Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
73 : Mual


__ADS_3

"Hah...hah...hah...,"


'Vina, apa dia harus mengeluarkan suara seperti itu di depanku?' Elvano yang mendengar suara nafas milik Vina benar-benar di buat seperti sedang mende*s*ah, sontak saja Vano pun jadinya semakin menundukkan kepalanya karena dia tidak ingin melihat wajah Vina.


Akan tetapi niatnya itu langsung Vano urungkan setelah tiba-tiba saja lengan tangan kanan Vano di colek-colek oleh Vina.


Toel....


"V-vano, aku ingin minta air hangat." pinta Vina.


"Bukan air es tapi air hangat?" tanya Vano setelah dia melambaikan tangan untuk memanggil seorang pelayan.


"Iya, kalau aku minum air hangat, rasa pedas ini akan hilang." jawabnya, dan memperlihatkan kalau ayam goreng yang Vina makan sudah sepenuhnya habis bersama dengan saos sambal. Dan sekarang Vina meminta air hangat sebagai penyembuh rasa pedas?


"Ada apa Tuan?" tanya pelayan ini kepada Vano.


"Berikan air hangat satu gelas besar." sahut Vano.


"Baik Tuan." pelayan ini pun segera pergi untuk mengambilkan air hangat.


Tidak berselang berapa lama, Vina sudah mendapatkan air hangat, dan kemudian segera dia minum.


"Bukannya jadi tambah pedas ya?" tanya Vano. Karena Vina hanya menginginkan ayam goreng, Vano pun jadinya ikutan. Dan di tambah dia pun melakukan hal yang sama dengan apa yang di lakukan oleh Vina.


"Iya, tapi efeknya lebih mujarab, apalagi saat air liur yang berlendir ini bisa di keluarkan, pedasnya bisa cepat menghilang." jelas Vina dengan begitu antusias. “Aku biasanya melakukannya di rumah, mengeluarkan air liur ini, lalu gosok gigi. Tapi aku tidak akan pernah melakukannya di tempat umum seperti ini.” 


“I-iya,” vano yang bingung harus menjawab apa, hanya bisa berkata demikian. “Setelah ini kau mau pergi kemana?”


“Aku sih maunya pergi ke taman yang ada banyak pohonnya. Tapi lebih baik pulang ke rumah sakit saja. Di sana juga ada taman kan? Jadi tidak perlu membuang banyak waktu untuk pergi ke taman. 


Lagi pula, bukannya kau katanya bekerja di sini ya?” 


Mendengar Vina malah tiba-tiba saja membahas soal pekerjaan, Vano pun jadi bingung harus menjawab apa. 


Sebenarnya dia bahkan sama sekali tidak bekerja. 


Bahkan mobil yang dia bilang menyewa dari orang lain, sebenarnya adalah salah satu koleksi mobilnya. 


“Iya. Tapi aku memang sengaja hari ini aku mengambil cuti, jadi tidak masalah juga jika kau memang ingin pergi ke taman kota.” sebuah alasan paling masuk akal pun datang juga. Elvano berhasil membohongi Vina dengan sempurna. 


“Begitu ya?” Vina tiba-tiba saja jadi terlihat murung. 


“Kenapa wajahmu tiba-tiba jadi murung?” tanya Vano. Tidak sengaja melihat ada saus di sudut bibirnya, Vano pun akhirnya mengangkat tangnanya dan meraih bibirnya Vina, yang mengakibatkan perempuan itu langsung terlonjak kaget. 


“A-apa? Kenapa tanganmu menyentuh bibirku?” Vina langsung menyeka bibirnya secepat kilat sebelum ujung dari jari jempol milik pria itu menyentuh bibirnya. 

__ADS_1


Vano tersenyum lemah, lalu menurunkan tangannya, ketika noda yang hendak dia hapus itu sudah lebih dulu di hapus oleh Vina sendiri. “Kau sudah membersihkannya sebelum aku melakukannya.”


“Ya seharusnya kau kan tinggal bilang saja, kenapa main sentuh?” tanya Vina dengan cepat. Meskipun dari ekspresi wajah yang dia perlihatkan adalah ekspresi wajah yang nampak marah, namun tidak dengan hatinya itu. ‘Haduh, h-hampir saja. Kenapa juga dia malah mau main hapus dengan menyentuh bibirku? Memangnya ini film drama ya?’ pikir Vina. 


Jantungnya sudah seperti mau copot, dan pelaku dari pemicu jantungnya tiba-tiba jadi berdebar dengan sangat cepat adalah Elvano ini. 


“Tapi biasanya jika orang lain menyentuh bibirnya sendiri sebagai kode noda di bibirmu, yang ada pasti kau akan menyeka bibir kanan, padahal yang di kodekan kan bibir sebelah kiri.”


“Ya ampun, kenapa kau bicara berbelit-belit?” protes Vina. Lalu nada bicaranya pun berubah menjadi berbisik dan kembali berkata : “Aku kan biasanya kalau di rumah, akan pakai ker-” tapi Vina langsung menghentikan ucapannya, karena dia baru saja membeberkan rahasia dari kebiasaannya kepada Elvano?


Sungguh?


Vina pun jadinya kebingungan sendiri, kenapa dirinya bisa bicara dengan gamblang kepada laki-laki yang belum lama dia kenal ini. 


“Kenapa tidak bicara lagi? Cepat, aku kan penasaran.” Vano yang baru saja menyelesaikan maka ayam gorengnya, langsung meletakkan tulangnya ke dalam wadah, dan melepaskan sarung tangan plastiknya lagi, setelah beberapa waktu lalu dia lepas untuk menyeka sudut bibirnya Vina, tapi tidak jadi. 


