
Serangan-serangan keduanya yang semula cepat, berangsur-angsur mulai lambat, tetapi semuanya yang menyaksikan mulai merasa was-was dan tegang, karena gerakan-gerakan serangan yang lambat dari mereka mempunyai bobot pukulan dan tendangan yang lebih berat.
Suhu di sekitar arena pertempuranpun mulai cepat berubah, terkadang panas dan dengan cepat berubah menjadi dingin.
Hulubalang Keling mulai melakukan serangan bukan hanya dengan pukulan, tendangan ataupun tebasan senjata, ia mulai melancarkan serangan dengan bentuk suara,
Di setiap sela gerakan serangannya Hulubalang Keling membenturkan pedang ke arah perisai atau tamengnya sendiri, ternyata gerakan itu menimbulkan suara dentuman yang membuat Wiratama terganggu dan terdesak mundur.
"Braaang...Braaang!..suara beradu pedang dan perisai Hulubalang Keling terasa sampai kepada yang menyaksikan pertarungan di sekelilingnya, membuat gendang telinga serasa tertusuk dan sulit untuk menyalurkan tenaga dalam.
"Hiiaattth...Sraaakh...sraaath, gerakan tebasan Hulubalang Keling mengenai dada Wiratama yang membuatnya sedikit tergores dan mengeluarkan percikan darah. Bukan hanya bisa melukai tubuh Wiratama, efek suara yang di timbulkan itu juga berimbas kepada serangan dari Tombak Kyai Plered dan Pedang Jasinga, kedua senjata tersebut berhenti menyerang Hulubalang Keling dan hanya berputar-putar di atas.
Menyadari kekebalan tubuhnya musnah karena penyaluran tenaga dalam yang terganggu, Wiratama mengeluarkan seruling penggetar sukma. Di putarnya seruling itu dengan jari-jari.
Alunan suara Seruling terdengar pelan dan masih merangkai nada-nada indah, tatapi mempunyai efek membuyarkan seluruh akibat suara beradunya senjata milik Hulubalang Keling.
Wiratama berbisik pelan 'Arunaa! serang musuh kita dengan suara Perenggut Sukma!"
Aruna mendengarkan permohonan Wiratama, "Cepat tiup serulingnya 'Sayang!"
Wiratama meniup seruling penggetar sukma dengan mulutnya, Suara seruling yang semula terdengar indah kini terdengar sangat memekakan telinga, suara lengkingan seruling seakan-akan bertarung dengan suara dentuman senjata milik Hulubalang Keling.
Di saat Hulubalang Keling kembali membenturkan perisai dan pedangnya, suara seruling penggetar sukmapun menyambutnya dengan suara lengkingan kencang.
"Brraaakh...Braaakh! terdengar seperti suara pukulan jarak jauh yang beradu.
__ADS_1
Pedang dan Perisai Hulubalang Keling terlepas dan hancur berkeping-keping, tetapi bersamaan dengan itu juga, Seruling penggetar sukma yang sedang melantunkan lengkingan perenggut sukmapun pecah dan hancur berkeping-keping, "Prrraaaakh!"
Tubuh Aruna yang sebelumnya tidak terlihat, kemudian muncul seakan-akan terlempar dari jauh dan terhempas jatuh di samping Wiratama, "Aaaakh!... terdengar suara jeritan Aruna.
Tobak Kyai Plered mulai mendapatkan kekuatannya kembali, "Sriiiing!" dengan cepat menghunjam dari atas dan menukik ke arah ubun-ubun kepala milik Hulubalang Keling yang tidak bersenjata, "Crrraaaaash...Heeghhh! mata tombak Kyai Plered menancap tepat di kepala Hulubalang Keling yang kemudian terjatuh berlutut dengan Tombak Kyai Plered yang masih berada di kepalanya.
Pedang Jasinga ikut berputar dan menyerang kembali "Wwwuush...Craaakh! bilah pedang menyambar ke arah leher dan dapat memberikan luka tebasan di sekitar leher Hulubalang Keling yang telah musnah kekebalan tubuhnya. Pedang Jasinga melanjutkan serangan, kemudian menancap di sekitar dada Hulubalang Keling.
Hulubalang Keling tewas dan jatuh ke tanah dengan dua senjata milik Wiratama yang masih bersarang di tubuhnya. Dengan tewasnya Hulubalang Keling Serigala-serigala yang sedang bertarung dengan Lodayapun ikut menghilang pergi.
Melihat lawannya telah tewas, Wiratama kemudian memondong tubuh Aruna dan membaringkan tubuhnya agak menjauh dari arena pertempuran, dan meletakan kepala Aruna di pangkuannya.
