
"He...he..he, Wiraa, kau pandai mengambil hatiku". Kemudian Ki Bondan mendekati mereka berdua, "Wira, selain kau harus berlatih kanuragan tubuh, kaupun harus memperkuat ilmu kebhatinanmu...karena yang nanti kau hadapi di luar sana, selain orang-orang yang beradab lebih banyak orang-orang yang kejam dan jauh dari mengenal adab, "Ki Sawung Galih!, cobalah kau tunjukan kemampuanmu pada cucuku, agar ia tak mudah senang dan puas atas kemampuannya saat ini!"...
Wirayudha belum mengerti apa yang di ucapkan kakeknya. yang ia rasakan saat berlatih tanding tadi, hanya merasa puas, karena berpikir sudah mampu memgimbangi kemampuan Ki Sawung Galih.
"Raden, cobalah kita ulangi lagi latih tanding seperti tadi, tapi kau gunakan ilmu-ilmu andalanmu" Ki Sawung Galih menatap Wirayudha kembali. "Baiklah Aki..." Wirayudha kembali memasang kuda-kuda, sementara Ki Bondan menepi sambil menyaksikan dari jauh.
__ADS_1
Wirayudha langsung berputar, mulai mempergunakan Aji Halimun...setelah merasa dirinya hilang dari pandangan orang lain..ia langsung memukul Ki sawung Galih dengan Tapak geni, "Wush....wush....pukulannya mengarah tubuh Ki Sawung Galih, kali ini Wirayudha terkejut, saat pukulannya hampir mengenai dengan tepat, sosok Ki Sawung menghilang dan terdengar suara tertawa di belakangnya "he...he...he, apa yang kau pukul Ngger?" Wiratama menarik Aji Halimunnya..mencari asal suara tertawa Ki Sawung, tubuhnya berbalik ke belakang di sana berdiri Ki Sawung Galih yg sedang bersidekap tetapi tak lama kemudian sosok itu memecah menjadi tujuh tubuh yang semuanya sosok Ki sawung Galih .
Wirayudha tidak merasa gentar, ia mengirimkan tendangan-tendangan Selaksa Gunung, "Wush...wush...plash...plas...tendangannya serasa menerpa angin atau udara sehingga Wirayudha mendarat kembali.
"Hiaaath......terdengar pekikan Ki Sawung mulai menyerang.Tujuh sosoknya berputar mengelilingi Wirayudha, dan menyapok beberapa bagian tubuh Wirayudha, plok...plok...plok...berturut-turut tubuh Wirayudha terkena sapokan ringan, mulai dari dada, punggung, dan kaki. Wirayudha hanya berdiri menatap dengan heran, karena baru kali ini ia menghadapi ilmu-ilmu yang sangat aneh dari Ki Sawung Galih.
__ADS_1
"Eyang, bolehkah aku mempelajari ilmu-ilmu semacam tadi?"..Wirayudha bertanya kepada kakeknya. Ki Bondan mendekati Wirayudha dan memeluknya "kau tanyakan sendiri kepada Ki sawung, apakah ia mau mengangkatmu sebagai murid juga?" Hayoo! kau menghadap kepadanya!".
Wirayudha kemudian dengan sifat ke ke kanak-kanakannya berteriak dari samping Ki Bondan, "Aki...bolehkah aku belajar ilmu yang hebat darimu?" Aku ingin Aki menjadi guruku!".
"Baiklah raden, mulai sekarang kau menjadi muridku, aku akan mengajarkan seluruh ilmu yang kumiliki!" Ki Bondan kemudian menyuruh cucunya untuk menghadap Ki Sawung Galih untuk memberi hormat, menjura tujuh kali dan memeluknya. "Guru aku akan patuh kepada seluruh petunjukmu, semoga ilmu-ilmu yang kau turunkan kepadaku akan bermanfaat untuk diriku dan orang lain". Ki Bondan tersenyum puas, ia belum bisa membayangkan bagaimana kepandaian cucunya nanti, mempunyai guru-guru kanuragan yang linuwih.
__ADS_1
Di saat semuanya sedang memperhatikan Wirayudha, terdengar suara sepasang burung Alap-alap Ki Seno Keling yang meluncur mendekati kediaman rumah gantung mereka, kemudian terbang berputar-putar di atas, "Kraaagh.....kraaagh....suara mereka keras terdengar, Ki Seno Keling pun kemudian berteriak memanggil, "Kruaaagh....Kruaaagh......sepasang Alap-alap itu menukik dan hinggap di bahu Ki Seno Keling, Ki Bondan pun bertanya, "Ki Seno, kabar apa yang di bawa Alap-alapmu?", Ki Seno kemudian memandang mata Alap-alapnya, ada cahaya pancaran yang bersatu di tengah-tengah mereka, Ki Seno Keling kemudian menyampaikan laporannya, "ada tamu yang akan datang di kediaman kita Gusti Sepuh! Sekitar lima ratus tombak dari kediaman kita, mereka laki-laki dan perempuan sedang berlari dengan kecepatan yang tinggi". tidak lama kemudian dua orang pasukan Badai berkelebat menghadap Ki Bondan, ternyata para penjaga yang berada di pantaipun sudah mendeteksi kedatangan mereka, "Mohon izin Gusti!...Raden Wiratama dan seorang wanita yang tidak kami kenali sedang berlari menuju kediaman kita, mohon petunjukmu!"..Ki Bondan melirik ke arah Wirayudha dan memandangnya dengan perasaan terharu "Wiraa....ayahmu akan datang, sambutlah dia! Penjaga! sambut Gusti Mudamu! ajak langsung menemuiku di sini". Sedangkan Eyang Padasukma dan Nini Sangga yang berada di teras rumah gantungnya segera turun ke bawah.