Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Dua Hati


__ADS_3

Putri Retno Ningsih masih terduduk menyandar di bangku panjang taman keputren, di sampingnya Nyai Gendispun duduk sambil memandang ikan yang berada di air kolam, "Diajeng, apakah kau mengenal Kangmas Wiratama dengan dekat?" pertanyaan dari Putri Retno Ningsih membuat Nyai Gendis tersadar dari lamunannya, "Aku mengenalnya Gusti Putri, selama ini Kakang Wiratama banyak membantuku, dan banyak memberikan pertolongan saat kami berkelana di dunia persilatan ini.


"Kangmas Wiratama memang Ksatria sejati, sikapnya terpuji, ia telah banyak berkorban untukku." "Sayang...aku selalu mengecewakan dirinya!". Terlihat oleh Nyai Gendis lelehan air mata Putri Retno Ningsih membasahi pipinya. "Apakah yang telah terjadi Gusti Putri? apakah Kakang Wiratama telah berbuat keliru kepadamu?" dengan cepat Putri Retno Ningsih menjawab "Tidak...tidak... Diajeng, Kangmas Wiratama begitu sempurna di mataku, malah aku yang terlalu banyak mengecewakannya."


Entah karena memang Putri Retno Ningsih yang sedang terbebani atau memang mempercayai sosok Nyai Gendis, akhirnya Putri Retno Ningsih bercerita tentang perjalanan kisah cintanya dengan Wiratama, Nyai Gendis mendengarkan cerita itu dengan hati yang berdebar. "Ternyata bukan hanya aku yang mempunyai perasaan yang dalam terhadap Kangmas Wiratama!.. tetapi aku tidak pernah perduli dengan keadaan ini, aku tidak akan memaksakan perasaan Kangmas Wiratama kepadaku, cukup kebahagiaanku dengan melihatnya bahagia".


"Diajeng....Dianjeng....apakah kau mendengarku?"....Nyai Gendis tergagap menjawabnya..."Aak...aku mendengarnya Gusti Putri!, aku hanya hanyut dalam kisah Gusti Putri dan Kakang Wiratama, begitu mengharukan!" akhirnya Nyai Gendis dapat bernafas lega setelah dapat memberikan jawaban yang dapat membuat Putri Retno Ningsih tersenyum hambar.

__ADS_1


"Gusti Putri jangan terlalu memikirkan yang terlalu berat, bukankah keadaan Gusti Putri belum pulih?" Putri Retno Ningsih menghela nafas..."Sebenarnya aku tidak terlalu memikirkan keadaanku Diajeng!..keadaan Kangmas Wiratama lebih penting dariku!" kemudian ke duanya pun akhirnya terdiam dengan lamunannya masing-masing.


Beberapa emban tergopoh-gopoh menghampiri mereka, "Gusti Putri, Raden Wiratama telah siuman!... Cepatlah Gusti Putri di perintahkan Gusti Panglima untuk ke kamar!"...Putri Retno Ningsih dan Nyai Gendis bergegas menuju kamar perawatan Wiratama, ketika mereka masuk, Panglima Mandala Putra dan Ki Wisesa sudah berada di sana.


Putri Retno Ningsih langsung memeluk Wiratama yang masih terbaring, Nyai Gendis yang masih berada di belakang menjadi ragu untuk melangkah mendekat, kakinya terasa berat, ingin rasanya dia yang berada di posisi Putri Retno Ningsih yang dapat memeluk Wiratama. Kemudian ia pun kembali keluar dan duduk di depan, hanya Ki Wisesa lah yang mengerti keadaan hati Nyai Gendis.


"Tenanglah Nyai!... kita manusia hanya bisa berserah diri, aku tahu yang sedang kau rasakan. Hanya saja kita tidak mengetahui apa rencana Tuhan untuk kita?" ujar Ki Wisesa yang kini berada di luar.

__ADS_1


Nyai Gendis mengusap air matanya, ada kebahagian karena melihat Wiratama membaik, ada kesedihan karena tidak bisa mendampingi, dan ada rasa ke khawatiran dirinya tidak dapat dekat kembali dengan Wiratama.


Ia pun hanya dapat membisiki hatinya sendiri, "Kangmas, apapun yang terjadi, aku ingin selalu berada di sisimu!".


Di saat Nyai Gendis mengusap air matanya, sekilas terlihat oleh Ki Wisesa, tetapi ia pun tidak dapat berbuat apa-apa, pengalaman di dunia persilatan ataupun pertempuran ia mempunyai segudang pengalaman, tetapi tentang wanita?...akkh..Ki Wisesa tidak mempunyai pengetahuan sama sekali.


Begitulah cinta, tidak hanya bisa memberikan keindahan, sebaliknya ia bisa membuat hati berdarah-darah tanpa harus tertancap ujung pedang sekalipun.

__ADS_1


__ADS_2