
Petang itu, menjadi jam dimana mereka berdua untuk pertama kalinya bisa makan malam dengan benar.
Vina, meskipun dia tidak mampu untuk menggunakan tangan kanannya, dia masih bisa makan dengan tangan kirinya, dan menikmati nasi goreng yang sudah lama dia idam-idamkan.
"Kau tidak butuh bantuanku?"
"Bantuan untuk apa?" tidak memperdulikan tangan kanannya Elvano yang ingin membantu menyuapi makanan untuk VIna. "Aku kan masih bisa makan sendiri dengan tangan kiri. Walaupun tidak sopan, tapi karena terpaksa, ini tidak jadi masalah untukku,"
Vano akhirnya mengepalkan tangannya dengan erat. Dia tidak bisa memberikan sedikit bantuan yang sebenarnya ingin dia berikan kepada Vina secara langsung.
'Dia bahkan masih bisa makan setelah semua kejadian ini. Apakah aku benar-benar terlalu mengkhawatirkannya?' pikir Vano, dia melihat Vina yang tampak makan dengan begitu lahapnya, sampai ketika piringya Vano masih tersisa nasi goreng yang justru masih utuh, maka miliknya Vina, justru sudah tinggal separuh piring saja.
"Ini sangat enak, aku baru pertama kalinya makan nasi goreng dengan toping selengkap ini, daging, sosis, sayur, yang bahkan tida pernah aku bisa makan sesuka hatinya.
Aku memang kesal, marah dan sangat jengkel sendiri, karena disini akulah yang terus jadi korban atas masalah pribadimu dengan kakakkmu, tapi aku tetap berterima kasih karena kau mau bertanggung jawab, mau menolongku sampai memberiku kesempatan untuk makan enak."
Setelah bicara seperti itu, Vina memandang satu suapan selanjutnya sambil tersenyum lemah, dan akhirnya menangis, karena dia tidak tahu harus bicara apalagi setelah semua unek-uneknya akhirnya bisa dia ucapkan ke depan orangnya langsung.
"Hiks, aku jadi ... benar-benar cengeng kan? Aku terus menangis di depanmu," ungkap Vina, dan menyuapi suapan miliknya ke dalam mulutnya sambil mencoba menahan tangisannya yang membuatnya jadi tampak sangat menyedihkan di depan pria sekeren Elvano.
"V-vin-"
Vano jadi tersinggung, dia ingin menyentuh wajahnya Vina, tapi entah kenapa dia harus berhati-hati untuk setiap tindakan yang dia lakukan kepada Vina, karena dia tidak mau membuat Vina lebih tidak suka kepadanya.
"Kau- Hah~ Aku benar-benar minta maaf, jadi membuatmu terseret ke masalahku, aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuatmu seperti ini," Vano pun berusaha untuk menjelaskannya dengan sebaik mungkin. "Ini semua karena kakakku, karena berkat dia tahu kalau kau yang menyelamatkanku, maka dia pun jadi punya alasan untuk membuatmu jadi targetnya.
Karena itu kau, dia pun jadi membuat semua ini jadi kesempatan untuk menjadi kelemahanku, kaulah yang jadi targetnya, sekaligus jadi kelemahanku juga."
'Aku juga tahu. Tapi aku justru tidak tahu kalau dia malah terlihat merasa bersalah seperti itu. Aku pikir dia bukan orang yang terlihat sangat peduli sampai sebegitunya.
Sebentar, dia bahkan terlihat ingin menangis? Tidak, kenapa laki-laki seperti dia mau menangis?' Vina yang lemah dengan wajah tampan, jadi terhanyut dengan suasana yang di ciptakan oleh Elvano tersebut, sebab memperlihatkan ekspresi wajah yang tidak perah diperlihatkannya sebelum-sebelum ini.
'Bagaimana lagi aku harus menjaganya? Ini bahkan bukan takdir yang aku inginkan. Hanya saja, setiap usaha yang aku lakukan untuk melindunginya, semua usahaku terasa sia-sia. Berkat anak buahku yang tidak becus, sekarang dia jadi patah tulang karena tertembak, padahal kan targetnya itu si Abel.
