Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Pendapat


__ADS_3

“Kalau ingin tahu, cepatlah menyingkir dari atas tubuhku," pungkas Delvin dengan nada ketus.


“Ah, iya, akh~” baru juga mau beranjak dari tempatnya untuk menyingkir dari atas tubuhnya Delvin, dia tanpa sengaja tangannya menindih pecahan kaca, yang membuat telapak tangannya sempat terluka, walaupun tidak begitu parah.


Tapi, di tengah-tengah Vina sedang di tekankan dalam perasaan yang sedang bercampur aduk antara sakit, berdebar, takut, tapi juga senang, sebab dia untuk pertama kalinya menindih tubuh seorang pria, tiba-tiba muncul seorang wanita dari salah satu kamar yang ada di apartemen tersebut.


"Siapa kalian? Tiba-tiba masuk ke dalam rumahku sampai jendela rumahku di rusak seperti itu?!" teriak wanita ini sambil membalut tubuh polosnya itu dengan selembar handuk.


Namun, meskipun begitu, keberadaan dari wanita ini seketika langsung membuat Vina jadi takjub, berkat kualitas dari body aduhai yang terpampang jelas dari atas sampai bawah itu, benar-benar sangat eksotis, dan membuat Vina iri.


‘Gila ya? Dia punya aset yang sangat montok begitu. Apa dia baru saja selesai tidur bersama dengan seseorang? Kenapa aku jadi tertarik seperti ini ya?’ curahan dari hati seorang jomblo pun datang juga, tidak kuasa menahan rasa ingin tahu miliknya dari si pemilik apartemen. 


"K-kami hanya berusaha menyelamatkan diri dari gedung sebelah." jawab Vina dengan perasaan gugup, sampai dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok wanita tersebut.


“Apa suara rintihan tadi artinya kau baru saja melukai dirimu lagi?” tatap Delvin. 


Mendapatkan tatapan dari pria yang ada di bawahnya persis, perhatian Vina pun jadinya teralihkan kepada Delvin yang terlihat tahu akan segalanya itu. 


Dengan senyuman tawarnya, Vina menjawab, “Hanya goresan kaca, aku tidak mempermasalahkannya kok,”


“Tidak masalah apanya? Akulah yang jadinya harus bertanggung jawab dengan lukamu ini juga,” tuturnya, seraya mencengkram tangan kanannya Vina yang ternyata memang benar-benar berdarah. 


DHUAR….


“Kyaa! Apa ada *******?! Jangan-jangan nanti setelah gedung itu, selanjutnya adalah gedung ini! Aku harus kabur dari sini!” pemilik dari apartemen yang di jadikan tempat pendaratan dari Delvin dan Vina pun berteriak kaget, dan berusaha pergi dari ruang tamu tersebut dengan serta merta sampai mengabaikan Delvin dan Vina yang berhasil merusak rumahnya itu.

__ADS_1


BRAK….


Pada akhirnya Delvin dan Vina pun di tinggalkan berdua oleh si pemilik rumah. 


Tapi ternyata bukan hanya perempuan itu saja yang ada di rumah tersebut, sebab di detik berikutnya, tiba-tiba saja seorang pria datang dengan ekspresi wajah penat.


“Huh? Kenapa mengacau sekali sih?” tanya pria ini, dia pun sama-sama keluar dari kamar yang baru saja di gunakan oleh perempuan tadi, dan berkata lagi, “Kalian nekat juga ya? Tapi sebaiknya tanggung jawab dengan jendela rumahku yang sudah kalian hancurkan, ingat? Karena aku sudah mengingat wajah kalian berdua, nanti aku akan mencari kalian sampai ke seluk beluk kota,” ucap pria ini dengan ekspresi mengancam, lalu laki-laki ini pun mengambil celana panjang dan jaket sebelum dia akhirnya pergi juga. 


BRAK….


Delvin dan Vina pun hanya diam sambil melihat kepergian dari dua orang tadi, sampai letupan dari salah satu lantai gedung sebelah, kembali membuat Vina terkejut.


DHUAR...


