Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
39 : Arthur


__ADS_3

Di sebuah lapangan tembak, terlihat ada satu orang pria tengah berdiri sambil memegang pistol di yang siap untuk di tembakkan.


DORR....DORR...DORR....


"Tch, kenapa tidak kena-kena?!" marah pria ini, dia adalah Arthur Lessandro Travers, kakak dari Elvano TheloniusTravers, dan dia juga orang yang menjadi alasan kenapa Vina di culik, karena dia ingin memancing adiknya untuk keluar dari persembunyiannya.


Meskipun penculikan itu adalah ide tersembunyi dari Abel.


"Tuan, anda seharusnya bersabar. Lengan anda kan sempat terluka karena pertarungan terakhir dengan Tuan muda kedua dan asistennya itu, jadi seharusnya anda itu beristirahat sampai lengan anda itu sembuh total, jangan memaksakan diri dengan latihan menembak," beritahu seorang wanita paruh baya itu kepada Arthur.


Wanita itu adalah pelayan yang sudah melayani Arthur dari kecil, maka dari itu, dia akan tetap berada di samping Tuan muda pertamanya untuk memberikan layanan terbaik miliknya kepada sang majikan muda itu.


Walaupun di samping itu juga, dia harus menahan semua ucapan kasar yang di lontarkan oleh beliau, dia tetap bersikukuh pada posisinya untuk tetap melayani Tuan muda, sebab itu adalah titah dari sang Nyonya besar Travers.


Sayangnya, sekarang baik itu Tuan dan Nyonya besar, mereka berdua sudah sama-sama meninggal.


Jika Nyonya besar meninggal karena melahirkan Elvano, maka Tuan besar meninggal karena ia mengidap kanker stadium empat.


Ini membuktikan, kalau mau sekaya, seberapa melimpahnya uang yang di miliki keluarga Travers, jika setiap manusia saja sudah di tulis takdir mereka, maka mau seberapa berkuasanya manusia itu, pada akhirnya tetap akan menghadapi yang namanya kematian.


"Bicara itu mudah tapi aku ingin sekali bisa melampaui adikku yang brengsek itu. Gara-gara dia, aku sama sekali tidak mendapatkan warisan, bahkan hak untuk jadi penerus keluarga malah jatuh pada adikku sendiri, bukannya itu konyol?


Seharusnya yang jadi penerus keluarga itu adalah aku, bukan anak itu. Karena gara-gara dia yang lahir di dunia ini, Ibu bahkan jadi korbannya. Dia itu pembawa sial, awas saja, aku akan segera merebut dan membuktikan kepada semua orang kalau akulah yang lebih pantas untuk mendapatkan gelas kepala keluarga Travers." Ucap Arthur dia tidak senang jika harus diberitahu seperti itu oleh orang yang lebih rendah darinya.


Arthur ini adalah tipe orang yang tidak suka diatur oleh orang lain. Dia adalah orang yang menganggap kalau apapun yang dikatakannya adalah benar.


Dan sekalipun salah, maka akan kembali ke aturan pertama, dia adalah yang paling benar.


Tentu saja meskipun punya sikap dengan egoisnya yang begitu tinggi dan selalu merasa benar, tapi masih banyak dari mereka yang berharap kalah Arthur akan menjadi bos mafia yang sesungguhnya bukan Elvano sang adik kandungnya itu.


Bagi Arthur, Elvano sebenarnya adalah sebuah batu sandungan yang cukup besar karena gara-gara dialah, hak waris sebagai penerus selanjutnya untuk kepala keluarga Travers justru jatuh ke tangan adiknya sendiri.


Entah gerangan apa yang terjadi dengan Ayahnya, padahal biasanya anak pertama akan memiliki kesempatan paling besar untuk menjadi penerus keluarga, tapi yang terjadi baru-baru ini, setelah Ayah dari mereka berdua meninggal karena penyakit, yang di tunjuk sebagai penerus sah kepala keluarga Travers justru ada di tangan Elvano, bukan dirinya, Arthur.


Jelas lah, Arthur sama sekali tidak rela dengan kebijakan yang serasa tidak adil itu.


Maka dari itulah, Arthur pun akhirnya mendirikan bendera tanda perang kepada Elvano, dan akan merebut kekuasaan dari Elvano secara langsung, entah mau bagaimana caranya itu.


