Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
51 : Misi Penyelamatan


__ADS_3

"Uhuk...uhuk...uhuk..., apa yang sebenarnya terjadi?" lirih Verina. Tanpa bisa melihat apapun di dalam sana, dia merasakan adanya kepulan asap yang kian masuk kedalam celah bawah dari pintu besi itu.


Entah apa yang terjadi, Verina yakin kalau sekarang adalah situasi paling darurat untuk bisa menyelamatkan dirinya sendiri.


"Uhuk...uhukk...uhuk...." karena udara yang kian di selimuti oleh asap tebal yang terus masuk kedalam celah pintu, Verina pun semakin di luputi perasaan panik yang luar biasa.


Di dalam kegelapan itu, Vina benar-benar tidak bisa melihat apapun, rasa sakit di sekujur tubuhnya sungguh menyiksanya, di tambah dengan rasa sesak ketika udara di dalam sana semakin menipis.


'Apa ledakan tadi karena bom? Apa aku benar-benar akan mati sendirian di dalam sini tanpa ada yang tahu kalau aku ada di sini?' pikir Vina dengan perasaan yang sudah pasrah dengan nasibnya sendiri. "Uhukk..uhukk..uhukk...."


Semakin waktu berlalu, Vina pun semakin menundukkan kepalanya, menempatkannya di atas tumpukan tangannya.


'Ma, pa, maaf, aku bahkan tidak bisa menjaga diriku sendiri. Aku memang tidak tahu, kalau aku pada akhirnya akan terjebak dalam pertikaian yang berhubungan dengan Elvano, hanya karena gara-gara aku pernah menyelamatkannya.


Tapi- jika aku diberikan pilihan kalau waktu itu aku akan menyelamatkan Elvano atau tidak, jika aku tahu kalau aku akan berakhir seperti ini, aku pikir aku tidak masalah, aku tidak akan mempermasalahkannya karena aku setidaknya pernah menyelamatkan orang yang berada di ambang kematian seperti dia.


Hanya saja yang aku takutkan, apakah aku akan benar-benar mati dengan akhir seperti ini?' merasa kalau dirinya benar-benar akan berakhir mati sendirian di dalam sana, Verina pun akhirnya tidak sungkan lagi untuk menangis sejadi-jadinya.


Tangisan yang awalnya dia lakukan dalam diam dengan isak tangis yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri, sebuah tangisan karena ketakutan yang ada di dalam dirinya, takut menghadapi kematiannya yang begitu tragis, akhirnya isak tangis miliknya pun benar-benar jadi keras.


Menangis dalam keterpurukan, padahal dia percaya kalau kebaikan yang dia berikan kepada orang lain yang membutuhkan bantuannya, akan membuat dirinya bisa mendapatkan balasan yang setidaknya setara.


Tapi, melihat kenyataan kalau dirinya di culik dan di siksa dalam keadaan yang tidak bisa mengerti situasi yang sebenarnya terjadi, membuat Vina benar-benar sangat terpukul, kalau takdir miliknya ternyata benar-benar sungguh buruk.


"Hiks...hiks..., uhuk...uhuk...uhuk.." kabut dari asap itu, dengan pasti terus masuk kedalam ruang bawah tanah, tempat dimana Vina terkurung sendirian di sana. Dan dari situ juga, Vina akhirnya terus menangis sejadi-jadinya, menangis sesuka hati, karena meskipun ia berteriak, Vina yakin di luar memang tidak akan ada orang yang akan menolongnya.


Makannya, Vina pun memilih untuk terus meluahkan keluhan di dalam hatinya yang tidak bisa dia luahkan dengan kata-kata, selain isak tangis yang begitu dalam.

__ADS_1


'Kalau mau mati pun, setidaknya jangan berikan aku rasa sakit yang sudah aku rasakan selama di sini. Aku tidak mau- tidak-' kehilangan kata-katanya, Vina pun pada akhirnya tidak bisa menghentikan air matanya yang terus mengalir deras membasahi wajahnya yang begitu lusuh itu karena tidak bisa tidur dengan nyenyak sekalipun. "Huk...hiks...hiks...huwaahh. Uhuk...uhuk..uhukk...."


___________


"Uhuk...uhuk...., Delvin, kau keluar saja, aku akan masuk menyelamatkan Vina lebih dulu," perintah Vano kepada Delvin sembari menyiramkan tubuhnya dengan air yang dia dapatkan dari adanya tong plastik yang terisi oleh air hujan yang terjadi kemarin malam.


BYURRR...


Dengan bantuan dari Delvin, tubuh Vano pun berhasil sepenuhnya basah kuyup dari atas sampai bawah.


"Tidak, uhukk..., dari pada anda sendirian, lebih baik saya temani, karena tidak mungkin anda bisa mengatasi situasi seperti ini sendirian saja," jawab Delvin, dia pun sama-sama membasahi tubuhnya dengan air.


