
"Katakan saja yang sebenarnya, Tuan Elvano, apakah dia kabur sendiri atau di bantu olehmu?" Tanya pria berambut pirang ini, dia adalah Delvin, anak buah Elvano.
Dia saat ini ada di salah satu klinik yang ada di sudut kota paris. Dan karena letaknya di antara pemukiman kumuh, bukan berarti tempat yang di kunjungi oleh Delvin ini memiliki tempat yang buruk.
Justru sebaliknya, karena penampilan luar adalah sebuah kamuflase, jadi terlihat seperti tempat biasa, maka di luar klinik yang nampak bobrok itu, sebenarnya di dalamnya tersimpan ruangan yang cukup bagus, rapi, bersih, juga lengkap dengan segala alat medis.
Dan itu adalah tempat terakhir di mana Tuan majikannya, yaitu Tuan muda Elvano menjalani operasi besar untuk pengangkatan peluru yang sempat bersemayam di dalam dadanya, sebelum akhirnya saat Delvin pergi ke tempat itu, majikannya sudah tidak ada di sana.
Dan laki-laki paruh baya ini, langsung menjawabnya. Meskipun dengan sedikit keraguan, tapi tetap dia akan menjawab apa yang di tanyakan oleh Delvin, karena mau bagaimanapun, Delvin adalah tangan kanannya Tuan Elvano.
"Sebenarnya Tuan pergi sendiri. Beliau kabur setelah tahu kalau ada anak buah dari kakak Tuan Elvano yang datang kesini, itu sebabnya saya sama sekali tidak tahu keberadaan dari Tuan muda," jawabnya.
Sebenarnya, setelah malam yang begitu menegangkan itu terjadi, tepat di saat dirinya melakukan aksi baku tembak dan melawan sang Tuan muda pertama, demi melindungi Tuan muda kedua yang dia layani, Delvin sempat hampir kalah dengannya.
Tapi, berkat seseorang, dia berhasil melukai Tuan muda pertama dan melarikan diri dari sana, tepat setelah insiden di mana Tuan muda kedua tertembak dan tercebur ke laut.
____________
Flashback On.
WUSHH.....
Angin dari malam hari di pinggir tebing itu berhasil menerjang tubuh Delvin yang mana lengannya bersimbah dengan darah akibat sudah berhasil kena tembak oleh Tuan muda pertama, setelah aksi baku tembak beberapa waktu tadi.
"Tuan," Panggil Delvin. Dia yang sekarang berdiri di pinggiran tebing, hanya bisa menatap laut berombak yang ada di bawah sana, dimana setiap ombak itu datang, maka akan menghantam tebing dan batu karang yang ada di bawah sana, sampai ombak yang sudah pecah itu langsung menciprat tubuh Delvin ini.
"Oi, Tuanmu itu sudah mati, tinggalkan saja dia, dan ikut jadi anak buah Tuan muda pertama saja." sampai satu orang laki-laki muda berusia kurang dari dua puluh tiga tahun itu, muncul dari salah satu batu besar yang ada di sana.
Dia adalah Dian, orang yang seharusnya menembak Tuan Alveno berdasarkan dari perintah Tuan muda pertama.
Tapi karena ada satu dua hal yang datang secara tidak terduga, mangsa yang harusnya menjadi bahan tembakan Dian, berhasil di rebut oleh orang lain lebih dulu.
Tapi meskipun begitu, dia berpikir kalau tugasnya tetap saja sudah berhasil di lakukan, karena pada akhirnya pria yang seharusnya dia tembak, memiliki akhir yang sama, yaitu terjun ke laut.
__ADS_1
"Jika kau punya niat untuk membuatku pindah melayani Tuan muda, simpan saja di dalam hatimu, karena aku tidak akan pernah mengkhianati Tuanku." Jawab Delvin, tanpa mengalihkan pandangannya dari laut lepas.
Dan Dian, dia pun tersenyum simpul, begitu mendengar jawaban yang menurutnya cukup lucu. "Padahal aku sedang menawarimu, selagi aku masih mengajakmu dengan baik-baik." kata Dian.
Delvin lantas meliriknya, dan menjawab : "Mau kau mengajakku dengan cara baik-baik atau kasar, aku tetap akan menolaknya. Karena dari awal aku sudah mendedikasikan hidupku untuk Tuanku,"
"Meskipun kau sudah punya luka seperti itu? Kau yakin jika kita bertarung ka-"
"Lebih baik aku langsung terjun dari sini dan mati tenggelam di laut ketimbang harus mati di tanganmu." Tekan Delvin.
