Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Pengembaraan VI


__ADS_3

"Dhuaaarh....! puing-puing kayu yang berada di anjungan porak poranda dan betebaran ke atas, terlihat tubuh Wiratama yang melayang kemudian turun di hadapan Sentanu.


"Terlalu dini kau merayakan kemenangan Kisanak!" suara dan tatapan tajam dari Wiratama menghunjam mereka.


Wiratama berkelebat, sosoknya menjadi sosok bayangan karena sangat cepat, bergerak melintas di depan para anak buah Sentanu.


"Wussh....Crash...Crash...Arrrgkkk..Brugh...brugh...beberapa orang yang memakai cadar ambruk ke bawah dengan kepala terpenggal.


Dengan tangan yang berlumuran darah,.kini Wiratama berdiri kembali di depan Sentanu, "Grrrrh....sekarang giliranmu!"


Sentanu menggigil ketakutan, kemudian ia pun bersujud "Tobaaat pendekar!! ampuni kami!"


"Hufffh...bangun kau ********! tubuh Sentanu terangkat ke atas, tetapi tangan kirinya bergerak menyambar leher Wiratama, "Crasssh...tangan Wiratama menyambarnya dengan cepat, kukunya yang tajam laksana pedang memutus lengan Sentanu...


"Aaaakh.....jeritan melolong dari mulut Sentanu membuat yang lain begidik ngeri.

__ADS_1


"Hiaaat...Crash....crash....sambaran tangan Wiratama mengarah lutut Sentanu, membuat kaki-kaki Sentanu mulai dari lutut terbabat putus, dan yang terakhir jari-jari tangannya di cengkeram..Krekkh...terdengar gemeretak tulang jari yang hancur.


Sentanu jatuh pingsan dan terkapar, sambil melirik beberapa anak buah Sentanu yang masih hidup, Wiratama menggeram "Aku tidak akan membiarkan pimpinan kalian mati! biarkan dia hidup tanpa lengan ataupun kaki!"


Brajanata dan ke tiga saudaranya saling memandang, "Beruntung kita berada di pihaknya Kakang!" gumaman Somantara terdengar oleh yang lain.


Setelah Wiratama kembali ke dalam perahu, pelayaranpun kembali di lanjutkan menuju Nusakambangan.


Nusakambangan


Para pemberontak kerajaan, pendekar-pendekar aliran hitam, banyak berkumpul di Nusakambangan.


Sedangkan Lembah Nirbaya, lembah khusus untuk daerah pembuangan mayat-mayat para penjahat yang di eksekusi, tangisan dan jeritan tengah malam sering terdengar dari dalam lembah. Suasananya begitu mistis dan menyeramkan sehingga tidak ada seorangpun yang pernah berani mencoba untuk turun ke dalam dasar lembah.


Di tempat yang lain, pesisir pantai yang benama Segara anakan adalah nama pantai di sepanjang pulau Nusakambangan, Sebelumnya tidak ada satu perahupun untuk alat tranportasi, tetapi saat ini terdapat beberapa perahu, menandakan ada yang keluar dan masuk ke dalam pulau tersebut.

__ADS_1


Sebenarnya ada kisah yang tersembunyi di Pulau Donan atau Nusakambangan, di salah satu tempat yang belum di ketahui oleh banyak orang, tumbuh setangkai bunga yang bernama kembang Wijaya Kusuma yang bermanfaat untuk menambah kesaktian seseorang, tetapi bunga Kembang Wijaya kusuma salah satu penjaganya adalah seorang Ksatria yang bernama Bambang Ekalaya, Ksatria yang maha sakti dan mempunyai pusaka Cincin ampal, sehingga belum ada yang sanggup mendapatkan Kembang Wijaya kusuma.


Begitulah kisah singkat dari Pulau Nusakambangan yang menjadi tujuan Wiratama.


Sore hari perahu yang di tumpangi mereka mulai merapat di pantai Segara anakan, Wiratama dan Brajanata beserta saudara-saudara perguruannya mulai menginjakan kaki di pasir laut Segara anakan.


Perahu di tambatkan jauh dari perahu-perahu yang sudah ada, untuk menghilangkan jejak dari penghuni atau pengunjung yang lain.


"Raden! kita harus berhati-hati, beberapa informasi yang kami ketahui, saat ini banyak sudah tokoh sakti yang telah hadir di pulau Nusakambangan, entah mereka bertujuan apa?"


"Aku tahu Brajanata, aku harap kalian tidak jauh dariku, untuk menghindari ancaman atau bahaya yang akan datang!"


"Baik Raden, kami akan mengikuti perintahmu, jangan khawatir jika kami akan mengkhianatimu!"


Brajanata, Somantara , Bayunata dan Suryanata kini benar-benar tunduk kepada Wiratama, mereka merasa bersyukur menjadi pengikut Wiratama. karena dalam perjalanan bukan hanya kekejaman dan kebengisan yang mereka tahu dari Wiratama, tetapi banyak sisi kebaikan dan kebijakan yang akhirnya mulai menyadarkan mereka.

__ADS_1


Merekapun berjalan beriringan mulai memasuki kawasan pulau Nusakambangan, pohon-pohon Plalar mulai tampak ketika mereka masuk ke dalam hutan, pohon yang berkayu keras dan kuat dan bisa di jadikan bahan membuat perahu, sesekali.mereka pun melihat **** bonteng, binatang khas yang berada di pulau.


__ADS_2