
Saat-saat perampok itu mengganas di kampungnya, Wiratama terlambat untuk mencegah, karena ia baru kembali dari menghadap Adipati di Luragung.
Kobaran api melahap rumah-rumah penduduk yang terbuat dari papan-papan kayu Pinus yang banyak betebaran di kaki Gunung Ciremai. Jerit tangis wanita dan anak - anak mewarnai malam mengerikan tersebut. Wiratama tidak merasakan lelah yang mendera nya akibat dari perjalanan, karena saat dia kembali, ia melihat dari depan kampungnya nyala api yang demikian besar dan mendengar teriakan suara warganya .
__ADS_1
Wiratama segera berlari dengan cepat melewati jalan pengawal-pengawalnya, "Brodin bawa yang lain untuk segera memeriksa keadaan kampung, aku akan mendahului melihat kesana", teriakannya keras memerintah pengawal-pengawal yang berada di belakangnya. Brodin tidak menjawab teriakan perintah dari Sang Kuwu, diapun merasakan was-was dan khawatir dengan keadaan kampung, maka dari itu Ia ikut berlari bersama kawan-kawan yang lain untuk menyusul ke dalam kampung.
Sesampainya di tepi perkampungan, Wiratama melihat beberapa pria yang tidak dia kenal sedang berteriak dan tertawa terbahak -bahak, "mampuslah kalian penduduk Jalaksana, hidup kalian hanya cukup sampai hari ini". Orang-orang tersebut bertampang sangar dan mengerikan, tangan mereka membawa obor yang masih menyala dan membakari rumah-rumah penduduk. Sebagian dari mereka membabat siapapun yang keluar dari rumah-rumah, tidak peduli kaum wanita ataupun anak-anak. Golok-golok mereka yang terhunus masih meneteskan darah segar, terlihat oleh Wiratama karena pantulan cahaya dari api yang membakar rumah penduduk.
__ADS_1
Ke delapan orang tersebut jatuh berlutut, golok-golok mereka terlepas, raut wajah mereka ketakutan dan tak mengira, hanya karena pekikan tersebut mereka tak berdaya, Wiratama mengangkat salah satu orang tersebut ke atas melewati kepalanya sendiri, lalu ia mengambil salah satu golok dengan cara menjungkit dengan kaki kanan, golok tersebut terlempar ke atas dan di tangkap tangan kiri Wiratama. Tanpa mengatakan apapun ia memenggal kepala orang tersebut, "classh...dug..kepala tersebut jatuh ketanah dengan mata yang masih terbelalak. Tubuhnya masih di angkat oleh Wiratama, dari leher itu memancar darah yang deras, sampai - sampai memercik ke tubuh Wiratama dan ke tujuh orang yang masih berlutut di bawah.
Wiratama lalu menendang tubuh itu ke kobaran api yang masih menyala. "Kalian tidak mengharapkan aku bertanya kembali?" dan berharap memenggal kepala kalian satu persatukah?" Orang-orang yang berlutut mengelilingi Wiratama masih belum siap menjawab pertanyaan tersebut. Wajah mereka terlihat ketakutan, Wiratama mendatangi kembali seseorang yang berada di kanannya, kemudian mengibaskan telapak tangannya ke samping dan mengenai kepala, "dakkkk....suara retakan tulang tengkorak terdengar, darahpun kembali menyiprat ke tubuh-tubuh yang masih terpana menatap tanah.
__ADS_1