__ADS_1
Meskipun dia bicara seperti itu, di dalam hatinya dia pasti sudah benar-benar membenciku dari segala sisi. Menjaga satu orang wanita saja tidak becus, apalagi organisasi yang Ayah berikan kepadaku? Aku jadi sedikit ragu.
Tidak-tidak, aku tidak boleh ragu, jika aku ragu dan sampai membuatku kalah dari Arthur, maka semua usahaku akan jauh lebih sia-sia dan tidak berguna.' banyak sekali pikiran yang sedang berkumpul menjadi satu di dalam kepalanya.
Saking seriusnya, Vano pun jadinya tidak sadar kalau ekspresi penuh sesal yang dia buat itu, berhasil mencuri perhatiannya Vina, sampai sebuah tangan tiba-tiba saja menyentuh wajahnya Elvano.
"Kenapa kau menangis?" tanya Vina dengan nada lirih, dia sedikit malu dan ragu untuk bertanya. Tapi jika tidak seperti itu, dia justru jadi merasa bersalah karena membiarkan orang lain di depannya akan menangis sendirian.
'Apa? Memangnya aku menangis?' Elvano yang terkejut dengan sentuhan tangannya Vina yang begitu tiba-tiba itu, langsung tersadar dan segera menyeka air mata yang ternyata sudah hampir tumpah dari pelupuk matanya. 'Kenapa aku malah hampir menangis di depannya seperti ini? Aku juga ternyata bisa mempermalukan diriku sendiri di depannya.' pikirnya.
"Aku baru pertama kalinya, melihat orang dewasa sepertimu menangis," Vina bergumam dengan senyuman canggungnya, lalu menarik tangannya lagi sebelum dia bersentuhan tangan dengan tangannya Elvano.
Elvano yang baru saja menghapus ar mata yang siap tumpah dan membasahi pipinya, tiba-tiba mengalihkan topiknya untuk bertanya, "Kau tadi janji untuk cerita soal mimpimu, jadi apa yang kau mimpikan tadi?"
DEG....
Rona pipi di wajahnya Vina pun membuat Vano mulai keheranan.
"Itu, aku hanya mimpi-" Vina jadi tidak bisa menatap matanya Vano karena saking malunya.
_____________
ZRASSHHH ....
Air mandi yang begitu dingin, menciptakan rasa segar yang tidak ada bandingannya.
"Hahh~ Apa-apaan itu?" Vano bergumam dengan lirih, tapi matanya jadi tidak fokus, karena pikirannya itu terus terbayang dengan kisah lengkap dari cerita yang sudah dia dengar dari mulutnya Vina sendiri. "Delvin,"
"Ya, Tuan?" sahut Delvin, dia berada dalam kamarnya Vano, sedang bekerja di dalam kamar sang majikannya sendiri, karena dia tahu kalau si Tuan muda kedua yang sedang mandi itu, ingin menanyakan banyak hal kepadanya, oleh karena itu Delvin pun sudah ada di tempatnya.
"Apa kau pernah mimpi, tapi mimpi itu jadi kenyataan?" satu pertanyaan yang tidak pernah Elvano bayangkan sebelumnya, tiba-tiba jadi topik hangat untuk percakapan diantara mereka berdua.
"Hm~ Untuk pertanyaan yang satu itu, sebenarnya saya hanya bermimpi soal untuk strategi saya ke depannya. Jadi jika memang cukup efektif, saya akan berusaha untuk bisa terwujud," bahkan Delvi sendiri, sekarang jadi punya ekspresi berpikir, dan berusaha untuk mencari jawaban terbaik, sekalipun dia tidak bisa menjelaskannya lebih panjang dari itu.
__ADS_1
"Jadi mimpi dari semua strategi yang kau gunakan, apakah sering terwujud?" tanya Vano sekali lagi.
Sebenarnya alasan dimana dirinya malam-malam seperti itu mandi air dingin, karena begitu Vano mendengar alasan kenapa Vina bisa sadar dengan berteriak, saat itu juga Elvano langsung tersinggung sekaligus jadi terpengaruh juga, dan pada akhirnya membuat saudara yang sering bersamanya itu, tiba-tiba saja jadi bangkit karena saking senangnya.
