
"Itu tergantung caramu berpikir soal aku. Aku hanya bicara saja dengan posisi lebih dekat, jika kau menganggap ini sebagai godaan-" tidak berhenti begitu saja, Vano meraih rambut pendeknya Vina dan menciumnya dengan sepenuh hati, dan dia pun angkat suara lagi, "Aku akan menerimanya dengan senang hati,"
"Kucing garong," ledek Vina.
Karena tidak mampu untuk menepis tangan Elvano dari rambut yang sedang pria itu sentuh, Vina langsung melengos, tidak berani untuk menyatukan perasaan berdebar itu dengan menatap wajah Elvano secara langsung.
Menahan tertawanya melihat sikap wanita yang sedang di landa frustasi sendirian, kali ini Elvano pun berani untuk melepaskan Vina, dan segera mengalihkan topiknya.
"Ini sudah malam, kau tidak mau makan malam?"
"Aku masih kenyang, kau sudah disini menemaniku, sebaiknya kau pergi, aku sangat ingin sendirian," pinta Vina.
Tidak punya alasan lagi untuk menolak dan membiarkan Vina sendirian, Elvano pun memutuskan untuk pergi dari kamarnya Vina.
Namun, rupanya kemunculan Elvano setelah keluar dari dalam kamarnya Vina, sudah di tunggu oleh pihak lain yang menginginkan sebuah penjelasan lebih dari pada yang terlihat.
"Tuan, apa kita bisa bicara sebentar? Tentunya bicara empat mata saja," kata Delvin sambil melirik ke beberapa pelayan rumah yang sedang berkeliaran untuk menyiapkan makan malam untuk mereka.
Elvano hanya mengiyakannya tanpa sepatah kata apapun, dan segera pergi dari sana dengan Delvin yang berjalan mengekorinya.
____________
Ruang kerja yang di dominasi oleh rak buku dan ratusan buku dari berbagai judul dan genre menghiasi ruangan berukuran sepuluh kali lima belas meter.
Rumah itu sebenarnya adalah milik Elvano, namun Delvin sengaja berbohong dengan alasan untuk tidak memperlihatkan latar belakang Elvano sebenarnya, Elvano pun hanya bisa membiarkannya saja.
"Sekarang hanya ada kita berdua, jadi apa yang sebenarnya ingin kau katakan kepadaku?" Elvano bertanya seraya meraih botol mineral dan duduk di sofa dengan kasar, sebelum dia akhirnya minum.
"Ada beberapa masalah. Orang yang bertugas mengawasi Nona Veronica, dia terbunuh, tidak ada jejak kemana dia pergi." satu penjelasan dari Delvin, mulai menyita perhatian Elvano yang baru saja menyelesaikan minumnya.
__ADS_1
"Apa kau sudah mengurus soal mayatnya? Aku harap kau berikan santunan kepada keluarganya, dan satu hal lagi berikan makam yang layak kepadanya." bahkan perintah yang terdengar memfokuskan rasa peduli dan penuh dengan perhatian, sekilas Delvin menganggap kalau Tuan muda nya itu bukan seperti yang di seharusnya.
Sosok dari seorang pemimpin Mafia gagak malam, punya sisi peduli melebihi koruptor negara.
Jika dilihat dari sudut pandang orang lain, mereka mungkin tidak akan percaya dengan kenyataan itu, tapi jika tidak berhadapan langsung dengannya, memang masuk akal untuk memiliki persepsi demikian.
"Saya akan melakukannya,"
"Apa ada yang lainnya?" Elvano bertanya soal informasi lain yang sangat ingin dia dengar.
"Tapi- apakah anda sama sekali tidak penasaran soal Nona Veronica?" Delvin sudah berharap kalau Tuan majikannya itu bertanya.
Namun apa? Majikannya itu justru berharap untuk mendengarkan berita lain.
"Jika Veronica menghilang, itu hanyalah masalah waktu sampai dia muncul di waktu yang sudah di tentukan," Elvano menjelaskan dengan begitu lugas, yang artinya dia jelas sudah tahu alasan kenapa Veronica menghilang.
