
Ki Badra menyadari bahwa kekuatan yang dia punyai belum memadai untuk bertahan dari serangan Prajurit Mataram, apalagi setelah Songgo Langit tewas saat pertempuran di laut. Dia terus berusaha untuk memperkuat diri.
Seperti hari ini, dia bersama Nyai Seruni mulai menuruni Lembah Nirbaya seperti saran dari Moksa Jumena, mungkin saja ada dari golongan hitam yang tidak mati saat di eksekusi.
Berpuluh tahun yang lalu sampai dengan sekarang, Lembah Nirbaya tidak pernah berubah, Ki Badra dan Nyai Seruni menyusuri jalanan yang sebenarnya bukan jalan, kerikil-kerikil tajam, semak belukar dan temaramnya cahaya karena terlalu rapat pepohonan dan daunnya yang lebar masih menghiasi suasana Lembah Nirbaya.
Setelah masuk semakin dalam, pepohonan akhirnya tidak terlalu rapat, dan banyak batu-batu besar yang tergeletak tidak beraturan.
Telinga Ki Badra dan Nyai Seruni sayup-sayup mendengar suara seruling yang menyayat hati, mereka berpandangan dan bergegas mencari asal suara seruling.
"Kangmas lihat! ada seseorang yang sedang memainkan seruling di atas batu sisi kiri, apakah kita akan menghampirinya?"
Ki Badra kemudian berjalan mendekati sesorang yang sedang duduk membelakangi mereka, rambutnya panjang sebahu,.memakai Baju Surjan, baju khas pria Mataram.
Suara seruling terhenti seketika, membuat pria tersebut berbicara sendiri, "Kenapa kau hentikan lagi suara indah serulingmu Aruna?"
Pria yang duduk di batu adalah Wiratama, yang sedang asik mendengarkan suara seruling yang berbunyi sendiri tanpa dia tiup.
Wiratama membalikan tubuhnya dan menegur Ki Badra dan Nyai Seruni, "Kisanak, siapakah kalian yang mengganggu kedamaian suara seruling ini?"
Ada yang berbeda dari penampilan Wiratama sekarang, rambutnya yang panjang kini berwarna hitam bercampur putih, Alisnya dan bulu di atas kelopak matanyapun putih, sorot matanyapun berubah terlihat tajam dan bersinar. Setelah mendalami ilmu Kanuragan dari Resi Bambang Ekalaya memang menjadikan penampilan sosok Wiratama berubah.
Ki Badra dan Nyai Seruni tercekat melihat sosok yang berada di depannya, hanya sekilas kemudian mereka bisa mengembalikan ketenangan di hatinya masing-masing.
Ki Badra kemudian maju mendekat, "harusnya aku yang bertanya kepadamu Kisanak! siapa kau yang berada di lembah kekuasaanku ini?"
__ADS_1
"Ternyata lembah ini ada pemiliknya! apakah aku harus membayar untuk tinggal di sini?" senyum sinis dari Wiratama tersungging di bibirnya.
"Kangmas, siluman beralis putih ini harus di beri pelajaran, biar dia mengenal dengan siapa berhadapan!"
"Sraaath...Tubuh Nyai Seruni berkelebat dengan cepat dan posisi tangan mencengkeram berniat akan menarik rambut Wiratama.
Ki Badra sebenarnya berniat akan mencegah tindakan Nyai Seruni, tetapi peringatan yang di berikannya kalah cepat dengan gerakan serangan Nyai Seruni kepada Wiratama.
"Sraaaph...tubuh Wiratama hanya bergeser seperti belalang sembah, serangan cepat dari Nyai Seruni dapat di hindari dengan mudah.
Nyai Seruni melanjutkan serangannya, tangannya menusuk dan memukul ke bagian-bagian vital, walaupun tanpa di lapisi Aji Kanuragan, jurus yang di lancarkannya sangat berbahaya.
Tusukan yang menuju jantung oleh Wiratama hanya di tepis dengan lengan kiri, pukulan yang mengarah ke belakang kepalanya pun lepas hanya dengan geseran kaki yang sederhana.
Ki Badra memperhatikan semua gerakan Wiratama, dan mencoba menerka jurus-jurus yang di lakukan Wiratama. gerakan jurus itu sederhana tetapi sangat efektif untuk membuat serangan dan pertahanan.