"Ya. Meskipun ada beberapa yang gagal, tapi ada lebih banyak keberhasilan dari keputusan yang saya ambil dari hasil mimpi saya," jelas Delvin sekali lagi. "Tapi apa yanng membuat anda tiba-tiba bertanya demikian?" akhirnya Delvin pun bertanya balik seraya menatap pintu berwarna coklat itu. Yang mana di balik pintu itu, terdapat satu orang yang sedang mandi sekaligus bermeditasi.
Lalu orang yang ada di dalam kamar mandi itu sendiri, sekarang wajahnya sudah lebih merah dari pada sebelumnya, sebab dia jadi teringat dengan kata-kata yang sempat keluar dari mulutnya Vina itu sendiri.
"Karena, katanya kau berusaha setiap hari denganku sampai perutku terisi dan buncit."
BLUSHH~
Akal sehatnya Vano pun sudah putus di titik dari kalimat tersebut, dan membuat saudaranya itu malah menantang ingin mendapatkan lebih.
'Vina, apa kau tahu, sekarang aku jadi menginginkanmu? Atau aku wujudkan saja mimpimu itu suatu hari nanti?' terhanyut dalam pikiran untuk mendapatkan apa yang di inginkan nya, Elvano untuk pertama kalinya jadi bermain solo di dalam sana. 'Tapi jika aku ingin mendapatkanmu, itu sama saja membuatmu akan jauh lebih terlibat dengan semua musuh-musuhku. Apa yang harus aku lakukan?'
Sorotan matanya jadi semakin sendu, suara lenguhan yang tertahan di tenggorokannya, terus berlangsung lama begitu tangan kanannya yang biasanya dia gunakan untuk makan, bertarung, masak, atau apapun itu, sekarang malah dia gunakan sebagai ahli untuk memijat.
"Hah~ Hah~ Kalau aku memikirkan egoku, aku jelas ingin membawa dia bersamaku. Masalah penampilan fisik, itu bisa aku urus belakangan, yang aku harapkan bisa mendapatkannya lebih dulu sebelum orang lain.
Vina, ternyata kau bahkan sampai punya mimpi seperti itu denganku? Hahaha, aku akan kabulkan, aku pilih untuk mengabulkan mimpimu itu suatu hari nanti, dan itu ketika aku sudah membereskan kakakku sendiri.
Dengan begitu, maka tidak akan ada orang lain lagi yang bisa membahayakanmu. Hahahaa, hah~ hah~ hah~" punya satu keputusan sendiri yang sudah dia ambil serta bertekad untuk mengabulkan mimpi miliknya Vina, Vano pun semakin tertawa dan tersenyum penuh dengan kemenangan. "Hahahahaha, Delvin, aku akan membereskannya dengan cepat, dan akan mendapatkannya dalam waktu dekat ini, apa kau setuju?!"
Bersemangat sendiri di dalam kamar mandi, Delvin yang hanya mendengar bagian pertanyaan yang hanya di tunjukkan untuknya, hanya bingung.
'Sebenarnya apa yang sudah terjadi kepadanya? Baru kali ini, beliau jadi seperti orang gila. Tapi jika pertanyaan itu untuk kebaikan dan masa depannya, aku pikir itu tidak masalah.' maka dari itu, Delvin yang tidak tahu apa maksud dari pertanyaan sang Tuan muda kepadanya, Delvin pun hanya menjawab seadanya, "Iya, saya setuju saja, asal semua rencana yang sudah Anda dapatkan itu, bisa berjalan dengan lancar."
"Hah~ Ya, tentu saja akan berjalan dengan lancar, bahkan saking lancarnya, akan seperti jalan yang di lumuri oli," sahut Vano, di saat itu, tangannya yang sedang memijat pun semakin menambah kecepatannya dan sampai mata penuh gairah itu, justru membayangkan ada satu orang wanita di depannya yang sedang dia puaskan. "Sangat licin dan membuat semua halangan langsung bisa tersingkirkan sekaligus," imbuhnya.
Lalu tidak berapa lama kemudian, Vano pun mendapatkan puncaknya sendiri.
"Ukhh!"
__ADS_1
Delvin yang mendengar suara itu, tambah bingung. 'Apa itu suara milik Tuan?'