____________
"Uhuk...uhukkk...uhuukkk..dingin." gumam Vina. Dia sekarang pun benar-benar meringkuk kedinginan di lantai yang hanya beralaskan kardus bekas.
Dengan tempat yang gelap, bau, dingin, dan sangat sunyi, Vina sudah kedinginan sekaligus menggigil setengah mati.
Dia serasa kalau dirinya berada di situ lebih lama lagi, ia yakin kalau tidak lama lagi akan mati membeku. Apalagi di tambah dengan perutnya yang begitu sakit, dada yang sakit, serta tenggorokan yang kering, semua siksaan itu sangat menggerus mentalnya yang perlahan menipis seiring berjalannya waktu, dimana dia sekarang sendirian tanpa ada kata sayup-sayup suara jangkrik untuk sekedar menemaninya.
"Apa aku akan mati disi ini? Vano, tolong aku, aku sangat ingin sekali bisa keluar dari sini." lirih Vina, suaranya benar-benar sudah tidak bisa keluar dari mulutnya selain gerak bibirnya saja.
Sudah sekitar lima jam dari terakhir dirinya mendapatkan penerangan dari lampu yang bisa saja jadi peneman tidurnya, karena jika tidak di matikan, dirinya tidak akan merasa kalau dirinya sendirian saja di situ.
Sungguh, itu adalah siksaan penuh mental. Yang mentalnya tipis, sudah langsung pingsan, tapi Vina yang memang sama-sama tipis bagaikan tisu, dia hanya bisa di katakan tidak sadar karena tertidur.
Musuh terbesarnya saat malam yang gelap dan dingin ini muncul, maka makhluk hitam itu pun akan muncul untuk mencari mangsanya, dan mangsa yang paling empuk sekarang, itu adalah Vina sendiri.
Cit...Cit....Cit...
Sontak Vina pun jadi ketakutan, dia terkejut sampai dia harus langsung bangun dari tempat dia berbaring.
'D-dimana itu?' Vina sangat tidak tahu apapun yang ada di sekitarnya, saking gelapnya.
Cit...cit...cit...
'Kyaa!' teriak Vina dalam hati, ketika tangannya tiba-tiba ada hewan yang baru saja melintas dengan gerakan yang cukup cepat. 'Tidak! Aku tidak mau di gigit lagi! Aku takut, aku takut, huhuhu....kenapa aku terus disini? Kenapa mereka benar-benar kejam kepadaku? Padahal aku saja tidak pernah berbuat buruk kepada orang lain, tapi kenapa aku di balas dengan ujian yang sangat sulit seperti ini?' racau Vina dalam benak hatinya.
Bukan hanya tikus saja, bahkan kecoa pun ada dan sempat merayap di tangan ataupun kakinya.
'Huwaah!' dengan gerakan cepat gara-gara terkejut, dia pun jadinya langsung merubah posisinya untuk tidak di sana lagi.
Cit...
'Akkhh!' teriak Vina dalam hatinya lagi. Dia benar-benar sangat ketakutan, betapa mengejutkannya saat tikus itu tiba-tiba jatuh dan menimpa kepalanya. 'Aku benar-benar tidak bisa melihat apapun, apa aku akan buta jika aku terus berada di kegelapan seperti ini?' tiba-tiba hatinya pun merasa cemas.
__ADS_1
Ya, sebenarnya dia sudah merasa cemas dengan segala hal. Baik itu tangan, kaki, mulut, tenggorokan, mata, dan bahkan di dalam dadanya, semuanya bermasalah, dan membuatnya terus berpikir kalau ia hanya tinggal mendapatkan ajalnya saja.
JDERRR...!
"Kyaa!" Teriakan terakhirnya itu langsung membuat Vina refleks langsung berdiri dan tidak sengaja dia pun menyundul sebuah kayu yang ada di atasnya, hingga di dalam kegelapan yang tidak bisa di lihat dengan mata telanjang itu, menjadi siksaan paling berat untuk Vina, karena kayu yang ada di atas lemari kecil tapi membentang sedikit mengarah ke arahnya, membuat kayu itu malah menimpa tubuhnya.
BRUKK...
Dan suara keras itu pun terus berlangsung beberapa saat di dalam gudang, tanpa ada orang yang mengetahui apa yang terjadi di dam sana.
_____________
"Hoammh, ini sudah jam satu, waktunya gantian," ucap pria ini, dia yang sudah mengantuk sampai menguap lebar, langsung pergi mencari rekannya yang lain untuk menggantikan posisinya untuk berjaga di pintu pabrik.
"Sana, cepat cari penggantimu dan suruh dia kesini, aku malas sekali sendirian." pinta rekannya ini.
"Eleh, bilang saja kalau kau takut sendirian, ya kan?" ucapnya tanpa menatap lawan bicaranya.
"SIalan lo, cepat sana pergi!" kesal dengan tingkah dari temannya itu, dia pun langsung mengambil batu secara random dan langsung melempar ke arah temannya tadi.
BUKK...
"Ih! Sakit tahu!" teriaknya dengan begitu lantang.
"Hahaha, ternyata kena ya? Padahal aku melemparnya sembarangan," tawanya pun sampai lepas, karena lemparannya benar-benar tepat sasaran.
Tapi, begitu temannya itu sudah pergi jauh, dia pun akhirnya jadi sendirian di sana.
WUSHHH~
Sayup-sayup angin yang datang itu pun berhembus dengan cukup kencang.
Anak buah Arthur yang berjaga di depan pintu pabrik sendirian saja itu, tiba-tiba saja jadi merasa merinding sendiri.
"Auuuhhh...!"
"Hah? Bukannya itu suara lolongan serigala? Tapi- tidak mungkin, masa hutan ini ada serigalanya sih? Pasti hanya khayalanku saja," ucapnya, mencoba untuk memberanikan dirinya sendiri, kalau sekarang apalagi di hutan yang sudah di beri pagar tinggi di sepanjang tiga kilometer di dalam hutan sana, membuatnya yakin, kalau tidak mungkin ada serigala yang akan datang ke kawasan wilayah pribadi dari Travers itu.
Tapi, siapa yang tahu kalau serigalanya cerdik kan?
"Hiii! Kenapa aku jadi merinding kalau akan ada serigala yang akan datang kesini?" gerutunya, masih menyiratkan ekspresi wajahnya yang penuh dengan ketakutan.
__ADS_1