
Saat itu daerah Gunung kidul masih berupa Kademangan, berbatasan dengan Sleman, Bantul serta Laut dan masih terkenal sebagai daerah tandus dan kering, tetapi penduduk sekitarnya terkenal ramah.
Dulu orang tua dari Nini Sangga geni seorang Demang disana, sehingga saat Nini Sangga kembali, ia masih di hormati oleh penduduknya, walaupun sekarang keluarga Nini Sangga tak menempati Kademangan lagi.
Nini Sangga tak memakai topeng kulit kayu nya, sehingga dia tak menyolok dengan segala keseraman wajahnya sehingga tidak menjadi bahan pembicaraan para penduduk, Wajahnya tergolong normal tak menakutkan, bahkan terlihat ada sisa-sisa kecantikan disana, walaupun usianya sudah sepuh.
Wirayudha di kenal sebagai cucu Nini Sangga. Karena memang pembawaan dari Wirayudha yang cukup menarik dan menyenangkan, maka dari itu penduduk sekitar sangat menyukainya, di tunjang juga paras Wirayudha yang tampan.
__ADS_1
Suatu ketika saat Nini Sangga dan Wirayudha berlatih di perbukitan kapur. "Nini, ajaklah aku melihat-lihat Kotaraja! agar aku tak malu dengan teman-temanku, saat mereka bercakap tentang Kotaraja, aku hanya bisa mendengarkan saja" terlihat Wirayudha sedang merajuk kepada Nini Sangga,
"Hmmm....engkau benar Wirayudha, kau harus banyak menambah pengalamanmu, jangan hanya berkutat melatih kanuragan saja!" Nini Sangga menanggapinya dengan serius, Wajah Wirayudha terlihat sumringah dan senang, "kalau begitu, kapan Nini mengajak aku kesana?" Nini Sangga berpikir, tidak ada salahnya untuk mengajak Wirayudha melihat-lihat Kotaraja, apalagi situasi hati Wirayudha pastinya masih merasakan kesedihan karena kehilangan ibu nya. "Kalau kau mau, bagaimana kalau besok kita berangkat?" Wirayudha sangat bersemangat menjawabnya..."baik Nini..aku mau".
Keesok harinya mereka berangkat, memulai perjalanan menuju Kotaraja, beberapa perbekalan di gendong oleh Wirayudha di punggungnya, setelah berjalan agak jauh dari pemukiman penduduk, Nini Sangga mulai mempercepat langkahnya, semakin lama terlihat seperti berlari, "Aku ingin mengetahui kekuatan anak ini sekarang sampai dimana?" gumam Nini Sangga.
Tidak merasa puas menguji muridnya, tubuh Nini Sangga meloncat dan berlari ke depan tubuhnya mulai berubah menjadi bayang-bayang, Wirayudha pun mengejar dengan cepat, ia tak mau tertinggal, kini kedua tubuh mereka terlihat seperti bayang-bayang yang berkejaran, "Eh....tak ku kira, kemampuan bocah ini setaraf dengan orang-orang dewasa" setelah lama berkejaran Nini Sangga mulai memperlambat larinya dan mereka berdua pun berjalan dengan santai kembali.
__ADS_1
"Nini, rombongan siapakah yang berada di depan sana?" Wirayudha memandang ke depan dari jauh nampak mulai terlihat kereta kuda yang di kawal sejumlah Prajurit berkuda,
Kereta kuda itu berjalan agak cepat,
Di Pertigaan jalan, mereka berpapasan, sebagian pembicaraan-pembicaraan para prajurit yang berada di belakang terdengar oleh Nini Sangga dan mereka menyebut sebuah nama yang membuat dia penasaran, bisikan - bisikan antara prajurit itu tertangkap, sampai kapan kita akan terus mencari tabib yang bisa mengobati Gusti pangeran Adiraja ini, menurutku hanya sia-sia saja" kemudian temannya yang berada di samping memperingatkan, "sudahlah...kita hanya bawahan, tak pantas engkau mengatakannya", rombongan itu semakin lama semakin jauh lagi dari tempat Nini Sangga dan Wirayudha berdiri.
"Wira, kita harus mengikuti rombongan itu, tunggu agak jauh, setelah itu kita kejar, aku ingin tahu siapa orang yang berada di dalam kereta!" Wirayudha hanya mengangguk tanda sepakat.
__ADS_1