Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Saran Berbuah Keputusan


__ADS_3

Pistol yang di pegang oleh Arthur langsung terlepas dari tangannya, dan darah yang keluar dari lengan kanannya Arthur berhasil menciprat dan mendarat ke wajahnya Vina yang ada di bawahnya.


"Katanya kau ingin membunuhku, lalu kenapa kau hanya menembak sebatas untuk menggores tanganku saja? Apa kau takut? Ternyata adikku itu adalah seorang pengecut ya~" padahal dirinya sudah cukup terluka dengan hasil tembakan dari peluru yang menyerempet itu.


Tapi Arthur itu tipe orang yang suka memprovokasi orang, maka dari itu dia pun benar-benar tidak menyesali meskipun sekarang tangannya jadi kembali terluka setelah satu bulan berlalu dia berhasil membuat lengannya sembuh dari tembakan yang dia dapatkan terakhir kali saat sebelum Elvano di nyatakan menghilang setelah tertembak.


Elvano menggertakkan giginya sampai pistol yang di pegang nya itu gemetar. Sedakan Vina yang masih punya sisa kesadaran, tiba-tiba menyela. "Itu karena dia masih sayang padamu,"


Mendengar ucapannya Vina, mereka berdua langsung membuka mata mereka berdua lebar-lebar.


"Apa?" tanya Arthur dan Elvano secara serentak.


Dengan senyuman yang dari sedikit tenaga dan kesadarannya yang tersisa, Vina berkata lagi, "Kalian berdua kan...., saudara, apa tidak ada diantara kalian berdua merasa saling menyayangi saja?


Jika itu perebutan kekuasaan, meskipun ini hanya tebakan, jika kalian berdua ..., sama-sama menginginkan posisi itu, kenapa tidak bergantian saja? Yah, setidaknya ...., jika .... hal itu terwujud, maka ...., tidak akan ada la-gi yang nama-nya per-tumpahan darah, kan?" begitu dia berbicara seperti itu, tepat setelah senyuman simpul itu terukir sambil melihat ekspresi wajah Vano yang sedang terkejut, saat itu juga kesadarannya Vina pun jadi menghilang.


"Memangnya aku sudi, membagi posisi dengan adikku sendiri?" gerutu Arthur, dia sama sekali tidak menginginkan pembagian posisi dengan adiknya.


"Vina!" tapi Arthur yang tidak menyadari Vina yang sudah menutup mata, Elvano langsung menghampiri Vina dan mendorong Arthur dengan sangat kasar dari atas tubuhnya Vina. "Minggir! Apa yang sudah kau lakukan kepadanya?! Apa yang sudah kau beri kepadanya?!"


"Hanya obat,"


"Obat apa?" tanya Elvano, kali ini nadanya begitu sangat dingin sampai seluruh kamar itu terasa ikutan jadi dingin juga, dan Arthur sangat merasakan aura yang keluar dari tubuh adiknya itu benar-benar sudah seperti ingin membunuhnya.


Tapi demi memperlihatkan kalau dirinya sama sekali tidak takut dengan apa yang di pancarkan oleh Elvano kepadanya, dia hanya tersenyum miring dan menjawab seadanya saja, "Aku hanya ingin bermain-main dengannya, dengan obat perangsang yang kebetulan sekali aku bawa.


Kenapa? Apa sikapmu kali ini jadi awal kalau kau benar-benar menyukainya dan akhirnya kau tergoda dengan wanita itu?


Elvano, seleramu sekarang benar-benar sangat kampungan sekali ya, persis seperti wanita yang kau gendong itu," ejek Arthur dengan sangat sengaja.


"Apa? Kau menggunakan obat itu padanya?" marah sudah berada di puncak ubun-ubun, Elvano langsung menginjak tangannya Arthur dengan sangat sengaja ketika Elvano berjalan pergi keluar dari kamar tersebut.


"Akhh!" Arthur langsung merintih kesakitan, "Hanya bisa marah saja? Katanya kau ingin membunuhku, kan? Apa nyalimu akhirnya sudah jadi setipis tisu?" tanya Arthur, dia lagi-lagi memprovokasi Elvano.


Elvano yang masih marah, tadinya hanya diam saja. Tapi setelah mendengar ejekan kasar dari kakaknya sendiri, seketika Elvano menghentikan langkah kakinya, tanpa mengalihkan perhatiannya dari pintu yang ada di depannya itu, Vano pun menjawab, "Seperti yang dia katakan, aku sebenarnya masih menyayangimu.


Jadi sebagai kepala keluarga Travers aku akan memberikanmu kesempatan untuk mencicipi rasanya berada di posisiku sesuai yang kau harapkan dari awal kita bertengkar. Apa kau mau mengambilnya? Kakak?"


