Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Kembalinya Wiratama


__ADS_3

Dua pekan telah berlalu, Wiratama berangsur-angsur telah pulih kembali, baru saja dia selesai melakukan semedhi untuk mengembalikan pemulihan tenaga dalamnya, sedangkan Nyai Gendis sendiri sibuk menyiapkan makanan dan berbagai buah-buahan yang di dapat dari hutan sebelah.


Setelah sedikit melakukan gerak olah tubuh, Wiratama kemudian beristirahat di dekat Nyai Gendis. "Kangmas, makanlah terlebih dahulu! aku membuat ayam bakar hutan khusus untukmu!" senyuman Nyai Gendis mengiringi tatapannya kepada Wiratama. "Terimakasih Nyai."


Situasi Kotaraja setelah peristiwa di kalahkannya Dewi Pramudita, kini mulai mencekam, banyak korban jatuh yang menjadi tumbal kebengisan Dewi Pramudita


Dewi Pramudita kini tidak pandang bulu untuk mencari korbannya, para penduduk biasa, prajurit, ataupun dari para pendekar. Ia berusaha secepat mungkin meningkatkan kemampuannya.


Korban berjatuhan dengan tanda-tanda yang sama, seluruh anggota badannya kering tanpa darah.


Raden Gilang Seta dan Raden Sangaji benar-benar di buat siaga, karena mereka tidak dapat memprediksi kapan aksi-aksi Dewi Pramudita akan berlangsung.


Perangkap-perangkap telah di pasang untuk menghentikannya, tetapi semuanya sia-sia. Ketakutan penduduk semakin bertambah membuat jalanan-jalanan dan aktifitas kehidupan semakin tidak stabil, peristiwa ini berlangsung hingga satu purnama.

__ADS_1


Suatu malam di jalanan Kotaraja, terlihat Ki Sampang, Ki Wisesa dan Wirayudha ikut berpatroli bersama beberapa prajurit mengelilingi Kotaraja. "Graaakh...graaakh...terdengar suara burung gagak yang parau membuat suasana semakin hening dan mencekam.


"Wughh....Wusssh!... suara angin keras terdengar, tidak lama kemudian awan hitam menghembus dengan kecepatan yang kuat menerpa beberapa prajurit yang berada di depan, membuat langkah mereka menjadi gontai.


"Prajurit! semuanya berhenti!" terdengar suara keras dari Ki Sampang memberikan perintah...."Kraaaakhh...bhummm..! Pohon besar yang berada di tepian jalan tiba-tiba roboh melintang.


"Hikkk...hikhm..hikhh, Lodaya! apakah kau akan menghentikanku?... Jangan bermimpi Lodaya!..kemampuanmu tidak akan sanggup menghentikanku!" suara tawa yang bergema membuat para prajurit menjadi gentar, langkah mereka beringsut mundur.


Ki Sampang dengan marah berteriak dengan keras "Iblis betina, tampakan wujudmu!...pengecut!..kau hanya mampu menghadapi orang-orang yang lemah tanpa daya!"


"Terdengar suara bergema kembali "Aku akan menampakan wujudku dengan satu syarat! kembalikan Purbaya kepadaku!..kalau tidak, aku akan terus melanjutkan pembunuhan ini!" Kau juga bocah! jangan bermimpi bisa memusnahkanku hanya dengan kanuragan yang kau miliki!"


"Hikh...hikh...hikh...Brrrhhh...awan hitam itu berputar semakin cepat kemudian berpendar dan hilang.

__ADS_1


Wajah-wajah kesal nampak dari Ki Sampang dan yang lainnya, mereka merasa tidak mempunyai daya sama sekali untuk mencegah Dewi Pramudita pergi.


Upaya yang di lakukan untuk pencarian Wiratama sendiri terkendala, di tambah teror dari Dewi Pramudita merajalela, membuat semuanya berpikir keras.


Raden Gilang seta berdiri sejajar dengan Raden Sangaji, mereka sedang berembuk dalam rangka menangani teror-teror yang terjadi, "Hufffh....yang kita hadapi adalah lelembut! prajurit-prajurit kita di siapkan untuk pertempuran di medan perang bukan bertarung dengan bangsa lelembut Kakang, apa yang harus kita lakukan?" terdengar suara Raden Gilang Seta dengan mendengus kesal.


"Dimas, lebih baik kita laporkan hal ini kepada Gusti Panglima Utama! Aku tidak percaya jika di Mataram ini tidak ada pendekar yang bisa menandingi kemampuan lelembut ini!" akhirnya kedua Panglima Muda ini menuju kediaman Panglima utama Mandala Putra untuk meminta petunjuk.


Kembali ke Hutan Pengger, Wiratama sedang duduk di bebatuan besar dekat mata air. ia duduk bersila, beristirahat setelah selesai melakukan latihan kanuragan, tubuhnya basah tersiram air segar, rambut panjang terurai. Di belakangnya Nyai Gendis mengguyurkan air dengan daun pohon keladi yang lebar. "Nyai...sudah terlalu lama kita berada di sini, apakah kau tak menginginkan kita keluar dari hutan ini?"


Nyai Gendis dengan wajah yang ceria menjawab sambil tangannya merapihkan rambut Wiratama, "Tidak Kangmas, aku sudah merasa nyaman di sini! asalkan bersamamu, tidak masalah di manapun aku berada!"


"Tidak sesederhana itu Nyai!, kita banyak meninggalkan tugas dan kewajiban yang harus kita lakukan, aku ingin menghentikan semua kejahatan yang di lakukan Dewi Pramudita!", "Apakah rencanamu selanjutnya Kangmas?" Wiratama berdiri dan berjalan keluar dari Sendang Air itu, "besok pagi kita memulai penyelidikan di Kotaraja Nyai! untuk sementara, mungkin kita berdua harus melakukan penyamaran agar tidak menimbulkan permasalahan yang tidak kita inginkan." "Baiklah Kangmas, aku akan selalu mendampingimu."

__ADS_1


Keesokan harinya terlihat dua orang sepuh laki-laki dan perempuan berjalan tertatih, keluar dari Hutan Pengger, tidak ada yang mengira sama sekali, bahwa mereka adalah Wiratama dan Nyai Gendis yang melakukan penyamaran, wajah keriput mereka terlihat letih, rambut mereka pun putih, penyamaran yang di lakukan mendekati sempurna.


__ADS_2