“Tidak, kenapa aku tiba-tiba jadi membicarakan kebiasaan ku kepadamu ya?” gerutu Vina sambil menggelengkan kepalanya. “Tapi mending aku pulang saja.”


Vina langsung mengalihkan topik pembicaraannya. 


“Pulang kemana?” 


“Sebenarnya sih pul-” belum apa-apa, Vina yang sempat melihat sisa tulang ayam yang di kumpulkan oleh Elvano di atas piring, serta melihat aroma parfum yang bahkan menyatu dengan restoran tersebut, rasa mualnya pun tiba-tiba saja kambuh. “Hue-” Vina dengan buru-buru langsung menutup mulutnya dengan tangannya. 


“Vin-” Elvano yang panik dengan Vina yang tiba-tiba saja mual, segera mengambil kardus dari wadah ayam goreng mereka, dan langsung meletakkannya di atas piringnya Vina. 


“Hueekk~”


“Eh di sana ada apa?”


“Dia muntah, apa dia sedang sakit?”


“Atau bisa saja dia sedang hamil?”


“Ya ampun, perhatian sekali suaminya itu?” 


Para pengunjung restoran yang sedang menunggu giliran itu, langsung mengalihkan perhatian mereka ke arah meja yang di pakai oleh Vina dan Vano. 


Terlihat, Elvano langsung mengusap punggung Vina, dan Vina sendiri terus memuntahkan semua makanan yang sudah sempat masuk kedalam perutnya itu. 


“Huekkk...huekk…” 


Vina sangat syok, karena indera penciumannya itu tiba-tiba saja serasa mencium aroma busuk, bangkai, dan ingatannya soal daging tikus yang sudah mulai diblatungi. 


Semua ingatan itu tentu saja jadi memicu alasan kenapa Vina jadi mual, karena semua memory itu terasa sangat nyata. 

__ADS_1


‘Kenapa aku jadi teringat dengan aroma, rasa, dan wujud dari tikus yang tergeletak di makan belatung?’ lagi-lagi memikirkan hal yang cukup menjijikan, Vina pun akhirnya kembali muntah. “Huekk~”


‘Kenapa Vina tiba-tiba saja muntah? Dia tidak diracuni kan?’ di sisi lain, Elvano malah punya pikiran negatif, kalau alasan Vina muntah bisa saja karena keracunan. “Vin, kita balik ke rumah sakit sekarang.” bujuk Vano. 


Vina menganggukkan kepalanya, tapi sebelum itu, Vina sempat merampas jus jeruk milik Vano yang masih tersisa seperempat saja dan meminumnya sampai habis. 


GLUK…GLUK…GLUKK….


“Hahh…, maaf, aku malah jadi merepotkanmu seperti ini.” Vina merasa bersalah sendiri, karena dia malah jadi mempermalukan dirinya sendiri juga Elvano di depan banyak orang seperti ini. 


“....” Melihat hal tersebut, Vano pun diam dan menuntun vina pergi dari restoran. 


Sambil menjadi pusat perhatian banyak orang, Vina pun berjalan sambil menunduk, seolah dia adalah seorang tersangka dari kasus kejahatan. 


“Semoga istrimu baik-baik saja ya.”


“Jangan-jangan kekasihmu itu hamil.”


“Pfftt, semoga ada kabar baik untuk kalian berdua ya.” 


Satu per satu dari perempuan cantik tapi sudah mempunyai anak, hanya bisa meledek dengan cara mereka sendiri agar suasana di antara dua orang pemuda itu tidak tegang. 


Dan benar saja, Vina pun telinganya sudah memerah, saking malunya. 


‘Hamil? Apa-apaan yang dikatakan mereka? Aku hanya merasa eneg. Dan tadi ada yang bilang kalau aku istrinya? Tidak-tidak, aku tidak mungkin jadi istri orang seperti Elvano. Di balik ingatannya yang menghilang, dia pasti punya segudang rahasia yang sebenarnya tidak bisa aku gapai.’


“Apa kau tadi mendengarnya? Lucu juga ya, mereka menganggap kalau kau istriku?” Elvano malah dengan sengaja mengungkit ucapan dari para pengunjung restoran itu. 


 


“Memangnya kau tidak terusik dengan ucapan mereka?”


“Kenapa aku harus terusik dengan ucapan mereka yang maha terdengar lucu?” tanya balik Vano, lalu dia pun membuka pintu mobil untuk Vina. 


Vina yang keduluan oleh Vano dalam membuka mobil, jadi salah tingkah sendiri. 


“Apa kau sudah merasa baikkan setelah keluar dari restoran?” tanyanya, ingin mengkonfirmasi tebakannya sendiri. 


Vina menjawab : “Iya. Apalagi setelah minum jus jeruk, aku sudah mendingan. Tapi rasa mualnya masih tetap ada, jika-”


“Jika apa? Kau bisa tidak, jangan bicara setenga-setengah begitu?” tanya Vano, dia kini sudah berhasil memasukkan Vina kedalam mobilnya. Akan tetapi Vano justru masih berada di ambang pintu dan membungkuk ke arah Vina yang sudah duduk itu dengan membuat tangan kanannya sebagai tumpuan, sehingga terlihat dengan jelas kalau Vano seperti orang yang seperti sedang memalak ke arahnya kan?


“Aku hanya merasa kalau indera penciuman dan perasa serta ingatan ini, merasakan sensasi hawa busuk daging. Makannya aku jadi merasa mual dan malah muntah di depan banyak orang seperti itu.” akhirnya Vina pun menjelaskan alasan di balik dirinya bisa muntah hebat seperti itu. 


Dan membuat jam makan siang untuk Vina, sudah tidak ada lagi, karena makanan yang sudah ada di dalam perut saja, sudah dikuras habis, yang tidak lain perutnya Vian pun kosong kembali. 

__ADS_1



__ADS_2