Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Kabut Hitam Nusakambangan V


__ADS_3

Ki Sampang dan Nyai Ambarukmo terlempar ke arah buritan kapal dengan deras, hampir saja menabrak dinding kapal yang keras.


"Sraaaph...Srappph..,Sambaran cepat menyelamatkan tubuh keduanya, dan memungkinkan mereka berdiri kembali walaupun dengan muntahan darah dari mulutnya.


"Ki beristirahatlah dulu! biar aku yang akan mencoba menghadapinya!", ternyata Wirayudha telah menyelamatkan mereka berdua.


Ki Sampang mengangguk dengan lemah, Nyai Ambarukmo menatap dengan heran ke arah Wirayudha "apa yang akan kau lakukan anak muda? dia bukan lawanmu!" Nyai Ambarukmo mencoba mencegah Wirayudha untuk mendekati Songgo Langit.


Wirayudha melompat ke arah depan menghampiri Songgo Langit, "Aku ingin mencoba kesaktianmu Ki!", Songgo Langit menatap Wirayudha tanpa berkedip, "Apakah kau serius anak muda?"


Sekilas Songgo Langit merasa penasaran dan sekaligus meremehkan karena melihat wajah polos Wirayudha, tetapi Songgo langit bukan pendekar kemarin sore, analisanya matang terhadap sesuatu.


"Hmm...kemampuan anak ini pasti berbanding terbalik dengan usianya, pandangannya tajam menandakan nyalinya tinggi, ketenangan dan kepercayaan dirinya sangat kuat!" Songgo Langit membatin dalam hati.


"Haaaait....tebasan tongkat yang di ayunkan dari atas kepala Songgo Langit menyerang Wirayudha dengan sebat, menyambar-nyambar menimbulkan angin yang keras, "Shaaath...Menjangan Kabut Wirayudha mengimbangi kecepatan tongkat, tubuhnya meliuk-liuk bagai ular menghindari pukulan-pukulan.


"Benar apa yang ku duga, kecepatannya mampu mengimbangiku, tetapi tenaga dalamnya tidak mungkin bisa mengimbangiku!"..."Hiaaath..Sraaakh..Sraaakh...pukulan tongkat Songgo Langit berputar, gerakannya mengincar bagian atas tubuh Wirayudha, dan sengaja memposisikan tongkatnya untuk beradu dengan lengan Wirayudha.


"Wirayudha pun pandai menilai, tangannya tidak mau beradu dengan tongkat, yang kekuatan anginnya saja sudah terasa berat..


"Hiaaath...Sraaath...Tombak bermata dua pun tergenggam di tangannya, Tombaknya hampir mirip dengan yang di pakai oleh Songgo Langit, hitam gelap.


Wirayudha menutup mata, mulai menghilangkan segala rasa, dan mencoba bersatu dengan Tombak Cidro miliknya...


Ki Bondam Wiratama memandang cucunya dengan perasaan was-was dan khawatir, karena mengetahui betapa dasyhatnya kekuatan Tongkat Pemasung Langit milik Songgo Langit.


"Hiaaaath...Wirayudha berteriak sambil mengikuti gerakan yang di timbulkan senjatanya, "Sraaaang...Tombak Cidro di lapisi asap-asap hitam tebal, Tubuh Wirayudha berputar mengikuti gerakan putaran tombaknya kemudian melakukan gerakan tusukan dan sambaran seperti gerakan bilah pedang.


Songgo Langit yang percaya diri dengan kemampuan tenaga dalam dan tuah tongkat pemasung langit, melakukan gerakan pukulan -pukulan, berusaha menebas batang Tombak Cidro yang melakukan serangan beruntun.

__ADS_1


"Traaang...Traaang...Dhuaaarh...Dhuaaarh"...


Benturan senjata dan tenaga dalam mereka menimbulkan dentuman dan merusak seisi kapal yang di tumpanginya.


Prajurit-prajurit Mataram yang menyerang perompak telah menyelesaikan tugasnya, para perompak banyak yang tewas dan melarikan diri dengan cara menceburkan diri di laut.


Melihat efek samping pertarungan antara Wirayudha dan Songgo Langit yang menimbulkan kerusakan berat, membuat mereka berlompatan ke Kapal yang di tumpangi Ki Bondan Wiratama bersama yang lainnya. Setelah itu Kapal mereka mulai mengambil jarak dari pertarungan tersebut.


"Blaaarh...Blaaarh....dentuman akibat serbuan senjata keduanya, benar-benar membuat kerusakan parah pada Kapal, dan perlahan Kapal itu perlahan mulai tenggelam.


"Hua...Ha...Ha...Anak muda! aku ingin melihat kemampuan bertarungmu di atas permukaan laut!" Songgo Langit tertawa keras setelah mulai merasakan kapal yang di tumpanginya akan tenggelam. Dia tidak peduli kepada para perompak anak buahnya yang telah mati mengenaskan, baginya pertarungan itu adalah pertarungan mereka berdua tidak melibatkan yang lain.