Seperti menjadi orang lain yang memiliki pikiran begitu jauh, Elvano memberikan pertanyaan berisi tawaran itu dengan begitu tenang, tapi juga sangat serius, sampai tatapan mata elangnya seketika langsung menusuk ke dalam harga dirinya Arthur, yang kenyataannya dari awal terus terobsesi ingin menjadi kepala keluarga Travers atas dasar status, dan kekuasaan saja.


Sebuah tatapan mata yang menyiratkan kalau Elvano jauh lebih tahu apa yang sebenarnya di inginkan oleh kakaknya itu, yaitu hanya sekedar obsesi belaka, menginginkan status tinggi, posisi, kekayaan, dan semuanya tanpa tahu di balik posisi itu sendiri, banyak sekali tugas yang harus di emban.


"Kalau kakak mau, aku bisa memberikanmu kesempatan kurang lebih satu bulan. Membuatmu merasakan berada di posisiku, dan menjalankan semua tugas yang seharusnya di lakukan oleh seorang kepala keluarga.


Aku berikan satu kali dua puluh empat jam. Tapi, jika ada apa-apa dengan Vina, berkat obat yang kau minumkan padanya, tawaran ini jelas akan berakhir saat itu juga." begitu Elvano menjelaskan situasi diantara mereka bertiga, Elvano pun pada akhirnya pergi dari sana, tepat begitu seseorang membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


KLEK...


Pintu kembali tertutup, saat itu pula Arthur masih terdiam di tempatnya sambil memegang lengan tangan kanannya yang kena luka gores dari peluru tadi. 'Dia, tiba-tiba memberikanku kesempatan seperti itu hanya karena usulan dari wanita itu? Bukannya ini jadi terlalu mudah untuk mendapatkan posisi yang dari dulu aku inginkan?' pikirnya.


_____________


Langkah kakinya sangat cepat, dia berlari untuk membawa tubuh Vina pergi?


Di saat Elvano akan membawa Vina pergi ke rumah sakit, tiba-tiba Vina terbangun.


"Kau mau membawaku kemana?" lirih Vina, matanya sayu untuk menatap wajahnya Elvano yang tampak khawatir.


"Kau bangun? Apa kau baik-"


"Aku sama sekali tidak baik-baik saja," jawabnya dengan menggelengkan kepalanya. "Tapi- apakah obat ini memang membuat tubuhku merasa seperti ini?" tanyanya.


Dengan berat hati, Elvano pun menjawabnya, "Efeknya memang seperti itu, aku akan membawamu ke rumah sakit-"


"Tidak usah, lebih baik berendam saja," pinta Vina, dia menatap wajah Vano dengan penuh harap, agar dia tidak di bawa ke rumah sakit, karena dia sama sekali tidak begitu menginginkannya.


"Vina, itu bukan sesuatu yang bisa di selesaikan hanya dengan berendam, aku harus membawamu ke rumah sakit," sayangnya Vano pun menolak untuk bicara lebih dan segera membawa tubuh Vina yang sebenarnya sudah cukup panas, seperti sedang demam.


'Kalau aku di bawa ke rumah sakit, aku akan di apakan? Setidaknya bukan seperti yang sedang aku pikirkan kan?' pikir Vina. Dia sering membaca banyak komik, bahwa orang yang mendapatkan obat perangsang, akan berakhir dengan tidur bersama dengan seorang pria.


Entahlah, Vina sendiri masih tidak begitu bisa melihat dengan jelas ekspresi wajah yang di perlihatkan oleh Vano kepadanya.


'Tubuhku memang panas, rasanya juga lemas, tapi apa gara-gara aku pernah itu ya? Makannya aku merasa kalau kondisiku yang seperti ini sudah bukan lagi apa-apa?' pikir Vina. Dia sebenarnya memiliki satu rahasia kecil yang tidak akan pernah dia ungkapkan kepada orang lain.


Lalu rahasia itu sendiri berhubungan dengan kondisinya saat ini.


'Sudahlah, entah apa yang akan terjadi kepadaku, aku cuman percaya kalau Vano pasti tidak akan melakukan sesuatu kepadaku, kan?' dengan mempercayakan diri kepada Elvano, Vina pun kembali terlelap.


BUKH....


BUKH...


Begitu Vano keluar dari rumah rumahnya sendiri, dia harus melihat Delvin yang sedang sparring dengan anak buahnya Arthur.


Tentu saja, dengan kemampuannya yang cukup unggul, Delvin berhasil mengalahkan sepuluh anak buah Arthur dengan waktu singkat.


"Kau benar-benar memilih majikan yang salah," kata Delvin, lalu bogem mentahnya pun mendarat di perut anak buahnya Arthur tersebut.


BUKHH....


"Akh..!"

__ADS_1


"Tuan, anda mau pergi kemana?" tanya Delvin saat menyadari kalau Tuan muda nya yang gila itu, sekarang keluar dengan membawa Vina yang sudah tidak sadarkan diri? "Kenapa lagi dengannya?"


"Dia diminumi obat Afrodisiak. Aku tidak mengerti kenapa dia malah tidak sadar, jadi aku harus membawanya ke rumah sakit."


