
KLEK....
Malam yang begitu tenang itu berakhir dengan tenang lagi.
Ya, bagaimana tidak, jika di jam tujuh malam itu, berharap ada sambutan dari si penghuni kamar, dia malah hanya mendapatkan kamar gelap yang menyiratkan si empu sudah tertidur, membuat Vano yang baru saja masuk itu, hanya bisa menghela nafas dengan kasar.
"Padahal aku membawakan puding untuknya, tapi dia sudah tertidur." bisik Vano. Di balik lampu kamar yang nampak remang-remang, terlihat ada seorang perempuan yang tengah tertidur dalam posisi miring ke kanan.
Namun rupanya, selimut yang seharusnya menyelimuti tubuhnya, kini justru malah menyelimuti lantai, karena kakinya yang tidak bisa diam itu.
'Dia kalau tidur memang seheboh ini ya? Selimutnya sampai jatuh.' Elvano memungutnya, dan mencoba meletakkannya ke atas tubuhnya Vina.
Tapi, begtu tangannya itu meletakkan selimut itu di atas tubuhnya Vina, tiba-tiba saja pergelangan tangannya di cengkram kuat oleh tangannya Vina.
GREP....
Elvano sontak terkejut dong, padahal dia berpikir kalau wanita ini sedang tertidur, tapi sekarang apa?
Mata yang tadinya semula terpejam, tiba-tiba saja sudah terbuka lebar, dan mulut yang tadinya tertutup rapat, langsung angkat bicara.
"Siapa?!" tanya Vina dengan nada yang begitu dingin.
Elvano sesaat terdiam sejenak, dan menjawab : "Elvano."
"....!" Sadar dengan suara dan nama yang baru saja dia dengar, Verina pun langsung mengerjapkan matanya dan menatap intens sepasang mata dari pria yang sedang berdiri memunggungi pemandangan dari monumen dari meara Eiffel yang ada di belakang sana.
Seorang pria tampan yang nampak punya segudang rahasia dan sifat kasar, di padukan dengan background cahaya yang menjauhi kegelapan di dalam kamar inapnya, sontak di mata Vina, pria ini jadi terkesan menjadi orang yang lebih serius.
melihat sosok pria yang ada di depannya itu Vina pun langsung melotot karena saking terkejutnya betapa tinggi dan besarnya dari tubuh pria yang sedang berdiri itu.
'Ya ampun aku pikir dia seorang penjahat aku jadi punya prasangka buruk kepadanya.' batin Vina dia jadi sangat bersalah karena punya prasangka buruk kepada pria ini secara diam-diam.
"Vina kau tidak apa-apa kan? kau terlihat sangat terkejut dan bahkan tadi kok sepertinya cukup waspada ya?" tanya elvano dengan terus terang dia pun sebenarnya diam-diam cukup terkejut karena Vina punya insting yang tinggi sampai membuatnya proses shock sendiri, gara-gara Vina yang tadinya terlihat tidur dengan pulas malah mencengkram tangannya siapa yang tidak kaget coba?
Vina yang tersadar dengan tangannya ternyata mencengkram pergelangan tangannya elvano dia pun langsung melepaskannya dan buru-buru minta maaf kepadanya.
__ADS_1
"Maafkan aku aku tidak sengaja. Aku memang punya kebiasaan seperti ini, kadangkala walaupun aku memang sempat tertidur pulas, aku pasti seperti merasakan ada seseorang yang selalu mengawasiku. Jadi aku pikir kau adalah seorang penjahat Maafkan aku aku jadi punya prasangka buruk kepadamu." ucap Vina dia pun menjelaskan apa yang dia rasakan saat ini kepada Elvano secara terus terang.
Elvano yang menyimak penjelasannya Vina pun merasa cukup karena rupanya wanita yang dianggap seperti wanita polos yang tidak tahu apa-apa ternyata memiliki insting yang cukup kuat untuk merasakan apapun yang ada di sekitarnya. Elvano salah satunya adalah sekarang ini Elvano untuk pertama kalinya mendapatkan kejutan seperti itu dari Vina.
"Tidak apa-apa kok jika kau ternyata punya kebiasaan seperti itu bukannya itu bagus?" puji Elvano agar Vina tidak merasa bersalah dengan tindakannya tadi.
"Begitukah?" tanya Vina.
Dengan senyuman rambut yang Terukir di bibir seksinya itu elvano pun menjawab dengan sebuah anggukan. terlihat kalau itu adalah ekspresi yang sungguh sangat tulus.
"Aku jadi penasaran Apakah orang ini juga akan memperlakukan orang lain dengan tulus seperti aku ini?" batin Vina dia masih tetap memperhatikan ekspresi wajah Elvano itu.
"Vina kau terus menatap wajahku seperti itu, jangan-jangan kau suka ya?" tiba-tiba suasananya berubah jadi sebuah canda untuk Elvano sendiri, dan hal itu pun membuat Vina langsung tersinggung karena ucapannya memang benar dia menyukai wajahnya Elvano.
'Sungguh betapa menariknya melihat wanita polos ini tersipu malu di bawah lampu kamar yang remang-remang seperti ini' batin Vamo.
Suasananya sungguh berbeda apalagi di depan sana ada pemandangan yang cukup menyita perhatian yaitu menara Eiffel yang memperlihatkan betapa indahnya kelap-kelip lampu.