Songgo Langit meloncat ke permukaan laut, kakinya menapak air, memperlihatkan betapa hebatnya ilmu meringankan tubuh yang di milikinya.


Tetapi tawanya terhenti, saat melihat Wirayudha melesat mengikuti dirinya, mengapung di atas permukaan air laut.


Wirayudha menyorotkan sinar mata yang menakutkan, wajahnya di lapisi sisik-sisik Ular Naga.


Dia terlihat seperti Dewa Perang yang berdiri di atas gelombang laut pasang , Tombak Cidro yang berada di tangannya tidak henti-hentinya mengeluarkan asap hitam.


"Hiaaaath....Sraaath, gulungan sinar hitam dari Tombak Cidro berhembus kencang menyerang Songgo Langit.


"Pemasung Langiiiittt Wusssh....Blaaarh...Balaarh!...


Pukulan Tongkat Pemasung Langit memecah air laut dan berusaha menghancurkan asap-asap hitam yang meluncur kepadanya, "Dummmh....Dhummm!"..


Asap hitam terpecah menjadi beberapa bagian terkena pukulan Pemasung Langit, tetapi tetap menerobos gelombang air dan menutup tubuh Songgo Langit yang terus bergerak menghindar.


"Hugh...Kurang ajar, asap beracun!"..Songgo Langit mulai terbatuk karena sempat menghisap asap hitam.

__ADS_1


Seluruh penumpang Kapal yang di pimpin Ki Bondan Wiratama merasakan ketegangan, apalagi Ki Bondan sendiri, belum pernah dirinya merasakan ketegangan seperti sekarang, padahal dia sendiri sering menghadapi pertarungan hidup dan mati.


Berpuluh-puluh Jurus dan ajian kanuragan telah mereka keluarkan, jual beli pukulan dan aduan senjata pun telah terjadi antara Wirayudha dengan Songgo Langit, semakin lama tenaga Songgo Langit mulai menurun akibat beberapa kali terjadi benturan tenaga dalam dan racun yang terhisapnya.


Pukulan-pukulan bertenaga dalam tinggi mulai terlihat sering menghantam tubuh Songgo langit, membuat dirinya mulai limbung dan berusaha keras tetap bisa berdiri di atas permukaan air laut.


"Kraaaakh.....Zzzzh...Zzzzh...Mulut Wirayudha mulai mendesis sembari tusukan dan sambaran tombaknya tetap berlangsung.


"Aaakh...Songgo Langit berteriak mengangkat kaki kanannya, di sana terlihat beberapa ekor ular laut telah membelit dan mematuknya.


Songgo Langit akhirnya tidak bisa mempertahankan ilmu meringankan tubuhnya. tubuhnya mulai tenggelam ke dalam air laut, tangannya bergerak berusaha supaya dirinya tidak tenggelam.


Wirayudha menyarungkan kembali Tombak Cidro ke punggungnya. dan mengembangkan kedua tangannya, ombak sekitar mereka mulai bergulung-gulung.


Songgo Langit menelentangkan tubuhnya di permukaan laut, ia tidak mengira hari ini berada di ujung maut saat bertarung dengan seorang pendekar yang namanya saja tidak dia kenal.


Saat ombak bergulung semakin tinggi, Wirayudha masuk kedalam air, dan muncul kembali tepat di bawah tubuh Songgo Langit, "Kraaaakh...Kedua tangannya memukul ke atas, membuat tubuh Songgo Langit terpental ke atas permukaan air laut.


Saat tubuh Songgo Langit melayang di atas dan akan jatuh ke bawah, Wirayudha meloloskan tombaknya kembali dan menusuk dari bawah. "Hiaaath...Craaash....!!!...


"Aaaaakh....! teriakan Songgo Langit menggema, bersama semburan darah dari tubuhnya, dan membuat tubuh tua itu terlempar ke dalam air tanpa bergerak lagi.


Gegap gempita terdengar dari dalam Kapal, mereka mengelu-elukan Wirayudha yang baru saja memenangkan pertarungan.


Nun Jauh di dalam Pulau Nusakambangan, Moksa Jumena terhenyak saat dia duduk, telinganya mendengar teriakan dari Songgo Langit yang sedang menemui ajal. "Ada apa Kakang Moksa?" Rakyan melihat Moksa Jumena yang duduk dengan mata terpejam. "Rakyan! Songgo Langit telah tewas...Kita harus membalasnya!"


Rakyan kemudian bersemedi dan berusaha ikut mendengarkan suara yang terlalu jauh jangkauannya, suara Songgo Langit tidak dapat di dengar membuat dirinya meruntuk dalam hati dengan kemampuan yang di milikinya.


"Hmmm...Mataram mempunyai seseorang yang dapat di andalkan Rakyan!... kita harus benar-benar menyiapkan dulu kekuatan untuk mengalahkan mereka!"

__ADS_1


__ADS_2