Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
78 : Tugas Penting


__ADS_3

"Kenapa diam? Aku ingin kau mencicipinya lebih dulu. Takutnya keasinan atau apa, kan kau dulu yang merasakannya. Lagi pula mulutku sedang sensitif, jadi kalau kurang sesuai dengan lidahku, aku pasti akan langsung memuntahkannya." kata Vina lagi sambil menyodorkan sendok yang sudah berisi bubur yang tadi dia ambil.


"Saya sudah mencicipinya Non, saya pastikan itu sesuai dengan selera anda." mencoba mengelaknya.


"Tapi aku kan ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri." jawabnya, masih bersikeras untuk membujuk suster tersebut untuk makan lebih dulu, setidaknya sesuap saja.


"Ak-"


"Nona! Apa mau sarapan pagi?" tanya pria ini, dia adalah bodyguard nya Vina yang datang dengan menyamar menjadi seorang pasien juga, dan tinggal di kamar sebelah.


"Eh? Kau siapa?" tanya Vina dengan rasa penasaran yang cukup tinggi.


"Saya adalah tetangga anda," jawabnya dengan singkat.


'Tetangga? Dari penampilannya dia seorang pasien juga. Tapi jika dia mengatakan dirinya adalah tetangga, berarti apakah dia orang yang tinggal di kamar sebelah? Aku sempat melihatnya bicara dengan seorang dokter Jason juga sih, berarti pasien itu adalah laki-laki ini?' pikir VIna dengan panjang lebar.


Sejujurnya Vina pernah melihat Jason masuk ke kamar inap sebelah, tapi Vina tidak tahu siapa pasien yang di rawat di kamar sebelah, karena waktu itu sosoknya terhalangi oleh tubuh Dokter Jason itu sendiri.


Dan ternyata, pasien tersebut adalah laki-laki ini?


Vina pun agak terkejut, karena tiba-tiba saja masuk dan menyapanya?


"Jadi ada apa ya? Kenapa kau datang ke kamarku?"


"Itu-" pria ini melirik ke arah samping kanannya, dimana suster tersebut sudah merasakan adanya ancaman besar, karena sudah ketahuan olehnya. "Saya punya sarapan yang tidak aku sukai, apakah Nona mau bertukar dengan sarapan milik saya?" sebuah alasan yang cukup simpel tapi juga mujarab.


"Memangnya sarapannya menunya apa?" tanya Vina, dia pun jadinya cukup penasaran sarapan apa yang di miliki oleh pasien yang satu ini.


"Semuanya serba sayur, saya tidak suka, karena kakak saya yang membawakannya. Semuanya serba tums, ada sushi juga sih, tapi saya juga tidak terllau suka dengan makanan yang ada daging mentahnya. Lebih baik saya makan bubur itu ketimbang sayur-sayur itu."

__ADS_1


Seperti anak kecil yang tidak suka dengan sayur, Vina pun jadi punya kesan tersendiri yang di perlihatkan oleh pria ini kepadanya. "Padahal kan sayur enak,"


"Tapi bubur ini sudah di masak khusus untuk Nona, apakah anda juga mengharapkan bubur ini juga? Kalau iya, saya akan membawakan untuk anda."


"Tapi Nona di sana, apakah anda ingin makan bubur itu juga?" tanya pria ini, mencoba membuat alasan lain yang lebih berbobot, agar Nona Vina tidak memakan bubur itu, makannya, dia pun mencari segala alasan demi menyelamatkannya.


"Sebenarnya tidak, aku ingin minum sup juga, tapi karena tidak ada sup, dan tidak mau bubur ini jadi mubazir, aku memang berniat mau memakannya."


Mendengar kata sup, pria ini langsung punya ide yang lebih brilian.


"Kakak saya juga membawakan sup, jadi anda bisa bertukar dengan saya, apakah anda mau?" tanyanya lagi dengan wajah penuh harap.


'Dia, apa dia kelaparan dan benar-benar menolak makanan yang di bawakan oleh kakaknya, sampai melihat bubur ini dengan sangat serius seperti itu?' Vina yang agak merasa aneh tapi juga lumayan terhibur dengan pertemuan mereka kali ini, akhirnya Vina pun mengangguk. "Aku mau, tapi aku tidak bisa turun, apa kau mau membakannya kesini?" tanya Vina.


"Tidak masalah, sini, aku akan membawa buburnya lebih dulu, anda tunggu di sini."