Bahkan jika harus membunuh wanita yang sempat menjadi pahlawannya Elvano sekalipun, dia tidak akan sungkan.


"Tapi tuan-" ucapannya seketika langsung disela oleh Artur.


"Berisik sekali, kau itu mengganggu latihanku. Daripada mengoceh di sini lebih baik kau pergi dan siapkan makan siangku." Perintah Arthur kepada pelayan tersebut.

__ADS_1


Karena suasana hati tuan muda Arthur sedang jelek Dia pun menuruti perintahnya saat itu juga.


"Baik Tuan saya akan segera menyiapkan makan siang anda sekarang." wanita paruh baya itu pun segera pergi dari sana meninggalkan sang tuan muda untuk melanjutkan latihan menembak.


Sedangkan Arthur yang sudah sendirian di tengah lapangan tembak, dia tiba-tiba teringat dengan wanita yang Abel culik langsung dari tanah airnya sendiri, yaitu Indonesia.


Karena Artur merasa frustasi jika harus menembak tapi tidak pernah tepat sasaran, dia pun langsung pergi dari sana untuk menemui wanita tersebut.


"Tangkap," perintah Arthur kepada salah satu anak buahnya, untuk menangkap pistol yang dia gunakan itu.


"Eh, eh...aduh...-" laki-laki ber jas hitam ini pun langsung kelabakan, karena harus mendapatkan pistol itu sebelum jatuh ke tanah, dan menembak secara otomatis.


Sedangkan Arthur, begitu dia melihat ada orang yang baru saja mengeluarkan kuda untuk makan rumput, Arthur segera memerintahkan orang itu untuk


"Kudanya bawa sini," dengan tatapan matanya yang begitu tajam, Arthur benar-benar selalu berhasil membuat orang yang menjadi lawan bicaranya itu seketika itu juga langsung terintimidasi, gara-gara aura jahat itu terus saja keluar.


Yah, itu akibat dari tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya tepat setelah kepergian dari Tuan besar alias Ayahnya, suasana hatinya pun terus saja buruk, sampai banyak dari mereka yang selalu saja menjadi pelampiasannya.


"Ini Tuan,"


"Menuntun kuda saja lelet, jalannya yang lebih cepat lagi dong," protes Arthur kepada laki-laki paruh baya itu.


"M-maaf Tuan," ucapnya dengan gugup, tidak berani bertatap muka dengan Tuannya sendiri.


"Tch, menyebalkan, kenapa mereka memperkerjakan orang yang jalannya lelet." gerutu Arthur, yang mana ucapannya itu pun masih terdengar oleh orang itu. "Hyah..!"


Ya, untuk mencapai tempat dari gudang di mana wanita tersebut disekap dia pun harus menjelajahi sebuah hutan.


Apa alasannya? Itu cukup sederhana karena di sekitar lapangan tembak itu ada sebuah pabrik terbengkalai dan di pabrik itu juga, ada sebuah ruang bawah tanah di mana Vina disekap di sana.


Tapi demi mencapai kesana, tentu saja sudah ada jalan yang bisa di tembus dengan sepeda motor.


Namun, karena Arthur sedang badmood jika harus menggunakan kendaraan tersebut, dia pun menggunakan kuda, sebagai kendaraan alternatif lainnya.


Ketika Artur berkuda, dia pun melihat beberapa orang yang sedang berjaga disana.


NGIIK....BRRR...


Tali pelana nya pun langsung dia tarik, agar kuda yang dia naiki itu segera berhenti.


"Tuan, apa latihan menembak anda sudah selesai?" tanya salah satu dari anak buah Arthur.


"Sudah, setelah aku ingat kalau aku punya peliharaan bagus untuk aku mainkan, jadi aku langsung menyudahinya begitu saja," cetus Arthur dengan nada cuek, karena dia memang tidak ingin di berikan banyak pertanyaan dari mereka yang menanyakan hal yang menurutnya sama sekali tidak berguna. "Apa dia masih hidup?"

__ADS_1


"Masih tuan, tapi saya rasa dia sedang dalam di kondisi terlemahnya, jadi tidak mungkin untuk di ajak bicara," jawabnya.


Begitu sudah turun dari kuda, Arthur segera pergi masuk kedalam pabrik terbengkalai itu, dan mencari jalan masuk kedalam ruang bawah tanah yang dia jadikan sebagai tempat alias kamar pribadi untuk Vina.