Dengan senyuman yang di paksakan, Aruna menggenggam tangan Wiratama "Sayangku!.. tiba saatnya kita berpisah, walaupun pengabdianku kepadamu begitu singkat, ku akui..aku sangat bahagia bersamamu!"
"Uuugh..Sayang! jika aku di berikan kesempatan terlahir kembali, kau adalah satu-satunya orang yang paling ingin ku temui!" tangan Aruna membelai wajah dan rambut Wiratama, "Dekaplah aku 'cinta!"
Wiratama memeluk tubuh Aruna dengan erat, perlahan-lahan tubuh Arunapun berubah menjadi bayang-bayang kemudian sirna tanpa bekas.
Akhirnya peperanganpun usai, Para prajurit Mataram segera melakukan pemeriksaan dan menangkapi para perompak yang menyerah dan membawanya ke Kapal untuk di bawa ke Kotaraja.
Perompak-perompak yang berusaha melarikan diri melalui jalur pantai semua tertangkap, Ki Bondan Wiratama yang memimpin pasukan untuk berjaga di batas pantai berhasil membunuh dan menangkap perompak-perompak itu.
Kemenangan tidak hanya menghasilkan kegembiraan, perasaan sedih menghinggapi seluruh Pasukan Mataram, karena di pihak merekapun banyak jatuh korban, Pasukan Badai, pasukan Topan hanya tinggal tersisa Sepuluh orang, mereka menguburkan jenazah-jenazah rekannya yang gugur dalam pertempuran, begitu pula yang terjadi di antara prajurit Mataram, mereka pun banyak kehilangan rekan-rekan sesama prajurit, membuat kemenangan itu tidak di iringi dengan luapan kegembiraan yang berlebihan.
Semua yang mendapatkan luka akibat pertempuran, mendapatkan perawatan di dalam Kapal, termasuk Ki Sampang, Nyai Ambarukmo, Ki Seno Keling, Ki Sawung Galih dan yang lainnya.
__ADS_1
Raden Sangaji beserta putranya Raden Wisnu Wardhana dan adiknya Candrasih membantu para prajurit yang terluka.
Wiratama, Wirayudha di temani dengan Ki Pandawa mengawasi jalannya evakuasi para korban dan tahanan yang di pindah ke Kapal.
Wiratama tenggelam dalam lamunannya, rambutnya yang putih keperakan berkibar tertiup angin laut yang lumayan kencang, kesedihan menggelayuti pikirannya, kutukan telah terjadi lagi kepadanya, membuat perasaan kehilangan muncul kembali, Saraswati, Gendis Prameswari dan yang terakhir Aruna telah meninggalkan dirinya dengan nasib yang tragis. "Sampai kapan kutukan ini akan berakhir?" saat ini pertanyaan itu semakin mengganggu.
Senja semakin temaram, Kapal-kapal telah siap bertolak kembali, Ki Bondan Wiratama berada di anjungan untuk memerintahkan anak buahnya menaikan layar, tetapi pandangannya tertumbuk kepada seseorang yang duduk di kayu dekat kemudi, suara yang khas dari seorang wanita menyapanya "Sangat lama aku menanti pertemuan ini Kakang! apakah kau masih mengenaliku?"
Ki Bondan Wiratama terkejut dengan sapa yang menegurnya, tetapi sesaat kemudian ia menyahut, "Pramudita, angin apa yang membawamu menemuiku?"
"Angin kerinduan Purbaya! Hik..hik..hik ternyata selama ini aku salah menduga, Wiratama yang aku duga sebagai dirimu telah membangkitkan kerinduanku kepadamu yang sudah terkubur!"
"Apa yang kau inginkan Pramudita?"
"Kakang, aku ingin kau tidak bersembunyi lagi, hiduplah bersamaku sampai batas usia kita!"
"Apakah kau lebih menyukai seluruh pasangan putramu mati mengenaskan karena di dera kutukan Kakang?"
Ki Bondan Wiratama terdiam, memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah pelik yang telah menderanya dari dahulu kala.
"Pramudita, Putraku tidak mengetahui jika sebenarnya akulah Purbaya yang telah melakukan dosa setinggi langit dan sedalam lautan! aku tidak ingin mengulanginya lagi!"
"Aku menyadari ketika selamat dari hukuman rajam, itu adalah waktu yang di berikan Yang Kuasa kepadaku untuk bertobat! tolong pahamilah kekeliruan yang telah kita lakukan 'Pramudita!"
"Jika itu keputusanmu, akhirilah hidupku Kakang! aku tidak ingin terus tersiksa karena menahan kerinduan, lakukanlah!"
__ADS_1