Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Kabut Hitam Nusakambangan XVII


__ADS_3

Candrasih yang melihat keadaan ayahnya, langsung menghentikan pertarungan dengan beberapa perompak yang masih di hadapannya, tubuhnya melenting memburu Rengganis yang sudah tidak bersenjata lagi.


"Haaaikh....Craaash..Aaakh," pedang tajamnya menebas lengan Rengganis yang tadi melemparkan pedang.


Kemarahan Candrasih meluap-luap dan berniat menebas leher Rengganis, tetapi sebelum semua terjadi Raden Sangaji meloncat dan menahan gerakan pedangnya "Tunggu Candrasih!"...


"Lepaskan aku Kakang! aku ingin membunuh wanita ini!", "Tidak Candrasih, terlalu enak kalau kita bunuh dia di sini!" kemudian Raden Sangaji berteriak memerintahkan Prajuritnya "Tangkap wanita ini, jadikan dia tawanan! kita akan gantung dia di alun-alun Kotaraja!"


Rengganis yang sebelumnya di liputi emosi saat melakukan perbuatannya, kini baru menyadari, kesakitan akibat lengannya putus dan perasaan takut bersatu menjadi satu.


"Guruuu! tolong selamatkan aku!" dia berteriak memanggil Dewi Pramudita di saat tubuhnya di seret oleh beberapa prajurit, sedangkan Candrasih berlari memeluk ayahnya sambil menangis.


Dewi Pramudita yang melihat situasi sudah tidak bisa di kendalikan, berteriak sambil dirinya melesat melarikan diri "Rengganis! pertanggung jawabkan sendiri akibat semua perbuatanmu!"


Rengganis yang melihat gurunya melarikan diri, menangis meraung-raung karena di tinggalkan. Raden Wisnu Wardhana yang masih terluka punggungnya akibat serangan Rengganis, mendekat dan menghardik, "Kau memang wanita durjana Rengganis!" "Hiaaath...Plakh..Plakh!" terdengar suara tamparan berkali-kali mendarat di muka Rengganis yang sedang menangis.


Raden Sangaji kemudian memeluk adiknya Candrasih, dan memerintahkan prajuritnya membawa jenazah Ki Respati menuju Kapal. "Bersabarlah Candrasih, kita akan membalas dengan membumi hanguskan pulau ini sampai akar-akarnya!"


Raden Sangaji kemudian memberikan perintah kepada seluruh pasukannya untuk maju dan menyerang perompak-perompak yang sekarang berusaha melarikan diri.


Sedangkan di wilayah garis pantai timur, kekuatan para perompak tidak begitu signifikan, membuat pasukan Mataram dan Pasukan topan dengan mudah mulai merangsek ke arah basis mereka di Goa Ratu.


Nini Sangga geni, Ki Seno Keling, Ki Sawung Galih dan pasangan Ki Sampang dan Nyai Ambarukmo mulai mengadakan penangkapan para perompak yang sudah banyak menyerah.


Tak lama setelah mereka tiba di depan Goa Ratu, tiba-tiba puluhan prajurit terjengkang dan terguling-guling menabrak pepohonan sambil mengaduh kesakitan, "Bruukh...Bruukh..Aaaakh!"

__ADS_1


Semua terkesiap memandang pintu Goa yang lorongnya agak gelap, tidak terlihat serangan senjata maupun pukulan Kanuragan, tetapi prajurit-prajurit yang bergulingan seperti merasakan hempasan dari pukulan jarak jauh.


"Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki, "Dhuugh...Dhuuugh...Dhuugh!" bukan langkah kaki biasa, suara bunyi langkah kaki itu di ikuti oleh getaran-getaran yang membuat kerikil-kerikil kecil ikut bergetar.


Nampak seraut wajah yang hitam legam, dengan rambut yang pendek dan memakai baju hitam yang terbuat dari besi, tinggi dan berperawakan gempal.


"Siapa kalian yang mengganggu waktu istirahatku?" suara yang terdengar mirip gumaman menyentak semua orang yang berada di depan Goa Ratu.


Suaranya saja bisa membuat para prajurit beringsut mundur secara teratur karena terdengar menggema seperti berasal dari lorong panjang yang gelap. Para prajuritpun kemudian menyiapkan busur-busur panah mereka.


Hulubalang Keling telah berdiri tepat di depan mulut Goa Ratu, matanya yang menjorok ke dalam memincing untuk melihat ke sekeliling. "Siapa di antara kalian yang paling kuat? aku ingin melemaskan otot-ototku dulu!"