"Jadi seperti apa kondisinya sekarang?" tanya Arthur lagi.


"Itu- lebih baik anda memeriksanya sendiri, itu jauh lebih bagus ketimbang saya yang menjabarkan. Bukannya anda itu tidak suka mendengarkan dongeng yang tidak berguna?" sahutnya sembari memberikan sebuah sindiran yang cukup tepat sasaran dengan sifat milik Arthur itu.


"Ternyata kau ingat juga, aku ini tipe orang yang seperti apa. Tapi apa kau sudah memberikannya makanan?" seringai Arthur, karena rupanya salah satu anak buahnya ini sangat bisa di ajak bicara.


"Sudah, tapi semuanya dia muntahkan kembali." jawabnya.


Mendengar jawaban berikutnya itu, Arthur pun jadinya langsung mengernyitkan matanya.


Ketika orang lapar, saat di berikan makanan enak pasti akan di makan dengan lahap, tapi begitu mendengar kalau Vina memuntahkannya lagi, bukannya itu artinya adalah bentuk sebagai tanda untuk menantangnya?


"Heh, jadi begitu? Apakah wanita itu berpikir kalau aku memasukkan obat kedalam makanan dan minumannya? Cerdas sekali wanita itu, tapi sayangnya dengan bodohnya menolak makanan yang bisa membuatnya hidup, setidaknya sedikit lebih lama lagi.


Hei kau, coba bawakan aku makanan," tutur Arthur seraya memberikan perintah kepada salah satu anak buahnya itu.


"Baik, mohon tunggu sebentar," balasnya, kemudian dia pun bergegas pergi kembali ke arah mereka tadi masuk untuk membawakan makanan, entah makanan macam apa yang di minta sang Tuan muda, yang pasti karena ingin memancing Vina untuk makan, jadi dia pun akan membawakan makanan yang bisa dia bawa.


Dan kembali ke tempat dimana Arthur berada, begitu dia sudah berada di depan pintu besi, pintu itu tiba-tiba langsung di bukakan oleh kedua orang penjaga lainnya yang berjaga di sana, memberikan Arthur akses untuk masuk kedalam.


"Tuan, selamat datang," salam sapa mereka berdua secara bersamaan.


"Hmm," dehem Arthur, lalu sepasang matanya pun langsung menangkap keberadaan dari Vina yang masih terikat di atas tiang besi yang ada di depan sana.


Arthur dalam diam langsung berjalan mendekati Vina yang terlihat sedang tertidur?


Entahlah, karena yang pasti wanita ini jelas sudah kelelahan, makannya wajahnya pun begitu pucat.


"Vina, apa kau sedang tidur?" dengan senyuman miringnya, Arthur dengan sengaja menusuk-nusuk perut ramping itu dengan jari telunjuknya.


Respon? Ternyata tidak ada respon sama sekali seperti yang Arthur harapkan.


"Hei, apa kau tertidur? Bangunlah, aku bawakan makanan enak. Apa kau bahkan tidak mau makan di saat perutmu saja pasti sudah ingin di isi?" tutur Arthur sambil menyodorkan tangan kirinya, dan barulah sebuah piring yang berisi nasi, sayur dan sepotong kecil daging ayam yang berukuran ujung dari jempol milik Arthur mendarat di tangan Arthur.


"Ini Tuan,"


"Hei, apa yang kau berikan selama ini adalah makanan seperti ini?" tanya Arthur dengan dahi mengkerut.


"B-bukannya anda ingin menyiksanya? Maka dari itu, kami memberikan makanan dan minuman seadanya untuknya," jawab laki-laki berambut berwarna merah ini kepada Arthur.

__ADS_1


Artur pun terdiam. Apa yang di katakan anak buahnya itu memang benar, tapi Arthur merasa ada yang salah, apa harus sampai seperti ini?


'Sudahlah, kenapa kau begitu memperhatikan makanan yang akan dia makan? Kalau saja sekarang dia terus menolak untuk makan, atau bahkan sampai memuntahkannya di depanku, aku pastikan dia hanya punya jatah makan satu kali sehari.' pikir Arthur, dan dia pun segera mengusik Vina yang sedang memejamkan matanya itu.


__ADS_2