'Tapi mengapa pikiranku ini tiba-tiba jadi mengarah ke arah sana ya? Kalau kaku dan dia, berdua di dalam hotel rasanya itu adalah hubungan yang sudah memiliki makna yang cukup berbeda daripada ini. suasananya memang sudah cukup pendukung lampu Pun remang-remang dan di sana pada pemandangan yang selalu dilihat oleh banyak orang.
Namun dihadapkan dengan kenyataan miliknya lagi, dia pun harus mengubur imajinasi itu secara dalam-dalam agar tidak ketahuan oleh Vina.
"Apa kau mau ini?" tanya Vano sambil memperlihatkan sebuah kotak kepada Vina yang masih terbaring tidur.
"Itu apa?" Vina memperhatikannya dengan seksama.
"Cobalah bangun kita makan ini sama-sama kau akan ketagihan kalau memakannya sekali aku jamin itu." Alfana pun menarik meja yang ada di ujung tempat tidur tersebut ke hadapannya Vina.
Setelah itu elvano pun meletakkan puding itu di atas meja tersebut. Tapi karena masih disimpan di dalam kotak, Elvano pun harus membukanya seperti membuka hadiah. Vina pun terus memperhatikannya sampai akhirnya makanan yang dimaksud oleh alvano pun terlihat.
"Wow itu ****** kan apa ini yang kau maksud tadi? Soal ketagihan?" tanya Vina dan Elvano pun memberikan sebuah anggukan.
Namun yang paling menarik perhatian havina sendiri adalah kenapa bentuk puding itu nampak sangat familiar?
"Tapi kenapa aku jadi malu sendiri ya padahal cuman puding?" kumamon dari Vina pun membuat Elvano terkekeh.
__ADS_1
Pasalnya puding tersebut itu seperti gunungan kembar yang biasa dimiliki oleh wanita pada umumnya.
"Hahaha aku juga mendapatkan ini karena aku menitip kepada temanku. Dan aku malah diberikan yang punya wujud seperti ini. Apa kau masih mau memakannya? Kalau tidak mau ya aku akan memakan semuanya." tutur elvano seperti sedang mempermainkan pikirannya Vina sendiri.
"Aku mau kok. Yang penting rasanya, aku tidak akan memikirkan bentuknya lagi yang penting itu enak dan manis kan?"
"Iya manis kok aku juga sudah pernah merasakannya." namun saat elvano menjawab pertanyaannya Vina, tapi alvano sendiri malah menatap ke arah Vina, hal itu pun membuat Vina langsung punya persepsi sendiri yang cukup konyol kalau yang dimaksud Elvano soal manis itu bukan pudingnya.
'Kenapa ucapan orang ini selalu punya makna lain ya? Apakah cuman pikiranku saja yang selalu kotor ini?' Fatin Vina dia pun jadinya tidak bisa menatap elvano lama-lama karena alvano sendiri terus saja menabraknya hal itu membuat Vina benar-benar cukup tersinggung sendiri.
Setelah beradu mulut dan beradu tatapan Elvano pun mengambil sendok kecil untuk mengambil puding tersebut.
Namun Alfano yang tiba-tiba memotongnya menjadi dua, Vina sontak jadi merasa ngilu kalau yang dipotong itu bukan puding.
Bulu kuduknya pun jadi berdiri gara-gara melihat pemandangan tersebut.
"Nih coba makan. Kau cicipi dulu apakah enak dan sesuai dengan seleramu?" Elvano pun memberikan suapan pertama kepada Vina. Sedangkan Vina yang tadinya ingin merebut sendok itu dari tangan Elvano, Elvano langsung mengangkat sendoknya lebih tinggi.
"Sini aku ingin makan dengan tanganku sendiri saja tidak usah disuapin memangnya aku ini anak kecil?" ungkap Vina.
"Sudah turuti saja tidak usah banyak bicara cukup bilang nanti aku masukkan."
'Masukkan apa? Kenapa dia selalu saja seperti itu? Aku selalu dibuat salah paham dengan ucapannya itu!' kata hati Vina dengan teriakan yang tidak bisa didengar oleh orang lain bahkan elvano sendiri karena hanya dirinya saja yang bisa mendengarnya.
Namun pada akhirnya Elvina pun membuka mulutnya lebar-lebar dan saat itulah evana pun menyuapi suapan pertama itu ke dalam mulutnya Vina.
"Nyam Nyam Nyam"
Vina langsung memejamkan matanya betapa nikmatnya rasa manis yang cukup meleleh di dalam mulutnya, bahkan kelembutan itu membuat Vina seperti berada di atas awan.
"Ini sangat manis sekali tapi ini cukup enak. kalau saja jumlah gulanya separuh dari rasa manis ini ini akan jadi sangat pas." Vina jadinya berkomentar dengan rasa yang sudah dirasakan oleh lidahnya sendiri.
Elvano yang sejujurnya adalah orang yang membuat puding tersebut, secara tidak langsung dia pun mendapatkan komentar yang cukup bagus dan akan memperbaikinya di kemudian hari nanti.
'Padahal aku membohonginya, kalau sebenarnya ini puding buatanku. Tapi ternyata dia benar-benar percaya ya? Tapi untunglah kalau dia suka, aku jadi turut senang melihatnya, dan untuk yang kedua nanti aku akan menurunkan jumlah gulanya agar tidak terasa kemanisan seperti yang dia katakan itu.' Elvano pun jadi bangga dengan dirinya sendiri karena puding buatannya akhirnya bisa dimakan oleh Vina saat ini juga.
__ADS_1