Setelah berhasil membuat tubuh mereka basah, mereka berdua pun melucuti beberapa pakaian yang dikenakan oleh anak buah Arthur yang sudah tergeletak menjadi mayat, karena ledakan besar tadi untuk mereka gunakan sebagai pelindung kepala serta tambahan perlindungan dari kemungkinan paling buruk.


Setelah siap, mereka berdua pun segera berlari menuju ke ruang bawah tanah, seperti yang sudah di beritahukan oleh kakak beradik yang sempat jadi anak buah Arthur, tapi akhirnya memilih untuk pindah tangan untuk melayani Elvano.


Karena ada besi yang sudah mulai keropos, beberapa diantaranya pun akhirnya patah, dan hampir saja menimpa mereka berdua.


Tentu saja, karena tidak jadi menimpa mereka berdua, Delvin dan Elvano pun akhirnya bisa selamat dari kecelakaan itu.


"Delvin, apakah tempatnya masih jauh?" tanya Elvano, karena dia benar-benar belum tahu dimana tempat dari ruang bawah tanah yang di jadikan tempat penyekapan Vina.


"Jika sesuai ucapan mereka yang katakaan kalau pintu masuknya ada di ruang B, berarti itu seharusnya ada di depan sana," sahut Delvin sambil menunjuk ke arah depan.


dengan jarak pandang yang benar-benar terhalangi oleh puing-puing besi yang patah, Elavno pun mengernyitkan mataya, dan menatap ke arah depan sana, dimana rupanya di depan sana ada sebuah pintu besi yang dulunya adalah gudang penyimpanan.


"Tapi Tuan, ini cukup berbahaya, jalan mengarah ke sana sebagian besar sudah tertutup puing-" peringat Delvin, mengkhawatirkan keselamatan dari Tuan muda nya itu.

__ADS_1


Padahal hanya karena satu wanita, tapi apa yang terjadi?


Tuan majikannya yang dari dulu tidak pernah melakukan hal berbahaya hanya karena seorang wanita, meskipun kenyataannya Tuan muda nya itu sudah memiliki kekasih, tapi tidak pernah sekalipun akan melakukan tindakan sampai sejauh ini.


Ini namanya misi penyelamatan yang berimbas dengan bunuh diri, karena sangatlah berbahaya, mengingat ledakan besar yang terjadi beberapa waktu lalu, jelas sudah merubah struktur dari bangunan ini, dan sudah pasti akan memiliki resiko paling besar, karena seperti bom waktu, bangunan dari pabrik ini bisa roboh setiap waktu, tanpa ada tanda-tanda apapun.


"Lalu kau ingin aku harus melakukan apa?! Apa kau berharap aku untuk menunggu bantuan datang?! Datang menyelamatkannya tanpa bisa membawa kembali nyawanya?! Kau berpikir aku akan membiarkan dia seperti ini?! Tidak mungkin, dia sudah melenyelamatkanku dari dari mautku, aku harus menyelamatkannya sekarang juga!" pekik Elvano dengan mata sudah mulai memerah, karena asap tebal yang semakin menyelimuti sekitarnya.


Karena sudah tersulut oleh emosinya sendiri, Elvano pun tidak peduli dengan peringatan dari Delvin, dan memilih untuk terus melanjutkan sesi penyelamatannya.


"Uhuk....uhuk...uhuk..." tidak memperdulikan apa yang akan terjadi pada dirinya, Elvano pun pergi tidak memperdulikan Delvin yang sudah terdiam karena tidak bisa menghentikan Tuan mudanya yang begitu keras kepala itu.


Dengan caranya sendiri, Elvano menyingkirkan beberapa puing bangunan dengan kayu yang dia dapatkan, dan terus melanjutkan perjalanannya yang pada akhirnya di ikuti oleh Delvin yang terus berjaga di belakangnya, untuk mengawasi kemungkinan dari puing-puing bangunan yang bisa jatuh kapanpun itu.


KRAK...


Delvin yang menyadari adanya atap yang akan jatuh, Delvin segera menarik belakang baju milik Tuan muda nya itu.


Tapi, seakan kalau insting milik Tuan nya itu peka dari pada Delvin, pria yang Delvin anggap majikan itu, justru malah langsung berlari ke depan, menuju tempat di mana pintu dari ruang B itu berada, sebelum akhirnya atap dari plafon itu jatuh di tempat tersebut.


BRAKK...


Delvin pun jadinya terjebak di dalam kobaran api. Tapi, sebagai orang yang harus punya tanggung jawab sampai akhir untuk menjaga Tuan muda nya itu, Delvin pun segera menerjang kobaran api itu dengan langkah kaki yang begitu cepat, sampai dia bisa menyusul keberadaan dari Tuan Elvano.


"Tuan, ada apa?" tanya Delvin detik itu juga, setelah dia berhasil menyusul majikannya tersebut.


"Pintunya-"

__ADS_1


__ADS_2