
"Dasar wanita tidak tahu diri, apa kau tidak bisa mengatakan apapun ha selain akh...akh...dasar aku benci ini, lebih baik biarkan kotor seperti ini saja, lagian percuma saja kan, kalau dia makan ujung-ujungnya akan di muntahkan lagi?" tuturnya, sangat tidak yakin kalau hari ini bisa bersih, pasti besok akan terjadi lagi-lagi dan lagi.
"Ya sudahlah, lagi pula ini sudah malam, biarkan saja dia membusuk di sini dengan roma busuk di sini. Percuma, kita di sini itu hanya membuang-buang waktu saja," kata teman dari wanita berambut pendek itu.
Dan dua orang itu pun akhirnya kembali pergi dari sana, meninggalkan Vina sendirian di tempat yang kembali gelap-
Benar, bahkan ketika mereka berdua pergi, lampu di dalam langsung di padamkan, membuat Vina benar-benar sudah tidak tahu kira-kira seperti apakah rasanya berdiri di bawah sinar matahari.
'Lebih baik aku mati- aku bahkan merasa sudah tidak punya harapan untuk hidup di dunia ini.' harap Vina kepada yang ada di atas langit. 'Maa~ Pa~ Maaf, kalian berdua pasti gelisah, aku ada di mana. Aku juga ingin bisa keluar, pulang dan berada di rumah yang nyaman itu. Tapi sekarang aku bahkan tidak tahu caraku harus hidup di sini, dengan orang asing yang tidak aku ketahui siapa sebenarnya mereka, dan kenapa aku terus di sekap, padahal aku sendiri tidak berguna.
Bahkan jika aku memang bisa berguna untuk memancing Vano keluar dari tempat persembunyian, kenapa dia tidak kunjung datang?'
Banyak sekali yang ada di dalam pikiran dan hatinya. Tapi karena semua tubuh, baik itu jiwa dan raga, semuanya sudah begitu lelah, dan bahkan sudah ada di ambang batas dirinya bisa bernafas.
Sambil menunggu, entah itu mautnya, atau Iblis penyiksa, dia pun kembali meringkuk di atas kardus bekas. Sambil menahan dinginnya di dalam ruang bawah tanah, dia terus memohon, berharap yang terbaik untuk ke depannya.
_______________
Di rumah sakit Asan, rumah sakit terbaik di korea selatan dan bahkan di seluruh dunia.
Elvano Theolinus Travers, dia adalah adik kandung dari Arthur Lessandro Travers, sekaligus saingan perebutan kekuasaan dari keluarga bermarga Travers.
Sebagai ahli waris yang sah, dia pun akhirnya terus di buntuti dari keputusan tidak adil yang di dapatkan oleh sang kakak, yaitu Arthur, karena dirasa Elvano sudah mencuri hak waris yang seharusnya di dapatkan oleh Arthur.
__ADS_1
Padahal selama ini saja Elvan bukanlah orang yang mengejar-ngejar harta ataupun hak waris dari Arthur, sang kakak, tapi entah kenapa Ayahnya lah, yaitu Theo, malah memberikan hak waris itu kepadanya, ketimbang sang kakak.
Maka dari itu, perang antar saudara pun jelas terjadi.
Itulah yang di hadapi oleh Elvano sebagai pewaris sah Travers.
"Delvin, sebaiknya kau jelaskan semua informasi yang sudah kau rangkum itu untuk di rekam, aku akan mendengarkannya dan menghafalnya. Jadi walaupun ingatanku ini masih menghilang, tapi bukan berarti aku akan terus berada di posisi aku harus terlihat seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Aku harus mengecoh mereka, demi menyelamatkan Vina." ucap Elvano panjang lebar.
Karena ini sudah terlalu lama untuk terus bersembunyi, dan apalagi di tambah dengan insiden dimana Vina ternyata di culik, Elvano pun langsung mempercepat proses persiapan untuk menghadapi kakaknya yang sudah menyandera Vina sudah dari seminggu lalu.
"Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi selama satu minggu ini, semoga dia masih baik-baik saja," Vano pun bergumam seraya melihat sosok Vina yang sempat di gendong oleh Abel di Bandar Udara Internasional Adisutjipto.
Itu adalah rekaman terakhir yang bisa mereka dapatkan berkat Delvin yang mampu mendapatkan akses cctv di sana dengan cara di retas.
Vano sebenarnya juga menyayangkan kejadian ini. Tapi karena sudah berlalu, Vano pun berharap kalau tidak akan terjadi selanjutnya, itu saja.
"Aku tidak mau membahas soal penyesalanmu, karena semua itu sudah terjadi. Yang penting sekarang adalah bisa menyelamatkannya." kata Elvano seraya memakai pakaian jas formal miliknya.
Dia terus menatap kamar yang menjadi tempat terakhir dirinya merasa damai itu.
Terakhir? Tentu saja, karena tidak lama lagi, setelah mereka berdua keluar dari kamar inap itu, mereka pun akan pulang ke tanah air, untuk melakukan pencarian Vina yang di kemungkinan di sekap di satu tempat. Dan untuk mendapatkan informasi tersebut, dia harus berhadapan dengan Arthur, kakaknya sendiri.
"Tuan" panggil Delvin, dia sedikit memiringkan tubuhnya ke kanan, dan melihat ekspresi wajah Tuan muda nya yang begitu sendu itu. "Apa boleh saya menyarankan sesuatu kepada anda yang terlihat sedang murung ini?"
__ADS_1
Elvano seketika langsung melirik Delvin dengan tatapan yang begitu malas.
Walaupun agak kesal dengan cara Delvin berbicara kepadanya, tapi dia pun mengiyakan soal Delvin yang ingin mengutarakan pendapatnya.
"Katakan, singkat, jelas dan padat." perintahnya.
"Kalau bisa, sebaiknya anda pakai asisten bayangan saja. Dari pada repot-repot datang langsung menemui kakak anda yang bodoh itu," saran Delvin, agar Tuan mudanya itu memakai seorang asisten bayang.
Asisten bayang adalah seseorang yang pekerjaannya seperti Delvin. Dia adalah asisten pribadi yang di gunakan untuk masalah khusus, seperti digunakan untuk penyamaran.
Tapi untuk menjadi seorang asisten bayangan, maka perlu banyak syarat yang harus di perlukan untuk lulus menjadi Asisten bayang, dan salah satunya adalah dengan menjadi diri seperti Tuan yang di layani nya sendiri.
"Ya ampun Delvin, kau baru saja berani mengatakan kakakku bodoh, kalau dia tahu kau pasti langsung di penggal," sindir Elvano terhadap Delvin yang baru saja mengatakan hal yang kurang ajar kepada keluarga Travers.
"Bahkan ketika anda sendiri adalah adiknya, kenapa tidak terlihat tanda-tanda anda akan marah atau mau memenggal kepala saya?" balasnya dengan cepat.
Inilah, hal yang paling malas di dunia adalah ketika ada yang mau terus menjawab ucapannya, seperti Delvin yang sayangnya adalah Asistennya, jadi mau tidak mau, dia pun harus melihat wajahnya itu setiap hari, layaknya seorang suami yang terus saja melihat wajah Istrinya setiap hari.
"Itu benar sih, tapi setidaknya kau tetap harus menghormatinya, karena mau bagaimanapun dia masih keluarga Travers.
"Maaf-" raut wajahnya yang begitu datar, membuat Elvano jadi ingin memukul wajah Delvin itu.
Memang, seperti dirinya yang tidak menyukai Arthur, maka Delvin pun sama-sama punya sikap yang sama, untuk tidak menyukai Arthur.
__ADS_1