Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Debat Perasaan


__ADS_3

“K-kau Vina, aku ini sempurna dalam segala sisi, kenapa kau mengatakan kalau aku bukan levelmu? Apakah maksudnya aku bukan tipe idealmu?” tanya Vano, dia jadi mulai serius dengan perkataannya itu terhadap Vina. 


Vina mulai mencoba untuk mencari-cari sebuah alasan yang setidaknya masuk akal untuk menjawab perkataannya Vano. 


Lalu, salah satunya adalah dengan menjawab pertanyaannya Vano dengan sejujur mungkin. 


“Aku-, aku mengatakan itu bukan bermaksud kalau kau bukan level kalau kau bukan tipe aku. 


Kau sangat sesuai dengan tipeku, tapi permasalahannya bukan hanya di situ saja Vano,” Vina diam sesaat, “Kau punya sisi untuk mendapatkan wanita yang lebih baik dari pada aku. 


Dari segi penampilan, otak, kepribadian, sikap, dan initinya adalah value. 


Meskipun aku bisa di permak seperti yang kau katakan sebelumnya, bukan berarti bisa menambal kekuranganku yang banyak. 


Kau bukan orang yang bisa setiap saat ada di sisiku, dan aku tidak punya kepercayaan diri yang tinggi untuk menghadapi semua wanita yang biasa kau hadapi, aku banyak kekurangannya, sangat banyak. 


Jangan membuat aku terbebani dengan posisimu yang sesungguhnya itu.” Vina seketika menarik garis batas diantara mereka berdua. “Negara, keluarga, lingkungan, aku tidak punya keberanian untuk menghadapi orang dengan lingkungan yang ada di sekitarmu Vano. 


Permasalahanku bukan soal rasa suka saja, jadi jangan paksa aku lagi, aku benci ini. 


Aku benci mengatakan ini kepadamu, tapi benci, bukan kepadamu tapi melainkan pada diriku sendiri Vano!


Aku sama sekali bukan ada di level yang pantas untuk berada di sisimu, itulah yang aku maksud, kenapa aku menolakmu, sekalipun kau akan menyatakan perasaanmu puluhan kali.” beber Vina. Saking sulitnya untuk bicara sebanyak itu, Vina sudah memejamkan matanya di bantu dengan menutupi wajahnya dengan bantal. 


Dia sangat berat hati, kalau rupanya ada pria yang menyukainya. 


Tapi di satu sisi, dia sangat berat jika harus bersanding dengan pria seperti Elvano itu. 


Vina sungguh sadar diri, kalau dirinya itu sama sekali tidak panas di sisinya Elvano. 


“Jadi begitu,”

__ADS_1


“Iya! Makannya aku tidak suka ini. Jadi menyerah saja, aku tidak akan pernah menerima perasaanmu itu. Jangan ganggu aku, aku akan mencoba bisa sembuh secepat mungkin, agar aku bisa segera pulang ke rumah,” papar Vina. 


Tapi Elvano yang sudah punya keputusan bulat, entah apapun penolakan yang di lakukan oleh Vina, Vano akan tetap bersikukuh pada keputusannya sendiri. 


“Sayangnya-” dengan sengaja Vano menggantungkan kalimatnya, yang membuat Vina penasaran. 


‘Sayangnya apa?’ Vina tetap tidak berani untuk membuka bantalnya dari depan wajahnya itu. 


“Aku sama sekali tidak punya keinginan untuk mundur. 


Apa yang kau katakan, memang benar, kau tidak sesempurna yang kau jelaskan tadi. 


Tapi, memangnya kau berpikir kalau manusia itu benar-benar ada yang sempurna, ha?” sepersekian detik itu juga, Elvano merebut bantak dari atas wajahnya Vina dengan sangat cepat, sampai Vina membulatkan matanya dengan lebar. 


‘Apa?’


“Aku hanya kurang kau saja, apa kau sama sekali tidak mengerti? Yah, aku tidak akan memaksa kehendakmu yang akan terus menolakku, tapi aku sendiri juga tidak akan pernah berpikir untuk menyerah dari keinginanku sendiri, Vina.


Kau mengatakan sendiri tadi saat tidur, kalau kau jomblo. 


