Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Nusakambangan IV


__ADS_3

"Aish...maafkan kami Gusti Senopati, kami tidak menyambutmu dengan layak!" Candrasih memasang wajah ramah ke arah Wiratama.


"Jangan panggil aku dengan sebutan itu Nisanak, aku seorang Senopati yang terbuang! panggil saja namaku Wiratama!"


"Arungga! bawa yang lain untuk melakukan pemeriksaan ke sekeliliIng pulau! tinggalkan aku di sini!" Candrasih memberikan perintah kepada Arungga dan yang lain.


Arungga tidak langsung pergi, dia berjalan mendekati Candrasih, "Nimas Candrasih aku menginginkan kematiannya!" Mata Candrasih langsung menatap tajam Arungga "aku tidak menyukai panggilanmu! cepat pergi dari pandanganku!"


Arungga memandang Wiratama dengan amarah, tetapi ia tidak mempunyai keberanian untuk melawan Putri Ki Respati tersebut, kemudian Arungga melesat pergi bersama yang lainnya.


"Tawaranku yang tadi masih berlaku Wira! kau tidak perlu tergesa-gesa untuk menjawabnya! ayo aku hadapkan engkau dengan ayahku! jangan permalukan aku dengan menolaknya Wira!"


Dengan terpaksa akhirnya Wiratama berangkat menuju Goa Ratu bersama Candrasih, sedangkan empat begal dari Jambu sari mengikuti di belakangnya.


Dalam perjalanan menuju Goa Ratu, Candrasih sengaja menggunakan ilmu meringankan tubuh, tubuhnya sangat ringan seperti tidak menapaki permukaan tanah, "He...he..he aku yakin dia tidak akan bisa mengimbangi lariku!"


"Masih jauhkah kediamanmu Candrasih?" terdengar dari samping suara Wiratama begitu dekat membuat kepala Candrasih berpaling melihatnya "Hiaaath.... Candrasih semakin mempercepat larinya, kini tubuhnya membentuk bayang-bayang karena cepatnya.

__ADS_1


"Wusssh...tubuh Wiratama menyalip dengan kecepatan yang tidak terlihat, tahu-tahu Wiratama sudah berada sepuluh tombak di depan. Candrasih berkata dalam hati "Ilmu meringankan tubuhnya berada di atasku",


"Setelah sampai di Goa yang berjajar, Wiratama sengaja memperlambat larinya sampai Candrasih menyusul dan berdiri di sampingnya.


Di saat mereka berdiri di depan goa, terdengar suara yang bergema dari dalam goa "Kenapa kau kembali dengan cepat? apakah tugas dari romo sudah kau laksanakan?"


"Belum seluruhnya Romo! tapi aku membawa seseorang untuk menghadapmu!"


"Hmm...apakah orang ini sangat istimewa bagimu Candrasih?" Wajah Candrasih memerah mendengar pertanyaan dari ayahnya.


"Haaaikhh...Bummh...Buuumh...dua sinar terlihat dari dalam goa menuju Wiratama yang sedang berdiri, tetapi serangan itu dengan mudah di elakkan.


Wiratama yang terdesak tidak dapat mengelak kembali terhadap serangan lanjutan Ki Respati, ia pun terpaksa langsung mengeluarkan Aji Macan Lodaya, kedua tangannya menyambut sambaran tangan Ki Respati, "Dhaaakhh...Dhaaakh! benturan tangan mereka menimbulkan getaran-getaran hebat di sekekilingnya, membuat Candrasih akhirnya menjauh dan menonton adu kesaktian ayahnya dengan Wiratama.


"Ha..Ha...Ha, tepat sekali pilihanmu anakku, ia seorang yang kuat dan mempunyai nyali!" Ki Respati menoleh memandang anaknya yang sedang terpukau oleh kelihaian Wiratama.


Ki Respati seorang tokoh sepuh yang sudah malang melintang di dunia persilatan, kemampuannyapun jarang sekali bisa di imbangi oleh pendekar manapun, kali ini ia bersemangat melanjutkan pertarungan karena Wiratama mampu mengimbangi jurus-jurus andalannya.

__ADS_1


"Hiaaath...Wugh...Wugh....tendangan Kaki Ki Respati meluncur mengarah ke tubuh Wiratama, Wiratama menyadari kakek tua itu sedang menguji kekuatannya, tanpa ragu ia pun meluncurkan tendangan beruntun yang berisi Selasa gunung tingkat akhir...."Dhuaarh...Dhuaaarh...Dhuaaarh! tendangan mereka berbenturan, membuat keduanya berjumpalitan ke belakang kembali.


"Garuda Murkaaa!!!... Respati mendorong kedua tangannya melancarkan gelombang pukulan inti api, dari kedua telapak tangannya keluar Api yang meluncur ke arah Wiratama.


"Badai Gunung Ciremai....Wuuush.....! Wiratamapun tidak kalah sengit meluncurkan gelombang panas menahan pukulan Respati....


"Bhuuummm!.....Bhummmmh!!!.....


ledakan hebat terjadi dua kali, membuat sekitar lokasi pertempuran mereka porak poranda, pohon-pohon tumbang hangus terbakar.


Wiratama terjajar lima tombak ke belakang, sedangkan Ki Respati sendiri terdorong dua tombak. terlihat tenaga dalam Ki Respati masih di atas Wiratama.


Tubuh Ki Respati memecah menjadi tujuh bayangan yang langsung menyerang Wiratama.


Beruntung Wiratama telah menguasai Bayangan Dewa dari Ki Sawung Galih, tubuhnyapun ikut berubah menjadi tujuh bayangan, dan mampu menahan serangan-serangan dari Ki Respati.


Berpuluh jurus telah berlalu, Ki Respati merasa marphum yang dia hadapi seorang pria pilih tanding, sampai nafasnya memburu, ia belum juga mampu mengalahkan Wiratama.

__ADS_1


Situasi tidak terduga, di saat Wiratama sedang konsentrasi menghadapi Ki Respati, meluncur bilah pedang yang di lesatkan oleh Arungga yang sedari tadi bersembunyi dan mendapatkan peluang untuk menyerang Wiratama "Hiaaath....Wuush...Sraaph....Aaarkh!!!"...bilah pedang itu menancap di tubuh Wiratama yang kemudian terjengkang jatuh ke tanah.


__ADS_2