
Rengganis berdiri sambil bertolak pinggang, "Dasar manusia rendah! kau berkacalah pada air yang jernih agar kau tahu berhadapan dengan siapa!"
Nyai Ambarukmo mengerenyitkan keningnya, dia sangat kecewa dengan perilaku Rengganis, kasar dan angkuh membuat ia menahan perasaan malu.
Jalasena membantu Raden Wisnu berdiri, dan menatap Rengganis dengan tajam, "Kepandaianmu tidak seberapa Nisanak, keangkuhanmu sampai merobek langit ke tujuh, kalau boleh kami tahu Tuan Putri dari kerajaan manakah engkau?"
"Huh...siapa kau jongos yang berpura-pura seperti bangsawan?" Rengganis menjawab pertanyaan Jalasena sambil mencibir.
Nyai Ambarukmo sengaja mendiamkan ocehan Rengganis, karena ia pun ingin mengetahui dengan siapa berhadapan.
Jalasena menepuk tangan dua kali, dua kelompok yang tadi masih duduk memperhatikan, ketika ada tanda dari Jalasena langsung bersiaga mengurung mereka. Pedang terhunus, dan anak panah telah terpasang siap membidik.
"Nisanak, aku salah satu pemimpin di dalam Pasukan khusus Mataram, beliau adalah junjunganku Raden Sangaji Panglima muda wilayah timur kerajaan Mataram, dan ini yang baru kau serang, adalah Raden Wisnu Wardhana putra dari Panglima Muda kami. apakah cukup perkenalan dari kami? sekarang kami ingin tahu sedang berhadapan dengan siapa! jika engkau seorang Putri kerajaan, aku akan tunduk dan hormat kepadamu!"
__ADS_1
Semua pasang mata saat ini menatap Rengganis dan menunggu jawaban darinya.
"Rengganis!...kenapa kau hanya diam? sedari tadi kau membanggakan dirimu dan merendahkan mereka, aku pun ingin tahu, siapa dirimu?" Nyai Ambarukmo menatap tajam muridnya.
"Guru!"..hanya sepatah kata itu yang keluar dari mulut Rengganis. Wajahnya memerah menahan perasaan malu yang sangat.
"Gusti Panglima! aku memohon maaf atas segala kekurangan kami, aku yang salah tidak bisa mendidiknya dengan tatakrama, Nyai Ambarukmo menjura dalam-dalam di depan Raden Sangaji.
"Akh..tak mengapa Nyai guru, kau adalah guru dari putraku, kau bukan orang lain bagiku, sudahlah lupakan semua!" Raden Sangaji berusaha merubah suasana yang tadi tegang.
Kemudian mereka berempat duduk di meja bersama, Nyai Ambarukmo mengajak Raden Wisnu berbicara dan sesekali mereka berbincang dengan yang lain. Raden Wisnu pun menceritakan perpisahaan dan alasan kenapa dia dan Rengganis akhirnya terpisah. sekaligus meminta maaf kepada ayahnya karena tidak meminta izin ketika dia berguru kepada Nyai Ambarukmo di Gunung Sumbing.
Rengganis melangkahkan kaki keluar dengan perasaan malu, kecewa karena guru yang dia andalkan tidak seperti biasanya, tidak sedikitpun membela dirinya.
__ADS_1
"Rengganis, ikutlah denganku!" suara itu terdengar saat Rengganis melihat sekelebat bayangan dari arah barat menuju ke timur.
Rengganis yang saat itu sedang tidak stabil perasaannya, walaupun dengan ragu ia kemudian mengikuti bayangan itu dengan berlari. "Hik...Hik...Hik..Cepatlah Rengganis! langkahmu seperti kura-kura saja!" bayangan yang berada di depannya semakin menjauh, sepertinya menambah kecepatan berlarinya.
Dengan susah payah Rengganis berusaha mengejar. Akhirnya di tepi hutan yang lebat bayangan itu menghentikan langkahnya dan menunggu Rengganis yang sedang lari terseok-seok.
""Hik..Hik..Hik...Bagaimana kau akan di hargai orang lain, kemampuan beladirimu sangat rendah, kau hanya terlatih mengumbar kata-kata Rengganis!"
"Uukh..Hhhk...nafas Rengganis memburu saat dia telah sampai, "Uugkhh..Nyai Dewi! aku kira siapa yang mengajakku berlari!"
Yang berada di depan Rengganis tidak lain adalah Dewi Pramudita, yang sebelumnya telah tinggal bersama Rengganis dan Nyai Ambarukmo di Gunung Sumbing.
"Rengganis, telah tiba saatnya kau harus memanggilku guru! kau lihat sendiri gurumu Nyai Ambarukmo saat ini mengabaikanmu!"
__ADS_1
"Kau harus merasa beruntung, aku mau mengangkatmu menjadi muridku!"
Rengganis tanpa ragu akhirnya menjawab "Baik Nyai Dewi, aku bersedia!" kemudian ia pun menjura sebanyak tiga kali, pertanda mulai saat ini ada pertalian hubungan guru dan murid antara dirinya dengan Dewi Pramudita.