‘Padahal ini ideku sendiri, kenapa dia selalu berpikir kalau dirinya yang bersalah?’ dengus Delvin, lalu dia segera mengangkat tubuh Vina agar menyingkir dari atas tubuhnya dengan hati-hati. “Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu, pihak pengelola apartemen lah yang akan bertanggung jawab, jadi sekarang yang harus kita lakukan adalah pergi dari sini.” kata Delvin, tanpa memberitahu kepada Vina, bahwa empat gedung yang berdiri berjejer dengan begitu megah itu, sebenarnya milik dari keluarga Travers, dengan posisi sang Tuan muda kedua yaitu Elvano, sebagai pemegang hak waris dari marga Travers itu sendiri.


“Tapi-”


Mengernyitkan matanya dengan begitu tajam, Vina pun tidak sanggup untuk bicara lagi selain diam, karena sikap Delvin yang tampak begitu serius dengan perkataannya barusan.


Mendapati Vina akhirnya terdiam, Delvin pun menghela nafas dengan kasar, sampai secara kebetulan dia baru saja menyadari kalau Vina sedari tadi terus memegang pakaiannya terus akibat tali dari gaun Lingerie yang di pakainya tidak melorot. 


Baginya pemandangan seperti itu sudah cukup terbiasa, tapi tidak dengan Vina sendiri yang tampak sudah tersipu malu di bawah ketakutannya sendiri. 


‘Kenapa dia terus menatapku?’ Vina tidak bisa membalas tatapan matanya yang tampak begitu dingin, sehingga Vina tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan untuk keluar dari situasi yang cukup canggung itu. "Kenapa kau terus menatapku seperti itu?" tanyanya dengan wajah malu-malu.

__ADS_1


"Kau pasti sedang berpikir kalau aku tergoda dengan penampilanmu kan, hanya karena tali lingerie mu ini putus?" tanyanya dengan nada dan ekspresi yang dingin. Dia sebenarnya tidak begitu peduli dengan penampilan seksi seperti itu, sebab Delvin sudah banyak melihat wanita yang lebih cantik, ataupun seksi dari Vina, tentunya.


Dengan kata lain, Vina pada dasarnya memang tidak bisa di bandingkan dengan wanita lain, karena wanita di di depannya itu bagi Delvin sendiri, tampak biasa-biasa saja.


Tidak ada yang spesial sama sekali.


"Si-siapa yang punya pikiran seperti itu?! Aku bahkan tidak pernah berpikiran seperti itu. Ta-tapi karena kau berkata seperti itu, a-aku, ja... Jadinya punya pikiran itu juga," sahut Vina dengan sangat gugup sambil menepis tangannya Delvin yang hendak menyentuh luka di bahu kanannya Vina yang terjadi karena terserempet oleh peluru yang di tembakkan oleh Abel beberapa waktu lalu. 'Sebenarnya Elvano sedang pergi kemana? Kalau aku pergi dengan Delvin ini, apakah Elvano akan menemukanku?'


Lain hati lain pikiran, dan lain juga dengan sikapnya.


Semuanya benar-benar saling berkontradiksi.


"Hmm..." Delvin terus menatap Vina, dan dari situlah Delvin pun berpikir, 'Wanita sepolos ini sebenarnya apa yang membuat Tuan muda tertarik? Pendek, putih tidak, tidak pernah merawat tubuhnya sendiri, dan bahkan seorang yang cukup ceroboh.


Tapi bisa-bisanya Tuan muda menaruh perhatian lebih pada wanita sepertinya.


Memang ya, kalau sudah merasakan jatuh cinta, orang secerdas sang Tuan muda kedua pun akan sama-sama jadi seseorang yang bodoh juga.'


"Apa kau bisa berhenti menatapku seperti itu? Aku bisa-bisa jadi salah tingkah," gerutu Vina kepada Delvin dengan wajah malu-malunya.


Delvin menatap Vina dengan tatapan malas, hingga akhirnya Delvin pun menghela nafas dengan kasar.


"Sebaiknya kau ganti pakaianmu, karena setelah ini kita akan pergi keluar." papar Delvin, dan di jawab oleh Vina dengan anggukan.


 

__ADS_1


__ADS_2