Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Kabut Hitam Nusakambangan X


__ADS_3

Wiratama kemudian bangkit dan melihat ke sekitar, "Aruna bagaimana kalau kita berjalan-jalan ke atas untuk melihat laut?"


"Terserah kaulah Cinta, kemanapun kau pergi, aku akan ikut!" Aruna masih bergelayut manja di lengan Wiratama.


Kemudian Wiratama berjalan menyusuri dasar lembah Nirbaya, dan berupaya naik ke atas lembah, entah sudah berapa purnama dia tidak melihat pemandangan di atas.


Hanya dengan tolakan sedikit dari kakinya, Wiratama melesat ke atas dengan cepat, sedangkan Aruna sendiri sudah menghilang membayang-bayangi Wiratama.


Wiratama belum mengetahui perkembangan dan situasi di Pulau Nusakambangan, dia berjalan santai melihat-lihat pemandangan sekitarnya. pandangannya melihat benteng-benteng dan parit yang telah di bangun sepanjang garis pantai.


Di atas benteng-benteng kayu, terdapat pos-pos tempat para penjaga mengawasi, seperti pada saat ini, beberapa orang yang berada di pos penjagaan, mengamati Wiratama yang sedang berjalan menyusuri tepian pantai.


"Heiii...Kisanak berhenti!" beberapa penjaga dari pos lain pun kemudian mendekati Wiratama, terhitung ada sepuluh orang yang mengitarinya.


Melihat penampilan Wiratama yang aneh dan berbeda, merekapun berseloroh dan mengejek, "Kau terlihat seperti Kuntilanak! sedang apa kau disini? apakah mencari makanan dari bangkai-bangkai ikan yang terdampar?"


"Ha...Ha..Ha..sepertinya benar sekali perkiraanmu Kang!" teman-temannya yang lain tertawa mendengar selorohnya.


Wiratama tersenyum memandang mereka dan menjawab dengan selorohnya juga, "benar apa yang kalian katakan, tapi bukan bangkai ikan yang aku cari, aku mencari bangkai manusia yang bisa ku telan mentah-mentah!"


Mendengar jawaban dari Wiratama yang terdengar mengejek, membuat mereka naik pitam "Kurang ajar! berani sekali kau mempermainkan kami, tangkap dia!" salah satu penjaga itu memerintahkan penjaga yang lain untuk meringkus Wiratama.


Beberapa orang mencoba menangkap, dan mengitari, agar orang yang berani mengejek mereka tidak sampai melarikan diri.


Di saat tangan-tangan mereka sudah dekat, Wiratama mengibaskan rambutnya, "Traash...Traash...ujung-ujung rambut putihnya melesat menotok leher-leher mereka, membuat beberapa orang yang mengitarinya berdiri dengan kaku dan tidak mampu bergerak.

__ADS_1


Sisa dari para penjaga yang akan menangkapnya secara spontan bergerak mundur, "Kau..Kau...Ternyata Siluman betulan!"


"Sedari tadi sudah aku katakan, aku memang siluman, "Haiikh...desh...desh!..totokan jari-jari Wiratama berkelebat menotok leher mereka, membuat mereka pun senasib dengan penyerang awal, kemudian Wiratama meninggalkan mereka dan melanjutkan perjalanannya.


Penjaga-penjaga yang masih berdiri di pos-pos atas bersiap menarik busur-busur panah, bersiap untuk membidiknya.


Wiratama berjalan dengan santai sambil memutar-mutar seruling di jarinya, tidak lama kemudian terdengar suara seruling yang merdu dan menggetarkan hati yang mendengar.


Suara seruling itu membuat para penjaga yang nyaris membidikan panah mereka tertegun, mereka kemudian menangis terisak-isak dan jatuh berlutut, air mata mereka kemudian berubah menjadi air mata darah, dari lubang telingapun mengalir rembesan darah. dan perlahan-lahan mereka terjatuh ke bawah.


Wiratama sendiri tertegun melihat para penjaga tersebut jatuh dengan mata dan telinga yang mengeluarkan darah, "Aruna apa yang terjadi pada mereka?"


Terdengar suara tanpa wujud berkata kepada Wiratama, "Hik...Hik...Hik..Seruling ini bukan hanya mampu menggetarkan sukma, tetapi bisa menjadi perenggut sukma buat mereka yang menjadi lawan-lawan kita!" Wiratama menarik nafas saat mendengarkan keterangan dari Aruna, ia tidak mengira kemampuan seruling itu bisa membunuh seseorang dengan cara yang sadis.


