Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
41 : Mainan Baru Itu Vina


__ADS_3

"Phuhh~" satu hembusan dari nafas yang mengeluarkan asap rokok itu, langsung membuat area di sekitarnya berasap, tapi tidak lama kemudian asap itu langsung menghilang karena terbawa oleh angin. 'Tuan muda Elvano, mau dimanapun kau, suatu saat pasti akan keluar dari persembunyianmu.' pikir pria bernama Abel ini.


Sambil berdiri di atas balkon kamarnya, dia pun berdiri menikmati pemandangan dari alam yang terasa sunyi itu sambil di temani rokok yang membuatnya terus merasakan sensasi nyaman ketika dia menghisap dan menghembuskan asapnya lewat mulut.


"Aku yakin kalau kau pasti akan terpancing dengan umpan yang bahkan tidak pernah aku beritahu kepadamu, ya kan?" ucapnya. Sekali lagi dia pun menghembuskan nafas dengan asap putih dari rokok yang di hisapnya itu.


Sampai ketika Abel melirik ke arah jam tangannya, dia melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.


Abel pun langsung memadamkan ujung rokoknya ke atas asbak dan kemudian dia pun pergi dari sana dan tidak lupa memakai mantel coat miliknya, karena meskipun bulan ini masih musim semi, tapi tidak mengartikan kalau suhu di malam hari tidak dingin.


Abel pergi keluar dari kamarnya untuk mengunjungi tawanannya yang ada di tempat lain.


KLEK....


Begitu pintu kamarnya terbuka, banyak wanita yang berlalu lalang sambil memeluk tangan pria lain, ataupun berjalan sendirian dengan membawa botol anggur di nampan yang mereka pegang.


Tidak seperti yang di bayangkan kalau dia sedang ada di hotel, ataupun rumah, dia sebenarnya berada di sebuah bar. Dengan kedok tempat bar, disana sebenarnya di bawah tanah adalah tempat dimana banyak orang berjudi.


Hanya saja, meskipun Abel pergi ke tempat seperti itu, dia bukan orang yang suka berjudi, dia hanya ada di sana, karena memang itulah tempat tinggalnya.


Dengan bangunan yang benar-benar punya kualitas kedap suara yang bagus, bahkan saat dirinya tadi berada di balkon, dia tidak mendengar apapun yang ada di dalam bangunan. Intinya di sana itu punya suasana yang sangat berkontradiksi satu sama lain.


"Abel, kau mau pergi kemana?" seorang wanita dengan pakaian seksi dengan gaun malam blink-blink berwarna merah marun, datang menghampiri Abel yang baru saja keluar dari kamar.


"Aku mau pergi menemui mainan dari Tuanku,"


"Ho? Maksudmu Tuan muda pertama itu? Memangnya dia punya mainan apa? Sampai kau mau pergi melihatnya, pasti sangat bagus ya?" sebenarnya niatnya ingin ikut dengan Abel pergi.

__ADS_1


"Tidak juga. Karena jika di bilang bagus, apa artinya kau menyebut kalau dia lebih bagus ketimbang dirimu yang cantik ini?" tanya Abel dengan senyuman yang cukup memikat, sampai di akhir kata itu, Abel pun sempat memberikan kecupan singkat di bibir wanita itu.


"Eh, jadi maksudmu mainan yang di miliki Tuan muda pertama adalah seorang wanita?" terka wanita ini. Dia sebenarnya jadi semakin penasaran, tapi kecupan singkat yang baru saja di berikan oleh Abel tadi, sudah menjadi isyarat untuk tidak boleh pergi bersamanya.


"Hmm, aku belum lama ini mendapatkan wanita dari desa. Dia tidak cantik, hanya saja dia cukup menarik perhatian, makannya aku mau menjenguk mainan baru majikanku." ungkap Abel.


"Tapi barusan, apa itu artinya dia benar-benar tidak lebih cantik dari pada aku?"


"Tenang, dia bahkan punya kulit yang berbanding terbalik denganmu, kau kan putih, mulus, terawat, bahkan punya aroma manis yang memanjakan hidung, jadi dia kalah jauh darimu. Aku pergi dulu," Lalu Abel pun mengusap ujung dari kepala wanita tersebut, sebelum dia akhirnya berjalan lebih cepat meninggalkan wanita itu di koridor tersebut.


