Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Nusakambangan


__ADS_3

"Ki Sawung, ingatlah! dampingi cucuku untuk mencari ayahnya! jika engkau kesulitan, kau tahu apa yang harus kau lakukan!"


"Aku paham Gusti Sepuh, aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk melindungi muridku!"


Ki Bondan kemudian melepas mereka berdua untuk menuju Pulau Donan atau Nusakambangan.


**Nusakambangan**


Di sebuah goa yang bernama Goa Ratu, sekelompok orang sedang berkumpul, ada seseorang yang sedang berbicara kepada sosok yang sedang duduk di balai bambu.


"Dimas Adiraja, keadaanmu kini sudah jauh makin membaik semenjak ku temukan dirimu di Jurang Pulosari!"


"Terimakasih Kakang, kau telah menyelamatkan aku dari kematian!... ternyata sosok yang sedang duduk itu bukan lain adalah Pangeran Adiraja, yang dulu di perkirakan telah tewas oleh Nini Sangga geni, tubuhnya jatuh ke dalam Jurang Pulosari.


Pandangan mata Pangeran Adiraja melihat bebatuan dinding Goa Ratu, pikirannya kembali ke masa yang telah di lewatinya, matanya memerah saga saat mengenang mayat Anggoro Pati yang berlumuran darah dan mengenaskan, dan sampai sekarangpun ia tidak tahu nasib putra satunya yaitu Arya Permana, yang hilang tidak tentu rimbanya.

__ADS_1


"Kakang Respati, kau telah menyelamatkan aku dengan memberi sisa kehidupan dari kelopak kembang Wijaya Kesuma, apa yang kau inginkan dariku untuk membalas semuanya?"


Respati adalah kakak kandung dari Pangeran Adiraja, selama ini dirinya lebih memilih untuk mengarungi dunia persilatan di bandingkan dengan hidup sebagai seorang pangeran, kehidupannya tidak jauh berbeda dengan Eyang Padasukma, perbedaan dari keduanya adalah, Ki Respati menjalani kehidupan liar, berkelana mempelajari semua kanuragan tanpa memilih, baik dari jalan yang lurus maupun jalan yang menyimpang, sedangkan Eyang Padasukma lebih memilih untuk mencari ketenangan jiwa dengan mempelajari kehidupan seorang petapa di Gunung Merapi.


"Aku tidak menginginkan apapun darimu Dimas! karena ikatan darah sajalah aku mencoba untuk menyelamatkanmu!"


Pangeran Adiraja menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan perlahan, "Kakang, aku mendengar dari beberapa anggotamu, sekarang putramu menduduki jabatan yang sangat penting di Kotaraja? benarkah itu?"


Ki Respati kemudian mengiyakannya "Benar Dimas!...Sangaji putraku saat ini menduduki jabatan sebagai Panglima Muda di Mataram, Sangaji seorang yang berjiwa ksatria dan berpikiran lurus, tidak seperti diriku yang selalu berlumuran darah dan berkecimpung di dunia hitam! apakah itu menjadi masalah bagimu Dimas?"


"Aakh...tidak Kakang, aku hanya berpikir bagaimana jika putramu senasib dengan putraku yang harus tewas karena persaingan yang berada di lingkungan kerajaan, apakah kau rela?"


Pangeran Adiraja tersenyum kecil mendengar Ki Respati berbicara...dalam pikirannya langsung berputar untuk mencari celah, bagaimana agar dapat membalas dendam dengan mendapat bantuan dari Ki Respati dan anggotanya.


Ki Respati saat ini adalah pemimpin kecil di Pulau Donan, ia membawahi seluruh perompak-perompak dan penakluk seluruh tokoh-tokoh hitam yang di buang oleh Kerajaan Mataram ke Pulau Donan tersebut.

__ADS_1


"Dimas Adiraja, kau harus bersabar, hingga kita mendapatkan kembali Kembang Wijaya Kusuma, agar kau bisa pulih dengan sebenarnya, dan akupun dapat meningkatkan tenaga dalamku sampai titik sempurna!"


"Sebagian rencanaku telah berhasil berjalan, beberapa tokoh sakti sekarang sudah mulai memasuki Pulau kita, kita akan menaklukan mereka satu persatu, dan mereka berakhir dengan mengikuti kita dan mengakui kita sebagai pemimpin."


Pangeran Adiraja berpaling ke arah Ki Respati, "Kakang, kau terlalu percaya diri dengan kemampuan dan kesaktianmu! bagaimana jika di antara mereka lebih sakti darimu?"


"Apa maksudmu Dimas? kau meragukan kemampuanku?" Ki Respati memandang dengan kemarahan kepada Adiraja.


"Maafkan aku Kakang, aku tidak bermaksud menyinggung dan merendahkan kemampuanmu! aku hanya berpikir, kenapa kau tidak mempergunakan tipu muslihat saja untuk menaklukan mereka?"


"Ha...ha..ha..Dimas, kau pernah merasakan hidupmu diantara langit dan bumi, tetapi ternyata otakmu tidak pernah berubah, masih berisi tipu muslihat dan keculasan!"


"Maafkan aku Kakang, aku hanya tidak rela jika engkau berakhir dengan kekalahan!"


"Tutup mulutmu Dimas, aku tidak menyukai cara bicaramu dengan merendahkan kemampuanku!"

__ADS_1


Ki Respati kemudian beranjak pergi meninggalkan perkumpulan tersebut, di iringi oleh semua pengikutnya meninggalkan Adiraja seorang diri.


Adiraja kembali merenungi dirinya, "Hmm...hidup di dunia bukan hanya kebetulan, aku di selamatkan olehnyapun bukan karena kebetulan, ini adalah pertanda bahwa aku di berikan kesempatan untuk membalas semua yang ku alami!".


__ADS_2