Melihat keseraman wajah Hulubalang Keling, pasukan pemanah tanpa dengan perintah lagi membidikan anak panah mereka dengan serentak "Sraaakh....Sraaakh....Sraaakh!"...


Puluhan anak panah meluncur dengan deras, tetapi saat ujung panah tersebut sejengkal lagi mengenai tubuh Hulubalang Keling, anak panah itu rontok seperti membentur dinding baja, "Praakh...Praakh...Praakh!"


Ki Sawung Galih, pimpinan telik sandi dari Alas Roban, mulai menghentakan kakinya dan munculah 7 bayangan dirinya yang berdiri di sisi kanan dan sisi kiri, tatapan matanya tajam menelisik untuk menyelidiki kelemahan lawan.


"Kraaakh...Kraaakh! tidak ketinggalan sepasang burung Alap-alap milik Ki Seno Kelingpun terbang berputaran di atas mereka, seakan-akan sedang menjaga tuannya dari bahaya.


"Graaaumh...Ki Sampang membuka pertarungan dengan terkaman ke arah Hulubalang Keling, jari-jari tangannya yang berujung runcing mencoba mencengkeram leher. Kali ini lesatan jari-jari tangan Ki Sampang sangat berbeda dengan sebelumnya, "Shhuittth....Shaaaath..!" menimbulkan suara yang berdesir membelah udara.


"Ha....Ha...Ha, untuk serangan pembukamu lumayan juga Lodaya!".. Hulubalang Keling langsung mengenali ilmu yang di lancarkan Ki Sampang, dia tidak menghindar, dua tangannya langsung di putar untuk menangkis semua terkaman dari Ki Sampang. "Traaakh...Traaakh! suara benturan tulang terjadi berkali-kali.


Jari-jari sakti Ki Seno Kelingpun tidak mau kalah, menyambar dan mencoba menusuk jantung."Shhhhaat...Shaaat!...

__ADS_1


Tujuh Bayangan Ki Sawung Galihpun meluruk dengan pukulan-pukulan yang berkekuatan tenaga dalam tinggi, "Wwwusssh....Wuuush!..


"Lesatan serangan jarak jauh dari Nini Sangga Geni, siap menghantam tubuh Hulubalang Keling dengan Tapak Geninya.


Sesaat ketika semua serangan itu akan tiba, Hulubalang Keling berteriak dengan keras, "Ssssraaaaah!.... tubuhnya kini di liputi cahaya merah yang membentuk pagar di sekitar tubuhnya.


"Dhuuuuarg...Dhuuarh...Braaakh...Braaakh..Blaaaarrhhhh!!!"


Bukan hanya membuyarkan seluruh serangan, pagar perlindungan di tubuh Hulubalang Keling membuat semua penyerangnya terpental.


"Bruuugh...Bruuugh...Bruuugh..!


Hanya Ki Sampang yang masih bertahan dengan tebasan-tebasan Lodayanya, yang bisa menembus pagar perlindungan. Tetapi itu pun tidak dapat bertahan lama, Hulubalang Keling, melesatkan kaki kanannya dengan cepat ke arah dada Ki Sampang yang sedang mencoba menerkamnya dari arah depan, "Wwwushhh...Dheeeaghh...Aaaarkhh! tubuh Ki Sampang terlempar ke arah rekan-rekan yang lainnya.


Hulubalang Keling berniat akan mengejar para penyerangnya yang terpental, tetapi Tujuh bayangan Lodaya berusaha mencegah dengan terkaman-terkaman ganas, membuat gerakan Hulubalang Keling yang akan mengejar tertahan.


Sepasang Alap-alap yang sedang berputar, melihat Ki Seno Keling terlempar, berteriak serabutan dan ikut menyerang dengan sambaran-sambaran cakarnya."Krrruiiik...Krrruuuikh!!!...keduanya meluruk dari atas untuk menyerang kepala.


"Wwwush...! Cakar dari Alap-alap hanya mendapatkan sejumput rambut, tetapi resiko sepasang Alap-alap sangat lah berat, Hulubalang Keling sambil menahan gempuran dari Lodaya, menyemburkan uap panas yang langsung membakar keduanya di atas, "Wuuush...Kreaaakh!...Braaakh!"


Sepasang Alap-alap tewas dengan memperlihatkan pengorbanan dan kesetiaan kepada tuannya sampai akhir hayat.


****.....*****.....*****.....******


"Terimakasih yang hanya sekedar lewat"....

__ADS_1


Terimakasih Bangettt yang sudah like and Vote, semoga yang memberikan like and Vote selalu di berikan Kesehatan dan keselamatan...


__ADS_2