
Hari demi hari di lewati seperti tanpa ada batasan waktu yang dia dapatkan untuk sekedar hidup bebas.
Ya, meskipun dia saat ini berada di dalam rumah yang cukup mewah, akan tetapi rasa tidak nyaman itu terus membelenggunya.
Hal pertama yang membuatnya tidak nyaman sebenarnya adalah, karena dia saat ini berada di dalam rumah orang lain.
Tanpa sepengetahuan oleh kedua orang tuanya, bahwa anaknya saat ini berkeliaran dan tinggal di rumah pria lain di luar negeri, hal itulah yang menjadi beban tersendiri untuk Vina, yang notabene nya adalah seorang gadis desa yang baru mengalami kerasnya dunia luar, yang bahkan lebih jauh dari kata tempat tinggal.
Selain soal tempat kenyamanan dirinya dalam menjalani hidup di rumah orang lain, dia juga punya masalah dalam mentalnya sendiri yang harus terganggu dengan banyaknya orang asing yang harus dia hadapi dalam kurun waktu yang singkat itu.
“Sudah berapa lama aku mengurung di dalam kamarku seperti ini?” Vina tidak menyangka, bahwa dia memilih untuk kabur dari pada menghadapi Elvano untuk membujuknya mengizinkannya pulang.
Setelah pertengkaran hati dan pikiran yang disertai rasa tidak puas terhadap Elvano, Vina sudah mengurung hampir setengah hari penuh.
Meskipun begitu, dia tidak pernah sekalipun melewatkan makan, karena dia sendiri memiliki penyakit maag.
Sedangkan sekarang, malam sudah kembali datang, dan Vina menghabiskan sebagian besar waktu untuk tiduran dan terus masuk dalam pikirannya itu.
“Aku tidak tahu, ternyata sudah jam setengah tujuh,” Vina bermonolog sendiri ketika dia kedapatan handphone nya berdering karena alarm sudah menunjukkan pukul setengah tujuh tepat. ‘Aku tidak tahu apakah sikapku ini keputusan yang tepat atau bukan, tapi mendengar dia pernah bicara dengan niat mengurungku disini dengan berbagai cara dengan seseorang lewat telepon, aku tiba-tiba jadi marah.
Tapi di sisi lain, dia sudah menyelamatkanku dalam berbagai situasi yang tidak bisa aku tangani sendirian.
Hmm, tapi aku juga harus sadar diri dengan posisiku.
Dia bukan orang yang cocok dengan perempuan sepertiku.
Kalau dia terus melakukannya, sampai kedua orang tuanya turun tangan, dan tiba-tiba melemparkan cek atau duit segepok ke wajahku, aku jelas akan milih uangnya saja.
Dari pada aku berselisih lebih banyak orang, mending aku pilih pilihanku yang satu itu, ya kan?’
Tapi, semua pikiran itu hanyalah berakhir dengan sia-sia.
Ketika Vina sedang merenung sendirian di dalam selimutnya, tiba-tiba suara ketukan pintu kamarnya pun terdengar.
“Nona, ini sudah jam makan malam, apakah anda akan terus makan di dalam kamar atau akan keluar makan di ruang makan?” pelayan yang sama.
Berdasarkan suara yang Vina dengar, dia sudah tahu kalau pelayan yang ada di depan kamarnya itu, sudah ketiga kalinya datang dan mencoba melayaninya sebisa mungkin.
“Aku akan makan di kamar saja,” jawab Vina, dia sedikit risih karena dari sekian puluhan tahun dia hidup dan tidak pernah di layani, justru sekarang dia seperti seorang tamu yang harus di layani dengan baik.
__ADS_1
“Baiklah, tapi bisa kan anda membukakan pintunya? Saya akan memasukkan hidangan makan malam kali ini.”
Vina yang tidak merasa curiga dengan apapun, segera beranjak dari tempat tidurnya.
Meskipun dia harus dengan susah payah untuk bergerak, gara-gara tangannya sakit, tapi dia tetap berusaha untuk pergi membukakan pintu.
KLEK …
“Terima kasih, kau bisa letakkan nampannya di sini saja, biar aku yang urus sisanya?”
Namun, semua perkataan itu seakan langsung menguap begitu saja saat pelayan yang seharusnya membawakan makan malamnya adalah seorang wanita, tapi tiba-tiba berubah menjadi seorang pria.
‘Tunggu, kenapa Elvano yang datang menunggu di depan kamarku? Apa-apaan dengan penampilannya yang terlihat seperti duke itu? I-itu-’ Vina yang tidak kuasa menahan keterkejutannya, isi kepalanya jadi kosong.
Dia cukup terpukau dengan penampilan dari Elvano yang memakai setelan jas formal yang biasanya di pakai oleh seorang bangsawan yang biasa dipergunakan dalam komik sebuah komik.
“Apa aku boleh masuk, Nona Vina?” tanya Elvano, tampang dari wajahnya yang tampak begitu lembut, membuat Vina sedikit tersentak dengan perlakukan Elvano terhadapnya.
