
Apa yang di harapkan ketika berada di negeri asing, dan bahkan tidak kenal dengan siapapun?
Tidak punya kenalan selain satu orang, dan orang itu bahkan sedang pergi.
Vina, dia saat ini benar-benar sedang mengalaminya. Dirinya yang berada di rumahnya Vano sendirian, dan hanya bisa berharap kalau pria itu bisa segera pulang.
"Hah~ Aku benar-benar ingin pulang," Vina mendengus kesal, sudah lebih dari dua hari berlalu, tapi semua ucapan Vano seakan seperti sedang mengulur waktu demi waktu, yang mana kala Vina pun paham betul, kalau dirinya saat ini benar-benar sedang di tipu oleh Vano.
Dia saat ini terkurung di dalam rumahnya, tidak bisa pergi karena Vina tidak paham soal kota di sana, dan di tambah dengan angka kriminalitas yang tinggi, hal tersebut menjadi strategi Vano untuk membuat Vina takut keluar rumah.
Cukup bagus untuk menjadi alasan agar Vina tidak bisa pergi kemanapun.
"Tapi, apakah harus sampai seperti ini? Aku ingin pulang, berkumpul dengan kedua orang tuaku lagi. Pasti mereka berdua mengkhawatirkanku.
Hanya karena gara-gara aku tidak bisa berbaur dengan orang di sini secara langsung, Vano benar-benar memanfaaatkan situasiku dengan baik sekali ya?" Vina bergumam sendiri seraya merekahkan senyuman mencibir.
Sampai ketika Vina baru juga membuka gorden kamar dan keluar dari balkon, tiba-tiba saja hal yang tidak terduga mendatanginya.
DORR....
Dalam sepersekian detik itu juga sebuah peluru langsung melesat ke arahnya. Tentu saja Vina langsung berdiam diri dengan wajah membeku saking syoknya karena tiba-tiba saja ada peluru yang mengarah ke arahnya.
"T-tadi itu apa? Siapa yang mau membunuhku?" Vina bergumum sendiri dengan wajah syoknya, seraya tangan kanannya langsung mencengkram tali spaghetti dari dress yang sedang dia gunakan, karena peluru yang tadi datang, justru menyerempet tali tersebut hingga akhirnya terputus dan membuat dress yang digunakan oleh Vina hampir saja melorot. 'Tapi di sini, ada yang masih mengincarku? Tunggu, tapi bagaimana? Bukannya penjahat yang menculikku itu sudah di urus oleh vano?'
Segala pikirannya seketika menjadi kacau. Hari dan jam damainya seketika berubah menjadi waktu paling menegangkan, hanya karena satu peluru yang datang itu hampir saja membunuhnya.
'Dari mana? Asalnya dari mana?! Kenapa dia bisa tahu kalau aku ada di sini? Jangan-jangan saat Vano pulang, justru aku sudah berubah jadi mayat?' hanya dengan memikirkan itu saja, Vina seketika jadi diam membeku.
Kedua kakinya jadi lemas, bahkan untuk sekedar bergeser saja, dia justru merasa kalau sepasang kakinya sudah di paku dengan lantai balkon.
__ADS_1
'Apa dia akan menembakku lagi?' detik hati Vina dengan jantung yang benar-benar sudah berdebar.
Sendirian di rumah, dan tidak ada kenalan siapapun yang bisa dia gunakan untuk menolongnya, Vina sungguh tidak tahu harus bagaimana lagi.
________
Di sisi lain.
Abel kini berada di salah satu gedung pencakar langit. Dia baru saja melancarkan aksinya dengan menembak ke arah tempat di mana Vina kini sedang berdiri.
"Tch, kenapa malah meleset seperti ini?" Abel pun mendesis tidak puas hati sebab sasarannya yang tadinya adalah Vina sendiri malah membuat satu-satunya tembakan yang bisa dilakukan justru membuat salah satu tali dress yang dipakai Vina terputus. "Mumpung dia belum masuk aku harus melakukannya dengan cepat."
Setelah bicara sendiri, Abel pun mempersiapkan untuk tembakannya yang kedua.
