Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Mengharu Biru


__ADS_3

Nini Sangga Geni membelai rambut Wirayudha " Wira, kau akan bertemu dengan Ayahmu, Ingat kau sekarang seorang Ksatria yang gagah, kendalikan dirimu di hadapan ayahmu, jangan sampai ayahmu merasa tertekan dengan kesedihan, buatlah ia bahagia karena bertemu denganmu".


Wirayudha menatap langit yang agak gelap, ia tak bisa mengingat entah sudah berapa puluh purnama telah terpisah dengan ayahnya, "akh...andaikan ibu masih ada, betapa bahagianya romo bertemu aku dan ibu", kesedihan mulai menyapa Wirayudha.


Terlihat dua bayangan dari jauh sedang mendekat, tubuh mereka seperti melayang di udara dan tidak menapaki jembatan-jembatan bambu gantung yang terpasang, pertanda ilmu meringankan tubuh mereka mendekati sempurna.

__ADS_1


"Hups...srap..srap...keduanya meloncat dan berhenti di hadapan Ki Bondan, " Sembah bakti Ananda untukmu romo!...Wiratama memeluk ayahnya, di ikuti Nyai Gendis yang berdiri di belakangnya, "Selamat datang anakku, semoga keselamatan dan kesehatan selalu bersamamu!" Ki Bondan menepuk bahu Wiratama dan membetulkan ikat kepala Wiratama, "Hei...siapa pendekar wanita cantik yang bersamamu anakku?" Nyai Gendis menjura dalam-dalam di hadapan Ki Bondan, " Saya Gendis Prameswari Ki, rekan seperjalanan Kangmas Wiratama! Ki Bondan tersenyum ramah menyambut Nyai Gendis.


Wiratama menatap Wirayudha yang sedang berdiri di samping Nini Sangga geni, langkahnya perlahan mendekati tetapi belum juga Wiratama dekat, Wirayudha tak bisa mengendalikan perasaannya, anak itu meloncat dan langsung memeluk Wirayudha.. Romooo!.... huu....hu....tangisnya memecah suasana hening di sekitarnya, Wiratama mendekap erat tubuh putranya seakan-akan tidak mau dia lepaskan lagi selamanya, matanya terpejam menahan keharuan. Wiratama membelai rambut Wirayudha yang kini semakin panjang dan terikat seperti dirinya, kemudian jari-jarinya meraba wajah Wirayudha, membantu menyeka air mata yang masih menetes..." Wira, romo hampir putus asa mencarimu! "Akh"....Wiratama kembali mendekap wajah Wirayudha ke dalam dadanya, setelah di lepaskan dari pelukan ayahnya, Wirayudha meraba wajah Ayahnya, terlihat air mata Wiratamapun jatuh menetes.


"Aku baik-baik saja romo! tetapi tidak dengan Ibu!...ia telah meninggalkan kita selama-lamanya", setelah mengatakan itu Wirayudha kembali menangis di pelukan Wiratama.

__ADS_1


"Anakku, inilah kehidupan dunia yang fana, kebahagian dan kesedihan akan selalu datang silih berganti, bersabarlah dan mencoba untuk mengiklaskan apa yang telah terjadi". Ki Bondan memeluk keduanya dari belakang.


Ki Bondan membawa mereka ke dalam rumah, mencoba untuk sedikit menghilangkan keharuan dan kesedihan.


Sementara itu Eyang Padasukma dan Nini Sangga geni saling menatap, merekapun sama-sama terharu saat melihat perjumpaan Wirayudha dengan ayahnya.

__ADS_1


Nyai Gendis duduk seorang diri di tangga-tangga yang terbuat dari bambu, setelah dirinya bersama Wiratama, suasana hari-hari yang dilaluinya telah berubah, kebahagian dan rasa nyaman selalu berada di sekelilingnya. Dia sadari rasa cintanya kepada Wiratama semakin dalam, hatinyapun terpengaruh dengan keadaan Wiratama. Saat Wiratama terlihat sedih dan meneteskan air mata, Nyai Gendis tak tahan, ia ikut menangis dan merasakan. "Akh...aku tak bisa melihat Kangmas Wiratama menangis, hatiku ikut merasa luka dengan keadaan dirinya.


__ADS_2