
"Vina apakah sudah siap?" tanya Vano, senyumannya bahkan tidak pernah di tinggalkan di sembarang tempat, membuat Vina memang selalu saja terpengaruh dengan sosok pria ini.
"Siap untuk apa?" tanya Vina dengan polosnya.
"Masa baru sebentar tapi sudah lupa ya? Makan atau mau jalan kencan sebentar?" tanya elvano sambil menggoda si pemanis buatan itu.
Vina yang tidak bisa menahan godaan dari Elvano ini hanya bisa diam sampai tersenyum-senyum sendiri, bahkan karena dia tidak bisa menahannya lagi, kedua tangannya pun langsung menutup mulutnya lalu langsung memunggungi pria itu sambil tertawa girang dalam diam.
"Aku pikir kita akan pulang saja," Vina sendiri memang berpikiran kalau mereka berdua akan pulang ke rumah sakit.
"Masa sudah cantik-cantik begitu mau pulang kurang sempurna tahu. Tapi ngomong-ngomong apa kau bisa jalan dengan menggunakan sepatu itu?" sengaja merubah topik pembicaraannya agar Vina bisa fokus dan tidak malu-malu dengannya, dia pun membicarakan soal sepatu yang dipakai oleh Vina.
Bagi Elvano sendiri sepatu itu memang cocok dan bahkan membuat sepasang kakinya Vina jadi terlihat jenjang. Namun di sini kembali lagi pada orang yang memakainya.
Apakah merasa nyaman atau tidak, Vina lah yang menentukannya.
Dan Vano pun jadinya harus di buat lebih peka lagi dalam detail kecil seperti itu.
Lalu Vina dengan jujur pun menggelengkan kepalanya, "M-maaf aku tidak bisa menggunakan sepatu seperti ini. Rasanya aku memang jadi terlihat lebih tinggi. Tapi untuk orang sepertiku yang tidak tahu cara menggunakan sepatu hak tinggi seperti ini, justru sangat beresiko." jawab Vina dengan terus terang agar dirinya juga bisa merasa nyaman tanpa harus menahan diri merasakan siksa dari sepasang sepatu cantik itu.
Mendengar hal tersebut Elvano pun langsung menatap ketiga orang pegawai seorang itu agar mencarikan setidaknya sepatu yang cocok agar Vina bisa memakainya dengan leluasa tanpa merasa was-was jika keseleo.
Melihat hal tersebut, mereka yang peka, segera pergi mencarikan ukuran yang pas tapi dengan desain sepatu yang tetap terlihat mewah, namun tetap nyaman untuk dipakai oleh Vina.
"Bagaimana dengan ini Nona?" satu orang menawarkan sepatu selop yang ternyata di hiasi dengan pernak-pernik payet yang membentuk sebuah daun dan juga bunga.
__ADS_1
"Kalau sepatu biasa saja boleh?"
Mereka semua saling pandang satu sama lain, karena Vina ternyata meminta sepatu biasa.
"Akan saya ambilkan." jawab salah satu pegawai tersebut.
"Padahal itu sepatu cantik, tapi kenapa kau tidak mau itu?" tanya Vano penasaran dengan alasan dari desain sepatu itu yang ternyata di tolak oleh Vina.
"Aku takut itu terlalu mahal. Tunggu-" Vina langsung diam mematung, dan melihat ke arah cermin. Penampilannya sekarang ini benar-benar cukup berbeda jauh dari yang tadi, dan yang lebih mencengangkan lagi adalah ketika dirinya bahkan harus berganti pakaian. "Ini pakaian apakah aku harus memakainya? Lalu pakaan yang tadi bagaimana? Aku lebih baik pakai pakaian yang tadi saja, kan lebih leluasa untuk bergerak. Dari pada ini, a-aku takut-"
Vina melirik ke awah bawah, dimana pakaiannya sungguh pendek. Dia jadi seperti bukan dirinya sendiri.