'Tapi aku masih penasaran Abel, apakah yang kau katakan itu benar? Aku tidak rela jika kau justru menaruh perhatian lebih besar kepada wanita yang kau anggap jelek itu. Karena pada dasarnya, laki-laki itu bukan tertarik karena cantik saja, tapi juga menarik dalam artian lain.' seketika raut wajahnya itu pun berubah menjadi datar, cukup datar, membuatnya terlihat seperti baru saja menaruh dendam di dalamnya, padahal belum pernah melihat seperti apakah wanita yang di maksud oleh Abel itu.


__________


"Apa Tuan muda datang kesini?" tanya Abel kepada salah satu anak buah dari Arthur.


Sesaat setelah Abel masuk, lampu gantung yang terdiri dari pencahayaan minim berupa lampu bohlam berhasil di nyalakan, dan akhirnya bisa memberikan sedikit penerangan untuk Abel yang hendak pergi ke ruang bawah tanah.


"Apa dia sudah di beri makan?"


"Oh, tadi si kaka beradik kembar itu sudah datang dan membawakan makanan juga untuk wanita itu." yang di maksud adalah dua perempuan yang beberapa waktu lalu datang dan memberikan Vina makanan dengan cara paksa.


"Jadi artinya dia akhirnya mau makan?" tanyanya lagi. Dia berjalan cukup santai karena di sanalah tempat dimana dia merasakan kesunyian yang lumayan menenangkan.


"Iya, saya lihat piringnya bahkan sudah kosong," jawabnya lagi dengan wajah berpikirnya.


Abel yang tidak terlalu menganggapnya terlalu serius dengan apa yang di katakan oleh anak buahnya itu, hanya berharap kalau langkahnya bisa cepat sampai pada tujuannya.

__ADS_1


Dan setelah melewati lorong yang begitu lembab serta banyaknya lumut yang menghiasi dinding dari lorong bawah tanah itu, Abel pun langsung membuka kunci dari pintu besi tersebut.


Pintu besi yang sudah di perbaiki sehingga bisa di gunakan lagi.


"Vina, apa kau akhirnya sudah selesai makan malam?" tanya Abel, dia menyapa dengan menyebut namanya secara langsung, seakan dia sudah cukup akrab dengan wanita yang dia culik itu.


KRIEEETT.....


Begitu pintu besi itu di bukakan oleh anak buahnya, suara serta senyuman simpul yang sempat menghiasi bibir Abel itu, seketika sirna setelah melihat Vina yang benar-benar basah kuyup.


Tidak hanya itu saja, bahkan banyak makanan yang di berserakan di bawah, baik itu karena hasil muntahan, maupun murni karena jatuh ke lantai tanpa masuk kedalam mulutnya.


"Waduh? Kenapa lebih berantakan dari pada yang sebelumnya?" anak buahnya Abel pun sama-sama terkejut dengan apa yang terjadi di hadapan mereka itu. Betapa gilanya, menjijikkannya, dan kotornya lantai di bawa kakinya Vina itu.


Padahal sebelum ini tempat itu setidaknya cukup rapi, tapi tidak dengan yang kali ini, dimana tubuh Vina pun basah kuyup.


"Kau seharusnya tidak usah memberikan mereka berdua kesempatan masuk kesini, mereka itu suka usil," kata Abel kepada anak buahnya, lalu dengan cepat dia bergegas masuk kedalam gudang tersebut


"M-maaf, saya kan tidak tahu,"


"Setidaknya kali ini kau tahu apa yang suka mereka berdua perbuat, jadi jangan ada yang kedua kalinya," jawab Abel, langkahnya begitu lebar, dan begitu sudah berada di depan tubuhnya Vina yang menggantung, Abel dengan segera membuka kunci dari borgol yang mengikat kedua tangan Vina ke tiang besi, setelah terlepas, mata Vina yang nampak satu itu pun sesaat menatap mata Abel yang sekarang berwarna biru.


"Ang-" Vina yang hendak bicara itu, langsung terdiam sebelum akhirnya tubuhnya lebih dulu ambruk dan langsung di tangkap lebih dulu oleh Abel.


BRUKK....


Abel yang refleks berhasil menangkap tubuh Vina, sekarang dia jadinya terkejut sendiri, kenapa tangannya refleks menangkap tubuh dari wanita yang ia culik sendiri itu?

__ADS_1


__ADS_2