"Baiklah Aruna, kita akan berlayar dengan perahu yang berada di sana!" kemudian Wiratama berlari dengan cepat menuju Kapal yang lumayan cukup besar.


Kebetulan Angin meniup dengan arah menjauhi Pulau, kapalpun mulai bergerak dan berlayar menuju lautan luas.


Dua pasang mata memandang kepergian Wiratama, mereka adalah Moksa Jumena bersama Rakyan yang baru tiba setelah menerima tanda dari penjaga sebelum mereka tewas.


"Hmm...mudah-mudahan ia tidak kembali ke sini lagi Rakyan! aku rasa kita belum tentu bisa mengalahkannya, sementara Hulubalang Keling masih belum mau membantu kita!"


"Apakah kemampuannya begitu menakutkan Kakang?" Rakyan mencoba menanyakan lagi dan memastikan.


"Aku memang baru merasakan satu kali bertukar serangan dengannya, tapi aku merasakan ada suatu kekuatan yang besar tersembunyi di tubuhnya!" Moksa Jumena menjawab pertanyaan Rakyan sambil pandangannya terus mengawasi Kapal yang di tumpangi Wiratama.

__ADS_1


Separuh hari telah berlalu, Kapal yang di awaki Wiratama seorang diri melaju dengan lambat dan mulai berada di tengah, terlihat beberapa Kapal dari jauh mendekati dengan cepat, tiga lesatan anak panah terlihat di udara, membuat Wiratama bertanya dalam hati, "Hmm...anak panah sandi, ku rasa ia memberikan tanda kepadaku untuk menjawab sandi mereka, apa yang harus ku jawab?"


Wiratama merasakan sepertinya akan terjadi sesuatu terhadap dirinya jika tidak menjawab sandi tersebut, tetapi ia bukan salah satu dari mereka, membuatnya tidak dapat menjawab kata atau tanda jawaban buat mereka.


Berapa lama kemudian "Srrraaath...Sraaath...beberapa panah api melesat mengarah ke layar kapal yang di tumpanginya, "Hiaaath...Wush...Wussh...serangkum angin dingin keluar dari kibasan lengan Wiratama, membuat anak-anak panah tersebut terjatuh di permukaan laut.


Karena mendapat serangan, dengan hati penuh tanda tanya, Wiratama mengeluarkan Aji Badai Gunung Ciremai, di arahkan ke udara "Hiiiaaath...Blaaarh..Blaaarh....!


Tenaga dalam Wiratama saat ini begitu sempurna, membuat pukulan Badai Gunung Ciremainya menjadi bertambah kekuatan berlipat-lipat dari sebelumnya..


Angin panas yang bercampur percikan api menerabas ke udara dan menimbulkan suara bergemuruh, membuat Kapal-kapal yang akan berniat mengepungnya tertahan setelah melihat akibat pukulan yang di lontarkan Wiratama.


Ada sebuah pemandangan yang menarik perhatian Wiratama dari salah satu kapal yang mendekat, terlihat di anjungan kapal tersebut, seorang anak muda dengan rambut berkibar sedang membentangkan kedua lengannya, "Hiaaath....Nagaa Langiiit...!....teriakanny terdengar keras


Permukaan air laut yang tadi hanya terlihat riak kecil, sekarang berubah menjadi ombak yang besar, bergulung-gulung dan menerpa kapal yang di tumpangi Wiratama.


"Braaash...Braaash!...gelombang datang dari arah depan kapal, membuat kapal itu melonjak ke atas mengikuti ombak yang datang. air laut terpecah dari ujung kapal "Byuurh...! membuat tubuh Wiratama basah kuyup.


Wiratama bergumam dalam hati "Hmm...aku hapal siapa yang mempunyai kekuatan ini, dengan tersenyum kemudian Wiratama mengeluarkan Aji Bayu Saketi...di arahkan ke permukaan laut. "Hiaaath...Blaaarh...Blaaarh...Pusaran air akibat Bayu Saketi menabrak kekuatan Ombak yang menerpa di depan. Membuat Kapal-kapal yang berusaha mengepungnya terseret menjauh.


***** Untuk Reader ****


Mohon jangan hanya sekedar lewat, luangkan waktu kalian untuk me Like dan memberikan Vote ke chapter ini, karena kami liat yang lewat di tiap chapter tidak kurang dr 5000, agar kami bisa melihat dan menghitung antusias para Reader kepada kisah ini.


Jika memang tidak terlalu banyak yang menyukai, kami akan mengapload hanya Seminggu sekali....Beribu permohonan maaf jika ada yg di kecewakan....

__ADS_1


__ADS_2