Dian yang mendengar hal tersebut, hanya diam. 'Dia benar-benar sudah punya prinsip yang kuat. Walaupun dia lebih tua satu tahun dari ku, dan terlihat masih seperti bocah, tapi dari matanya aku tahu, dia bukan orang yang menganggap kalau ucapannya hanyalah omong kosong belaka.' pikir Dian, dia masih terdiam melihat Delvin terus berdiri di pinggir tebing. 'Tapi- setidaknya kita lihat dulu, apakah dia benar-benar lebih baik mati di laut, atau tidak.
Karena, jika dia memang mendedikasikan hidupnya untuk majikannya itu, dia seharusnya lebih dulu hidup untuk menemukan mayat pria itu lebih dulu. Jika benar-benar mati, baru dia bisa mati dengan tenang, ya kan?'
Dengan semua pikirannya itu, Dian pun langung berlari ke arah Delvin, dan seketika itu Dian langsung mendorong tubuh Delvin.
DRAP...DRAP....DRAP....
BUKH...
Hanya saja, di saat Delvin sudah di dorong kasar oleh Dian, Delvin dengan sempatnya, mengayunkan tangan dasi yang sudah terlepas dari lehernya dan langsung dia ayunkan.
SRET....
"Setidaknya aku akan membawamu dalam kematianku, Dian." seringai Delvin terhadap Dian.
"A-apa?!" Dan begitu ujung dasinya sempat berhasil melilit pergelangan kakinya Dian, Dian akhirnya terseret dengan Delvin menuju jurang laut kematian mereka.
BYURRR.....
_________
Flashback Off
__ADS_1
Setelah Delvin masuk kedalam laut, dia berhasil selamat, tapi tidak dengan Dian yang sudah menjadi mayat, karena sempat menghantam ombak dan tubuhnya pun terdorong ke batu karang.
Tidak seperti Delvin yang masih bisa berenang dengan selamat karena dia punya pelatihan fisik dengan jam terbang yang cukup banyak bersama dengan Tuan muda kedua, Dian hanya punya keahlian bertarung dan menembak saja.
Jadi mana yang lebih menonjol untuk bisa hidup, Delvin lah yang mendapatkannya.
Hanya saja, begitu dia bisa sampai ke pinggir pantai, karena kemampuan berenangnya, dia tidak sengaja melihat ada sepatu milik Tuan nya yang terdampar di pantai, serta dengan jejak kaki yang tertinggal, Delvin akhirnya berpikir kalau majikannya masih hidup.
Dari sanalah, dia terus menelusuri keberadaan dari Tuan nya, sampai dia menemukan lokasi transit sang Tuan muda kedua di sebuah klinik ini.
Tapi, kenyataan pahit yang harus Delvin hadapi, dia tidak menemukan sang Tuan, karena rupanya anak buah dari Tuan muda pertama, lebih dulu mendapatkan lokasi ini.
Dan di sinilah, titik buntu Delvin dalam pencarian sang Tuan muda kedua yang Delvin layani.
"Tuan Delvin, walaupun saya tidak tahu, saya pikir salah satu teman saya tahu." Dengan ekspresi wajah penuh dengan ketakutan, dia pun memberikan ponselnya ke Delvin.
Dan Delvin segera mendekatkan layar ponsel tersebut ke telinganya dan mulai berkata : "Coba katakan apa yang kau tahu soal Tuanku."
-"Tuan anda, dia sempat menyusup ke salah satu truk barang yang akan di kirimkan ke indonesia lewat jalur udara, Tuan."-
"Hmm? Bagaimana kau bisa tahu kalau truk barang itu adalah barang yang akan di kirimkan ke indonesia?" Tanya Delvin dengan lebih memojokkan si narasumber.
-"I-itu karena saya melihat petugas yang membawa truk itu adalah tentara Indonesia, apalagi di setiap truk itu ada bendera indonesia, jadi saya sudah berpikir dengan pasti kalau tujuannya adalah ke negara indonesia, Tuan."- Jelasnya dengan panjang lebar.
"Huh, memangnya kau tahu bendera indonesia itu seperti apa?"
-"Merah putih kan?"-
"Merah dimana putih di mana?"
-"Merah di atas dan putih di bawah."- jawabnya, dia percaya dengan ingatannya serta pengetahuan soal bendera indonesia warnanya apa.
Tapi, ada satu yang tidak di sadari oleh orang tersebut, tapi langsung di sadari oleh Delvin sendiri, sehingga Delvin pun menanyainya lagi.
__ADS_1
"Kalau begitu aku tanya sekali lagi, kau- yakin jika bendera warna merah putih itu berasal dari indonesia? Bukan dari Mo.na.co?" Tanya Delvin sekali lagi, membuat si nara sumber langsung kebingungan. "Di dunia ini ada dua negara yang punya bendera dengan warna yang sama, jadi kira-kira kau masih menganggapnya sebagai bendera Indonesia atau Monaco?!"
Geregetan dengan pria yang ada di ujung sana, Delvin akhirnya jadi bertanya lagi dengan nada sedikit berteriak.