"Apa? D-dia baru saja minum obat alergi, jadi di waktu yang sama dia diminumi obat itu?!"


"Alergi? Dia punya alergi yang tidak aku ketahui?" timpal Elvano seraya menatap wajah Vina yang mulai sulit bernafas, atau tepatnya efek dari obat Afrodisiak itu sendiri baru muncul.


Delvin yang tidak tahu kenapa lagi Vina kembali mendapatkan banyak masalah diwaktu yang berdekatan, hanya menjawab seadanya, "Sebenarnya tadi dia hampir kena racun, tapi berkat anj*ing peliharaanku dia berhasil selamat. Hanya saja sebagai gantinya, ternyata dia punya alergi pada bulu anj*ng."


'Untung saja dia bisa selamat, tapi jika aku tidak segera membawanya ke rumah sakit, dia bisa kena overdosis, karena makan obat yang di campur.' tidak mau ada konsekuensi berat yang harus dia tanggung karena lagi-lagi tidak bisa menjaga Vina, Elvano pun pergi membawanya ke rumah sakit dengan segera.


'Tuan lagi-lagi menunjukkan ekspresi khawatir. Apa ini tidak bisa di hentikan? Berkat wanita ini, Tuan jadi punya kelemahan yang begitu kontras.' pikir Delvin, melihat kepergian dari Tuan muda nya yang begitu buru-buru.


___________


"Untung saja anda segera membawanya kemari, jika tidak pasti akan terlambat," tutur dokter Jason.


Elvano mendesis kesal sambil menyibak rambut serabainya ke belakang. "Apa maksudmu?"


Dokter Jason melirik ke arah Vina dan segera menjawab, "Itu, karena dosis dari obat Afrodisiak nya cukup besar, di tambah dengan obat alergi yang sempat di makannya, terlambat sedikit saja, itu bisa membuat Nona kejang-kejang. Maka dari itu saya bilang bersyukur karena anda membawanya tepat waktu ke sini."


Mendengar penjelasan dari dokter Jason, Elvano pun akhirnya paham alasan kenapa Vina berakhir tidak sadarkan diri, karena obat alergi itu sendiri juga mengandung efek yang membuat si pemakan tertidur.


"Huh~ Aku bahkan tidak bisa lengah satu detik pun. Kakak memang benar-benar mengincarnya terus." gerutu Vano, dia cukup frustasi untuk membereskan masalah yang harus dia kerjakan, di tambah dia memiliki beban untuk melindungi Vina juga. "Kalau begitu kapan dia akan sadar?"


"Paling tidak nanti sore, saya tidak bisa menjamin waktunya, tapi Nona akan siuman." jawab dokter ini, "Karena pemeriksaannya sudah selesai, saya pamit dulu,"


Hanya menyahut ucapan dari dokter itu dengan deheman saja, Elvano pun tetap fokus pada sosok wanita yang menjadi pahlawannya?


Tentu, berkat Vina, dia jadi bisa beraktifitas kembali. Tapi rupanya berkat keberadaan dari Vina juga, dia perlahan jadi merasakan keanehan yang ada di dalam dadanya, yaitu rasa suka yang membuatnya jadi kena hina oleh Arthur sendiri, kalau seleranya jadi jelek.


'Ini bukan soal jelek atau cantik, tapi karena rasa nyaman. Di mata kakak, jelas kalau Vina memang tidak bisa di bandingnya dengan semua wanita yang sudah banyak dia temui, tapi di mataku itu bukan dari segi penampilan.


Penampilan bisa di rubah, tapi hati itu sangat susah di rubah. Apa gunanya cantik, jika hatinya bahkan punya sisi busuknya sendiri.


Wanita pada dasarnya memang berbahaya, dia punya berlipat-lipat godaan yang bisa menjerumuskan pria pada lubang sesat. Tapi asal pria itu sendiri pintar dalam menangani setiap situasi, itu tidak akan jadi masalah.


Tapi yang jadi masalahnya sekarang ini justru adalah wanita ini. Aku sadar, kalau Vina memang tidak seberapa cantik, tapi aku justru lebih melihat ke sisi hatinya. Dia tidak bisa di bandingkan dengan wanita manapun, semoga kau bisa cepat sembuh.' setelah banyak berpikir, Elvano pun pergi menuju sofa dan langsung berbaring di sana sambil bermain handphone.


//Kakak, seperti yang sudah aku katakan sebelum aku pergi, aku memberimu kesempatan menjadi kepala keluarga selama sebulan. Tapi jangan berpikir kalau kau akan seenaknya menggunakan kedudukanmu.


Jika kau melanggar ketentuan dari dasar prinsip visi dan misi, aku punya wewenang untuk menarik tawaran itu, pikirkanlah.//


Begitu sudah memberikannya pesan kepada Arthur, Elvano pun tertidur.

__ADS_1


__ADS_2