Vina mulai berlinangan air mata. Dia tidak pernah berpikir kalau suatu hari nanti, dirinya akan berdebat soal perasaan dan keinginan hati untuk memiliki seperti saat ini. 


Sungguh, itu di luar dugaan, tapi Vina sendiri sama sekali sadar dengan sosok Vano yang punya jangkauan lingkungan yang lebih luas, atau bahkan sangat luas, sampai Vina tidak mampu untuk menyamainya. 


“Aku tidak tahu. Tapi aku percaya kalau suatu saat nanti akan ada orang yang bisa bersamaku,”


“Nah orang yang kau maksud itu aku, Vin. Aku suka padamu, lagian masalah ini-” Vano menunjukkan jari telunjukknya kepada kepalanya persis, “kau bisa belajar pelan-pelan. Lagian ada Delvin, dia bisa mem-”


“Ini sulit Vano! Aku itu orang yang suka dengan suasana sendirii dan sepi, jadi jika aku bersanding denganmu yang punya banyak sisi yang berbanding terbalik dengan aku!


Kau tidak mengerti, kau sama sekali tidak mengerti perasaanku,” Vina yang tidak kuat untuk menahan perasaan sakit hatinya, pada akhirnya membuat dirinya sendiri menangis. 

__ADS_1


“Kau itu hanya takut, Vina.”


“Entah takut atau bukan, aku bukan orang yang bisa kau anggap kau aku ini mudah luluh karena kau punya segalanya seperti itu,”


“Hah~” di tengah-tengah suasana yang cukup canggung itu, Elvano tiba-tiba saja tersenyum, “Jadi maksudnya kau sedang menarik ulur denganku. Sekaligus menyatakan diri kalau bukan wanita gampangan, itu yang kau maksd dari semua pembicaraan ini, ya kan?


Jika ujung-ujungnya seperti itu, aku hanya punya satu kesimpulan sederhana, yaitu membujukmu terus sampai kau akhirnya menyerah dan memilih aku.”


DEG …


Tiba-tiba saja, Vina seperti baru saja terjerumus dalam lubang lain, selain masalah internal, antara Elvano dengan kakakknya yang membuat Vina terseret, satu lubang baru itu adalah soal permainan perasaan. 


Vano, ketika Vina melihat Vano yang terrsenyum sambil meatap terus ke arahnya, seketika itu juga dia pun sadar betul, bahwa Vano bersungguh-sungguh dengan perkataannya, untuk menaklukan Vina agar menjadi miliknya?


“Kenapa kau sampai sebegitunya?”


Masih terduduk di samping tubuhnya Vina, Vano tiba-tiba saja membungkukkan tubuhnya ke arah Vina. Menggapai wajah Vina dan membuat jarak wajah di antara mereka berdua pun semakin menipis. 


Nafas yang begitu hangat, saling menyapu bersih wajah mereka berdua ,dan menyebabkan konflik antar situasi yang sangat bertolak belakang.


“Karena aku memang tidak pernah bermain soal perasaan. Aku aku pada dasarnya memang menyukaimu, karena kau baik kepadaku. 


Yang aku butuhkan itu punya sisi seperti dirimu itu. 


Walaupun terdengar seperti alasan, tapi memang seperti itulah pada dasarnya aku menginginkanmu. 


Kau sangat berbeda dengan wanita lain, apa kau paham itu?” 


Vina dan Vano terdiam, matanya saling membalas tatapan satu sama lain. 


“Pasti ini salah satu trik godaanmu kan?” sedangkan di dalam hatinya Vina, dia sedang berteriak, ‘Jaraknya sangat dekat! I-ini sangat berbahaya. Aku memang pernah berharap kalau aku bisa punya pacar tampan, akan tetapi apakah kapasitas orang yang aku sukai punya ketampanan seperti ini?!

__ADS_1


Ini di luar konteks yang aku ekspektasikan semenjak SMP!


Apalagi dia menyatakan perasaan kepadaku? Yang benar saja, pria itu hanya bermulut buaya, aku tidak akan terpengaruh dengan godaannya itu!’ teriak Vina dalam benak hatinya. 


__ADS_2