Tapi, bahkan setelah dia bertanya minta izin terlebih dahulu, Elvano tetap saja masuk ke dalam kamarnya Vina tanpa menunggu jawaban, karena dia tahu kalau Vina masih cukup tercengang dengannya.
“K-kenapa kau memakai pakaian seperti itu? Memangnya kau mau kemana?” deretan pertanyaan itu langsung terlontar dari mulut kecilnya dengan wajah gugupnya.
Style pakaian eropa dari abad pertengahan yang biasanya di gunakan sebagai style dalam komik yang biasa dia baca, sangat cocok dengan pria tersebut.
Siapa lagi? Kalau bukan Elvano?
Elvano yang tampak begitu menikmati ekspresi wajahnya Vina hanya diam sesaat.
Dengan ekspresi wajahnya yang datar, Elvano berjalan masuk ke dalam kamarnya Vina sambil berkata, “Kemana lagi? Tujuanku kan hanya satu, yaitu datang ke kamarmu,”
‘Gila, apakah aku harus mendapatkan ujian seperti ini? Kenapa juga dia tiba-tiba memakai pakaian seperti itu?! Ini sangat berbanding terbalik dengan tadi siang.
Tadi siang dia seperti orang biasa, tapi sekarang dia malah seperti seorang bangsawan.
J-justru, dia seperti seorang duke?
Akhh! Kenapa aku bisa punya pikiran kalau dia adalah seorang antagonis dalam komik yang biasa aku baca?’
Keterkejutan Vina pun belum selesai sampai disitu saja, sebab dia bahkan melihat pedang yang biasanya di banggakan oleh seorang tokoh dalam novel yang Vina dambakan itu, ternyata di bawa di samping pinggangnya Elvano.
__ADS_1
Dia sempat berpikir, apakah itu pedang asli atau bukan.
“Sebenarnya kau itu siapa?” Vina yang sangat terpukul dengan suasananya sekarang yang tiba-tiba berubah seakan Elvano adalah karakter utama yang keluar dari komik yang dia baca, akhirnya bertanya dengan ekspresi bingungnya.
“Siapa lagi? Aku kan Elvano, pria yang kau selamatkan dari ambang kematian,” jawab Vano dengan lugas.
“Lantas, kenapa kau tiba-tiba berpakaian seperti itu?”
Elvano yang kebetulan memang masuk sambil membawakan nampan berisi makan malam yang harus Vina santap saat ini, segera meletakkannya di atas meja.
Tapi, begitu dia meletakkannya di atas meja, satu tatapan penuh dengan rasa penyesalan, tampak begitu membuat Vina terhanyut dalam melo drama yang di buat oleh Elvano itu.
“Apakah menjadi sosok yang kau suka, membutuhkan alasan lebih dari sekedar ini saja?”
Perkataan Elvano sejujurnya cukup menusuk.
Vina terdiam, dia mencoba untuk mencerna semua situasinya.
‘Baru juga bangun tidur, tapi ku tiba-tiba harus diperlihatkan pemandangan seperti ini.’ Vina cukup gugup berhadapan dengan Elvano yang sungguhan, cosplay yang Elvano lakukan benar-benar sangatlah sempurna.
Dari rambut hitamnya, iris matanya yang berwarna biru, pakaiannya, sepatu, pedang, bahkan bros serta sarung tangan hitam yang menjadi ciri khas dari pria yang suka dengan kerapian serta eksistensi keberadaannya yang begitu menonjol, jelas membuat Vina cukup kagum.
“Apakah aku cocok?” tatap Elvano, tatapannya yang begitu sendu saat melihat waja Vina, menyiratkan sebuah harapan yang cukup besar.
Vina lantas memandang Elvano dari atas sampai bawah.
Tidak ada yang kurang dari sosok pria di depannya itu.
Tidak dapat dipungkiri, dari penglihatan Vina, dia bahkan merasa kalau Elvano sama sekali tidak ada celah untuk mengungkapkan kekurangan yang tidak Vina lihat.
“Kau seperti pangeran yang keluar dari dalam komik,” puji Vina tanpa sadar, karena dia terlanjur untuk terpukau pada sosok Elvano.
“Apa itu artinya kau mengakui kalau kau akan jadi putrinya?” balas Elvano dengan terus terang.
Mendengar Elvano berkata demikian, Vina langsung terhenyak dan segera sadar dari lamunannya.
“Kau- masih belum menyerah?” Vina langsung merubah ekspresi wajahnya jadi serius. ‘Padahal aku sempat terpukau, tapi setelah dia bicara seperti itu, aku jadi langsung tahu, kalau tujuannya untuk mendekatiku lagi.
Aku ini memang lemah terhadap wajah tampannya itu, tapi jika dia bisa cosplay sempurna seperti ini, aku jadi sempat kehilangan akal sehatku.
__ADS_1
Dia benar-benar berbahaya.’ pikir Vina dengan khawatir.