"H-hei, itu buburnya Nona, apa anda mau mengambilnya begitu saja?" mencoba untuk mencegat pria itu membawa makanan yang sudah dia persiapkan, dan apalagi yang di bawa bukan sekedar bubur saja, tapi semuanya yang ada di atas nampan itu langsung di sita oleh pria tersebut.


"Tapi tetap saja, it-"


Malas mendengar perdebatan di depannya, Vina pun langsung angkat bicara lagi : "Suster, itu kan sudah jadi bubur milikku, jadi tentu saja hak bubur itu ada di tanganku, mau aku buang atau di tukar dengan milik orang lain, itu keputusanku, kenapa terus mencegah bubur itu pergi dariku? Apakah ada sesuatu yang tidak aku ketahui di bubur itu?


Aku tidak mau berprasangka buruk, tapi melihat suster bersikap seperti ini, hal ini tentu saja membuatku curiga."


Setelah memberikan penjelasan dengan panjang lebar, suster tersebut pun langsung dalam posisi tersudut.


Tidak hanya suster tersebut, tapi pria yang menyamar jadi pasien ini pun agak terkejut juga dengan cara Nona yang dia jaga itu, rupanya bahkan punya presisi yang cukup tinggi dalam menilai keadaan di sekitarnya.


'Padahal aku pikir Nona ini adalah Nona yang polos dan akan mengiyakan semua yang di hidangkan. Tapi sepertinya aku salah menilainya.' kata hati pria ini. "Jadi, bubur ini boleh untuk saya kan?"

__ADS_1


"Iya, bawa pergi saja." kata Vina mengangguk.


Setelah di berikan izin, dia pun langsung membawa pergi bubur itu dari hadapannya VIna, dan segera membawa makanan yang dia punya.


KLEK....


"Bagaimana?" tanya dokter Jason kepada temannya itu.


"Carikan sup sekarang juga, apapun itu, karena aku sudah berjanji kalau akan ada sup juga untuk di tukar dengan bubur ini." jelas pria ini kepada teman-temannya yang menyamar dalam berbagai posisi, dari seorang perawat, OB, scurity, dan bahkan pasien seperti dirinya, mereka semua sudah berkumpul di depan kamar inap milik Vina, dan sedang berdiskusi.


"Aku akan mencarinya sekarang." salah satu dari mereka yang menyamar jadi OB pun langsung bergegas pergi untuk mencarikannya sup.


"Ini buburnya, coba cari tahu apa ada obat yang tercampur di dalamnya atau tidak," menyerahkannya kepada suster tersebut.


"Dan ini pesananmu pagi ini." seorang pengantar paket yang baru saja datang memberikan satu rantang lengkap, kepada bodyguard nya Vina yang menyamar menjadi pasien.


"Kak, kau datang di waktu yang tepat, tapi nanti buatkan lagi untukku ya?" senyuman lebar pun terlukis di wajah pria ini kepada si pria pengantar paket yang memang adalah kakak kandungnya.


Dia sebenarnya justru suka dengan sayur dan sushi yang di pesannya itu. Tapi karena alasan darurat, maka dari itu, dia pun merelakan sarapan paginya untuk Nona Vina terlebih dahulu.


"Terima kasih untuk ini." ungkapnya lagi.


Sang kakak pun memberikan jempolnya sebagai tanda iya.


"Aku akan masuk dan membawa wanita itu keluar." Dokter Jason, langsung menghadapi penyusup itu dengan caranya sendiri.


"Kalau begitu masuklah lebih dulu, aku akan menunggu sup nya sekalian," jawabnya, dia mencoba untuk menunggu satu menu lainnya yang sedang di cari oleh temannya.


Setelah masalah mereka sudah selesai karena sudah mendapatkan bagian mereka semua, mereka pun langsung bergegas pergi dari sana, kecuali scurity tersebut yang akan menunggu sang buruan kecilnya.

__ADS_1


"Ayo bubar, lakukan yang lebih baik dari ini!" ucapnya dengan bisikan kecil, tapi tangannya terangkat ke atas sebagai salam semangat mereka untuk menyemangati diri mereka dalam bekerja.


"Yhaa!" mereka semua pun sama-sama mengangkat tangannya ke atas dan menjawab ucapan dari bodyguard nya Vina dengan teriakan nada bisik.


__ADS_2