"Kalau rok ini berkibar karena angin, bagaimana? Bukannya aku sama saja mengumbar auratku ya? Maaf, hanya saja ini kurang nyaman, aku tidak terbiasa memakai rok pendek seperti ini di muka umum." suara milik Vina pun jadi semakin lirih, dan merasa menyesal karena harus bicara hal yang membuat Vano dan ketiga pegawai salon itu kecewa, karena penampilannya itu, bagi Vina serasa kurang cocok padanya.
Bukannya marah atau merasa kesal karena perintahnya di rubah, mereka justru merasa senang, karena apa yang keluar dari mulutnya Vano, memperlihatkan kalau Vano sangat memperhatikan Vina yang mereka anggap sebagai kekasih dari Tuan muda tersebut yang baru.
"Kami akan melaksanakannya Tuan." jawab mereka serentak, lalu dia pun menyeret Vina pergi dari sana untuk berganti pakaian lagi.
Tidak perlu waktu lama, karena hanya berganti pakaian, Vina akhirnya kembali memakai pakaiannya yang pertama.
"Sudah kan?" tanya Vano.
"Lalu bayarannya?" Vina pun melepaskan anting yang dia pakai, dan memberikannya kepada pegawai tersebut. Tidak hanya anting-antingnya saja. "Ini, nanti sisanya akan aku bayar di kemudian hari." imbuh Vina.
"...!" pemilik dari salon itu pun jadinya kebingungan dengan kedua anting yang dia dapatkan dari Vina.
__ADS_1
Vano sendiri hanya memberikan kode, agar perhiasan itu di pegang dulu. Dan dia pun di berikan anggukan sebagai tanda paham.
"Ayo pergi makan, aku memang sudah lapar sih." kata Vina, dia pun mengikuti Vano keluar dari salon.
_________
Di sisi lain tepatnya di sebuah salah satu faktor bintang 5 yang terletak di kota Paris.
Seorang wanita baru saja menyelesaikan ritualnya untuk membersihkan tubuhnya. Hanya dengan bermodalkan handuk kimono yang dipakainya, wanita berambut pirang ini pun langsung berdiri di depan lemari untuk mencari baju yang kira-kira cocok untuk dipakai dia hari ini karena hari ini dia akan pergi keluar mencari seseorang yang selama ini ingin dia temui.
tok tok tok
Suara ketukan pintu pun terdengar membuat wanita tersebut langsung menoleh ke sumber suara dan berkata masuk
"Maafkan saya jika mengganggu konsentrasi anda memilih pakaian, tapi ini ada sebuah undangan pesta untuk anda." ucap pelayan tersebut sebenarnya berjalan melangkah masuk ke dalam kamar dan menyerahkan sebuah undangan berwarna hitam dengan desain bunga berwarna emas.
"Ternyata dia, kau boleh keluar." kata wanita ini seraya mau buka amplop tersebut.
Terpampang dengan jelas kalau undangan itu adalah undangan reuni sekolah yang akan diadakan 5 hari lagi.
"Semoga saja aku sekarang bisa bertemu dengan Elvano, jadi aku bisa pergi bersama dengannya dan memamerkan kalau aku punya pacar seperti Elvano yang cukup tampan sehingga banyak dari mereka yang akan merasa sangat iri kepadaku, karena aku punya pacar yang tidak tanggung-tanggung." ucap wanita tersebut lalu dia pun meletakkan undangan itu ke dalam laci dan kembali memilih pakaian yang akan ia gunakan. "Nah, sepertinya ini pilihan yang cukup bagus." gumam wanita ini, lalu dia pun mencoba berdiri di depan cermin dan melihat baju yang akan dia gunakan saat reuni nanti, akan dia cocokkan dengan setelah jas yang akan dia berikan kepada Elvano nanti.
5 menit kemudian dia sudah berpakaian dengan rapi. karena didukung dengan tubuhnya yang cukup sintal, diam memakai pakaian yang cukup seksi agar dirinya bisa menjadi pusat perhatian.
"Elvano Tunggu saja aku kita akan bertemu lagi dan membahas soal pertunangan kita."
__ADS_1