Abel perlahan mencoba membidik sasarannya itu dengan sebaik mungkin. Setelah dirasa sudah tepat sasaran, ujung jari dari telunjuknya pun menarik pemicunya dan akhirnya peluru yang ada di dalam senjatanya langsung keluar.
Vina yang masih dalam posisi syok seketika langsung mendapatkan serangan lagi dari Abel.
SYUHT….
"Apa?!" Abel tiba-tiba saja membelalakkan matanya ketika dia tiba-tiba saja mata mereka berdua saling bertemu, dan yang paling mengejutkannya adalah ketika Vina justru hanya mendapatkan serempetan dari ujung pelurunya lagi, Membuat pelipis Vina langsung mengalirkan darah merah yang masih segar. 'Aku tadi tidak salah melihat, dia sempat menghindari tembakanku. tapi bagaimana itu bisa terjadi jarak antara gedung itu dengan posisiku sekitar 1 km tidak mungkin Vina bisa melihatku.' pikir Abel.
Walaupun Vina terlihat berdiri diam saja di tempatnya tetapi tidak mungkin bidikannya jadi meleset seperti itu jika bukan karena Vina sedikit memiringkan kepalanya ke samping.
Hal itulah yang membuat tembakan milik Abel kembali meleset untuk kedua kalinya.
'Tidak, aku tidak percaya kalau tatapan matanya tadi memperlihatkan kalau dia mengetahui lokasiku.' batin Abel, dalam diamnya dia sebenarnya merasa cukup, yah... Sedikit kewalahan, karena sampai dua kali tembakan, tidak ada satu pun peluru miliknya yang langsung kena. "Hah, padahal dia sekarang sendirian. Aku itu seharusnya bisa membereskan dia dengan cepat. Aku harus mencobanya lagi. Yah, mumpung Tuan muda kedua, atau Elvano itu di urus oleh dia, lebih baik aku harus segera membereskannya secepat mungkin."
________
__ADS_1
Kembali ke tempat di mana posisi di Vina berada.
"Tadi siapa yang melakukannya? Apakah itu orang yang pernah menculikku? Apakah penjahat itu sebenarnya belum benar-benar ditangkap oleh Polisi kota ini? Sebenarnya Apa alasan aku menjadi sasaran seperti ini?"
Banyak sekali pertanyaan yang terngiang di dalam kepalanya tapi dia harus bertanya dan mencari jawabannya kepada siapa satu-satunya orang yang bisa diharapkan sedang pergi keluar.
Dan saat ini dirinya benar-benar sedang disudutkan oleh seseorang yang sedang mengincarnya dia harus minta pertolongan kepada siapa?
Meskipun dia berada di tempat yang paling bagus dan diminati banyak orang di seluruh dunia, akan tetapi dia tetap saja merasa sendirian.
"Tunggu, aku harus segera pergi dari sini!" mendapati kedua kakinya perlahan mulai bisa di gerakkan, Vina pun dengan sekuat tenaga, berusaha untuk segera pergi dari sana.
DORR..
"Apa?" Vina seketika langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai dengan kasar .
PRANG...
Dan akhirnya beberapa piring langsung terkena peluru itu dan menjadikan rumah tersebut semakin berantakan.
"Tidak! Aku tidak mau mati. Kalau mati, juga tidak mau karena kena tembak!" ucap Vina pada dirinya sendiri.
Oleh karena itu, Vina segera tiarap dan menuju pintu keluar.
Dengan susah payah, dia mencoba untuk keluar dari sana, tapi lagi-lagi satu tembakan kembali terjadi.
DORR..!
"Hii!" Vina yang ketakutan, langsung melindungi kepalanya dengan kedua tangannya. 'Semenjak kapan aku jadi punya kehidupan seperti ini?! Yang benar saja deh, masa aku seperti ini, di culik, masuk rumah saki, di ajak jalan-jalan bersama dengan pria asing, di pergoki oleh pacarnya, dan sekarang aku jadi bahan buronan lagi?! Apa aku ini masuk ke dalam film?! Kenapa malah jadi seperti masuk dalam genre action?!'
__ADS_1