"Akkkh....Kurang ajar!"..Nyai Seruni berniat melanjutkan serangannya kembali "Jangan kau merasa senang dulu keparat!" tetapi sebelum Nyai Seruni melakukan serangan lanjutan, Ki Badra melesat ke tengah-tengah mereka untuk menghalangi, "Tenanglah Nimas, aku ingin berbicara kepadanya!" dengusan kesal terdengar dari mulut Nyai Seruni.
"Pertanyaanku belum kau jawab Kisanak! aku tidak sedang mencari sengketa dengan siapapun, jika kau mau.. kau bisa menjadi sekutu kami!
"Kami adalah sepasang Iblis Laut dari Selatan, perkiraanku mungkin kau juga adalah salah satu korban dari hukum kerajaan Mataram untuk menjalani hukuman mati di lembah ini, tetapi jika kau bersedia bergabung bersama kami, kebebasan dan kesenangan akan kau peroleh Kisanak!"
Ki Badra berharap Wiratama akan bisa berpikir jernih dan merasa takut dengan gelar yang dia sebutkan tadi, karena gelar Sepasang Iblis Laut, bukanlah gelar sembarangan dan terkenal di antara para pendekar kalangan tua.
"Kakek tua, sepertinya aku tidak tertarik dengan tawaranmu!" setelah menjawab dengan singkat, Wiratama membalikan badannya berniat untuk pergi.
__ADS_1
"Keparat! sikap angkuhmu harus kau bayar dengan nyawa! Hiaaaath.....Wussh...Wussh...
Ki Badra menyerang Wiratama dengan cara membongkong dari belakang, Pukulannya cepat menimbulkan suara deru angin.
Wiratama berbalik dan mengibaskan seruling yang berada di tangannya "Wuuush...Traaakh...
membentur lengan Ki Badra sehingga pukulannya meleset ke samping, serangan susulan pun terdengar dari Nyai Seruni yang dengan cepat meloloskan pedang bersinar merahnya, "Sraaath...wesssh...
Wiratama meloncat menjauh menghindari sambaran pedang, kemudian balik menyerang ke arah Ki Badra dengan tusukan serulingnya, suara seruling terdengar melengking menusuk gendang telinga dan membuat jantung berdebar.
Suara seruling sangat mengganggu pendengaran dan ke kokohan kuda-kuda Ki Badra dan Nyai Seruni, membuat mereka akhirnya bertarung dengan konsentrasi tinggi, dan mengeluarkan Aji-aji andalan mereka.
"Hiaaath...Blaarh...Blaarh..kedua tangan Ki Badra memggempur dengan pukulan sinar merah.."Jaring Penjerat Sukma! Craash...Craaash...lima larik sinar keluar dari jari-jari Ki Badra, menyerang tubuh Wiratama.
Wiratama bersiap dengan seruling di tangannya, saat Seruling di kibaskannya sinar membentuk kipas membentengi dirinya dari Jaring Penjerat Sukma.."Blaaarh...Blaaarh...
Pedang Nyai Seruni terayun dengan tenaga dalam penuh, "Hiaaath...Blarrh...Blaarh...membelah tanah dengan memanjang mengejar tubuh Wiratama yang melesat menjauhi kalangan pertarungan untuk menghindar.
"Candramawa! ambil korbanmu!" Dari tubuh Ki Badra melesat bayangan hitam yang dengan cepat dan tidak di perkirakan menghantam tubuh Wiratama yang baru saja menginjakan kakinya di tanah.
"Wuuush...Blaarh...Blaarh, pukulan Candramawa tepat mengenai tubuh Wiratama yang kemudian terlempar menabrak pohon hingga rebah.
"Melihat tubuh Wiratama rubuh di antara pohon-pohon yang tumbang, Nyai Seruni tertawa senang..."Hik...Hikk.hikk...mampuslah kau! kita tawarkan madu ternyata kau menginginkan racun! manusia sombong!"
""Graaaumh....terdengar suara gerungan Lodaya ketika Wiratama bangkit, ia telah berubah menjadi manusia setengah Harimau, angin bercampur batu berputar-putar mengelilingi tubuhnya.
__ADS_1
"Kraaaah....putaran angin bercampur batu melesat menuju Ki Badra dan Nyai Seruni, "Prrrakh!...Prrakh...beruntung bayangan Candramawa melindungi mereka, tetapi tempat yang mereka pergunakan untuk bertarung kini udaranya bercampur debu dan sulit untuk melihat sekitar.
Setelah angin kencang berhembus dan menghilangkan debu, terlihat Wiratama bersiap membantai Ki Badra dan Nyai Seruni.