"Dengar, jika menyangkut soal Veronica, karena dia pernah ada hubungan denganku, sudah pasti kalau ada orang yang mengincarnya untuk di jadikan bidak catur dalam permainannya untuk mengendalikanku.
Dari sekian banyak penjelasan, ada satu waktu dimana Delvin jadi merasa seperti orang yang tidak berguna, ketika Tuan majikannya itu jauh lebih tahu dari Delvin sendiri.
Kemashyuran Tuan Elvano melewati kepala Delvin, yang berpikir dia kalah cepat untuk mendapatkan informasi.
Seorang maninpulator yang mengendalikan sistem kepimimpinan negara.
Iblis yang tergila-gila pada permainan yang merenggut nyawa di atas kekuasaan yang di milikinya.
Karena Elvano adalah orang punya kesibukan dalam hobi di samping pekerjaannya, maka hal itu seharusnya tidak akan sulit di tebak.
Namun, suara yang terdengar dari hadapan Delvin begitu damai.
__ADS_1
"Aku sudah tahu kemungkinan besar yang sedang terjadi kepada Veronica, jadi kau bisa mengatakan hal lain saja, ketimbang membahas wanita itu, Delvin."
Mendengar namanya di panggil dengan lebih di tekan, Delvin pun tersenyum tawar.
Dia seharusnya tahu sekaligus sadar, kalau majikannya itu adalah orang yang mampu menguasai banyak hal dalam waktu singkat, jadi seharusnya dia tidak begitu rendah diri saat Tuan muda nya itu menemukan sekaligus mengetahui lebih dulu apa yang terjadi pada orang lain, ketimbang diri Delvin.
"Baiklah, kalau begitu ini masalah soal pembangunan gedung kantor yang sedang anda rencanakan dari tiga bulan lalu, apakah anda yakin untuk melanjutkan pekerjaan itu?
Padahal anda tahu sendiri, kalau bangunan itu terletak di tempat yang kurang strategis dari tempat publik." jelas Delvin.
Elvano diam sejenak, berpikir dan tiba-tiba ketika ujung jarinya terus mengetuk sandaran tangan dari sofa tersebut, Elvano langsung menemukan sedikit serpihan ingatannya yang akhirnya kembali datang.
"Jangan, rubah rencana. Jangan gedung kantor. Akan lebih bagus jadikan sebagai pusat perbelanjaan.
Masalah lokasi yang kau bilang, kurang strategis, aku kan hanya tinggal merubah yang tidak mungkin jadi mungkin, kan?
Satu-satunya cara agar bisa mendapatkan informasi lebih luas lagi, adalah dengan berbaur dengan orang yang suka belanja secara langsung.
Di samping akan punya pendapatan dari situ, perluasan jaringan informasi akan jauh lebih membantu ketimbang terus menyamar jadi orang biasa yang berkeliling," tersenyum lebar dalam rencana besar yang baru saja dia dapatkan, Delvin pun hanya bisa membalas senyuman simpul itu dengan cukup elegan.
Dari banyaknya waktu yang sering Delvin habiskan untuk bekerja di bawa tuan muda Elvano, pasti akan ada kalanya, perubahan rencana secara besar-besaran akan terjadi juga.
Elvano tersenyum dengan begitu cerah, karena dia tahu apa arti dari perintah tadi itu, secara tidak langsung akan membuat Delvin lembur juga.
"Bekerja keraslah, jika aku tidak dapat tambahan pemasukan, kau akan makan apa? Semuanya kan berasal dari aku," kata Elvano, memperingatkan kalau Delvin tidak bisa protes sedikitpun.
"Saya tahu,"
"Hoh, karena kau yang memilih untuk melayaniku, kau memang tidak punya hak untuk protes sedikitpun kepadaku, Delvin." seringai Elvano.
__ADS_1
Maka dari itu, dari kejadian ini pula maka itu membuktikan kepada semua orang, bahwa pria, untuk mendapatkan kesenangan, tidak harus berasal dari wanita, melainkan melihat orang lain bisa tersiksa dengan sangat berat, ketika harus di hadapkan pekerjaan lembur dari atasannya sendiri.