
'Gara-gara dia bicara seperti itu, tiba-tiba pikiranku jadi traveling.' decih Vina, jadi agak terbebani dengan semua ucapannya Delvin barusan.
Maka dari itu, demi menghindari suasana yang lebih canggung lagi, Vina pun segera menjauhi Delvin yang terus menatap dirinya seperti seorang target yang sedang memburu mangsanya.
"Kau disini saja, akan aku ambilkan pakaian untukmu," ucap Delvin dengan cukup mendadak.
'Eh?' Vina yang terkejut dengan Delvin yang tiba-tiba saja langsung pergi dari hadapannya dengan alasan mencarikannya pakaian, sontak membuat Vina terdiam sejenak sebelum dirinya akhirnya dilempari satu setel pakaian, celana panjang beserta kaos serta blazer untuknya.
"Pakai itu, lalu kita harus pergi dari sini sesegera mungkin," pinta Delvin, dan dengan santainya, Delvin pergi menuju dapur untuk mengambil minuman dingin yang tersimpan di dalam kulkas.
____________
Di luar gedung.
Setelah menyusuri jalanan di kota metropolitan, Elvano akhirnya sampai di depan gedung apartemen miliknya yang masih terbakar itu.
"Vina, apa dia masih ada di sana?" gumam Vano seraya mendongak ke atas.
"Uhuk ... Uhuk ... , Tuan, apa yang Tuan muda lakukan disini? Disini itu berbahaya," kata salah satu anak buahnya Elvano yang bekerja dan menyamar sebagai seorang karyawan di gedung tersebut.
"Apa kau melihat Delvin dan Vina keluar dari sini?" tanya Elvano dengan penuh harap.
Pria ini lantas menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Tidak Tuan. Saya mohon maaf, karena insiden ini sangat berbahaya untuk kami dalam mengevakuasi Tuan dan Nona, jadi kami tidak bisa pergi ke sana," jelas anak buahnya Elvano ini.
Penjelasan dari anak buahnya itu pun memang sudah cukup jelas, karena tidak mungkin akan ada orang yang rela masuk kedalam kobaran api, apalagi di tengah-tengah ketegangan yang terjadi akibat dari bom yang di lakukan oleh anak buah dari kakaknya Elvano itu.
"Apa anda sudah menghubungi Tuan Delvin?" tanyanya.
__ADS_1
"Nomornya sama sekali tidak bisa aku hubungi, coba selidiki apa ada yang mencurigakan? Dia biasanya sudah mempersiapkan sesuatu yang tidak pernah aku ketahui," perintah Elvano terhadap anak buahnya tersebut.
Walaupun sekarang sedang dalam kondisi yang cukup sulit untuk bergerak, karena banyaknya orang yang harus di tangani, tapi mereka yang konsisten bekerja di bawah Tuan muda kedua, tetap melakukan pekerjaannya dengan sebaik mungkin, entah apapun rintangan yang harus mereka hadapi.
"Baik, saya akan mencoba melacak Tuan Delvin," jawabnya.
Elvano yang tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari gedung miliknya yang terbakar itu, hanya diam sembari mendengarkan suara isak tangis, jeritan histeris, serta suara penuh pilu yang terus mengisi suasana kacau tersebut.
Banyak dari mereka yang merasa syok dengan kejadian tersebut.
Entah berapa kerugian yang akan dia dapatkan, Elvano hanya punya satu harapan saja, yaitu dua orang yang dia harapkan itu bisa selamat.
"Vina, kau harus selamat, ada dua orang tua yang sebenarnya terus menunggumu di rumah. Aku jamin, setelah ini selesai, aku akan mengembalikanmu ke negaramu," ungkap Elvano dalam benak hatinya.
Sungguh, dia sama sekali tidak punya niatan untuk menyeret Vina kedalam masalah pribadinya.
Tapi apa boleh buat? Sudah hampir satu bulan berlalu, dan jalan yang Vano pilih pada akhirnya membuat Vina akan terus terlibat dalam masalah internal miliknya. Setidaknya sampai masalah diantara dirinya dengan kakaknya selesai, Vano pun sudah bertekad untuk melindungi Vina berada di sisinya.
Menatap langit dengan tatapan yang begitu sendu, Elvano pun merasa kalau semua insiden yang membuat diantara mereka berdua hampir menjemput ajal, adalah takdir yang membuat mereka berdua jadi di pertemukan dalam banyak kejadian.
DRRTT....
Mendapatkan panggilan dari salah satu anak buahnya, Elvano langsung mengangkatnya. "Bagaimana?" tanyanya.
-"Saya sudah menemukan jalur pelarian mereka berdua Tuan. Mereka pergi ke gedung tower empat, jadi masih ada kemungkinan untuk bertemu, jika kita mengepungnya,"- ungkap anak buahnya Elvano ini, menjelaskan situasi terkini yang dia dapatkan setelah menyelidiki sekitar area gedung di sana.
Seperti mendapatkan harapan, Elvano menyahut. "Temui mereka berdua dan bawa mereka ke rumah di jalan xxx dengan jalur palarian yang akan aku berikan kepadamu,"
__ADS_1
-"Baik Tuan, saya akan melakukannya,"- jawabnya.
Sekalipun menjalankan tugas yang di perintahkan oleh sang Tuan muda adalah tugas yang cukup berbahaya, tapi demi mengabulkan harapan dari orang yang pernah menyelamatkannya, dia pun tetap akan mendedikasikan hidup dan waktunya untuk melayani sang Tuan muda Elvano tersebut.
Setelah pembicaraan diantara mereka berdua selesai, Vano pun menutup teleponnya dan kembali melihat betapa giatnya para pemadam kebakaran untuk menghentikan api yang berkobar si sisi selatan dari gedung apartemen tersebut.
"Gara-gara kakak, aku harus menanggung ganti rugi yang banyak. Apa dia sekarang ini sedang tertawa bahagia karena mengira Vina sudah mati?" melirik ke arah salah satu gedung bertingkat yang lumayan jauh dari tempat Vano berdiri, dengan bantuan dari kamera handphone miliknya, Vano pun melihat sosok satu orang pria yang sedang berdiri di atas ruftoop dari gedung kantor. 'Abel? Pantas saja kejadian ini begitu heboh, Dia memang benar-benar melakukan pekerjaannya dengan totalitas.
Aku harap, saat masalah ini selesai, kau bisa bertanggung jawab penuh dengan gedung apartemen kesayanganku ini, Abel.'
Dengan perasaan yang sudah jengkel sendiri, karena punya lawan yang begitu merepotkan seperti Abel, Elvano pun berekspresi cukup datar.
________
Sedangkan Abel sendiri, dia hanya berdiam diri, menatap Elvano dari tempatnya dengan bantuan teropongnya.
WHUSSH~
"Dia pada dasarnya memang tidak bisa di remehkan, dengan cepat langsung menemukan keberadaanku. Apa nanti aku harus berhadapan dengan dia?" Abel yang berada di atas gedung perkantoran, hanya menatap sekumpulan manusia yang terlihat kecil seperti semut itu dengan tatapan bosan.
Meskipun, dia berhasil membuat kehebohan yang menciptakan kepanikan di salah satu sudut kota metropolitan, akan tetapi Abel sadar, kalau dia tdiak merasa memiliki rasa senang yang begitu berarti.
"Vina," panggil Abel dengan lirih. Satu kalimat yang terucap lewat bibirnya itu pun menciptakan satu waktu yang membuat Abel seketika masuk dalam nostalgia yang pernah dia buat secara mendadak, dan itu adalah sebuah ciuman. "Padahal, sudah satu bulan lebih, tapi aku masih saja bisa merasakan bibir itu.
Dia benar-benar membuatku terus kepikiran." kutuk Abel dengan ekspresi wajahnya yang benar-benar suram, sebab dari sekian banyak wanita yang pernah dia cium bibirnya, hanya satu saja yang membuatnya masih menyisakan sentuhan lembut itu, dan itu adalah ketika dirinya mencium bibirnya Vina secara mendadak di waktu sore itu. "Apakah itu ciuman pertamanya?"
Abel mencoba berpikir sejenak, sampai senyuman mencibir, tersungging dengan bentuk yang cukup memuakkan.
__ADS_1
"Heh, sayangnya aku tidak punya kesempatan untuk menjadikan dia mainan lebih dulu," dumel Abel seraya menatap jauh keberadaan dari Elvano yang ada di bawah sana.