
Nini Sangga geni berjalan di iringi oleh Wirayudha dan Pasukan Badai kembali ke Kawasan gantung, mereka di sambut oleh Wiratama dan Nyai Gendis.
Wiratama memegang tubuh Nini Sangga geni saat dia berjalan terhuyung, "Nini, bagaimana keadaanmu? Apakah kau baik-baik saja?".. Nini Sangga geni di ajak masuk ke dalam ruangan pengobatan, "Wiratama, jangan kau khawatirkan diriku! tubuh tua ini hanya sekedar butuh istirahat", Wiratama pun memapah Nini Sangga geni dan menemani dia duduk.
Saat di dalam ruangan, Nini Sangga geni hanya di dampingi Wiratama, "Nini aku minta izin untuk menyalurkan hawa murniku agar dapat mempercepat pemulihan tubuhmu!", "Baik Wira, terimakasih", kemudian Wiratama menyalurkan hawa murninya untuk membantu Nini Sangga.
Setelah semuanya selesai, Wiratama dan Nini Sangga geni duduk berhadapan, "Terimakasih Wira! aku telah segar kembali". Wiratama berdiri untuk pergi keluar, "Nini aku pamit untuk melatih Putraku dulu! beristirahatlah sampai kau pulih sepenuhnya!".
__ADS_1
"Tidak Wira, tetaplah kau disini!, ada sesuatu yang penting yang harus aku sampaikan kepadamu mengenai Wirayudha. Mendengar perkataan Nini Sangga geni, Wiratama kembali duduk "ada apakah dengan Wirayudha Nini?", "Wiratama, kau harus benar-benar menjaga anakmu!, jangan sampai Wirayudha jauh darimu dan menjadi pengikut orang-orang di luaran yang berperangai jahat, karena itu akan membahayakan kita semua. Wiratama masih kebingungan dengan penjelasan Nini Sangga geni, "aku belum paham apa yang kau jelaskan mengenai Putraku Nini!", mohon beri aku pemahaman!".
"Wiratama kini putramu bukan lagi seorang bocah biasa, ia adalah pemuda tanggung yang Maha Sakti, yang jika dia berniat melakukannya, Jawadwipa ini akan hancur", kemudian Nini Sangga geni menceritakan apa yang telah terjadi dengan Wirayudha, yang kini telah menguasai ilmu-ilmu Kanuragan yang menurut sebagian para pendekar zaman sekarang hanya sekedar dongeng belaka, setelah Nini Sangga geni bercerita banyak, ia pun kemudian berbaring di balai-balai bambu, sedangkan Wiratama keluar dengan perasaan yang bercampur baur, antara percaya dan tidak.
Setelah Wiratama menceritakan tentang Wirayudha kepada ayahnya, keesokan paginya terlihat empat sosok berjalan keluar beriringan, Ki Bondan Wiratama, Nini Sangga geni, Wiratama dan Wirayudha berjalan menuju Bukit Gupit.
"Wusssh....tubuh Wiratama berkelebat mendahului Wirayudha, "Hayoo Wira!, pergunakan Menjangan Kabutmu!, Wirayudha yang merasa sedang di uji oleh ayahnya kemudian menyusul dengan sama-sama mempergunakan Menjangan Kabut, "Wusssh....tubuhnya meloncat dan berlari mengejar.
__ADS_1
Semenjak menguasai Aji Naga langit, tahapan tenaga dalam Wirayudha sudah meningkat dengan pesat, sehingga mempengaruhi kecepatannya dalam mempergunakan Menjangan kabut, "Haaaikh....tubuhnya seperti bayang-bayang mengejar Wiratama, "Wesssh...ada angin yang menerpa samping badan Wiratama, "gilaaa....kecepatannya sudah seperti ini!, apakah dia masih bisa meningkatkan kecepatannya lagi?" Wiratama kemudian meningkatkan kecepatan Menjangan kabutnya "Wusssh....kini terjadi kejar mengejar antara Wiratama dan Wirayudha, tubuh mereka terlihat seperti bayang-bayang.
"Hua...ha...ha, Eyangpun tidak kalah denganmu Wiraaa!" terdengar suara tertawa di samping mereka yang sedang berlari, Kini Ki Bondan Wiratama pun ikut berlomba adu cepat, kecepatan "Syaifi Anginnya bersaing dengan mereka.
Saat jalanan mendaki, Wirayudha mempercepat larinya, tubuhnya seperti terbang melewati kecepatan ayah dan Kakeknya, saat loncatan terakhir Wirayudha telah sampai lebih dulu di puncak Bukit Gupit, sepuluh tombak lebih cepat. kemudian berturut-turut Wiratama dan Ki Bondan.
Wiratama dan Ki Bondan seakan tidak percaya, kecepatan mereka di kalahkan oleh Wirayudha yang sekarang berdiri menunggu kedatangan mereka, "Nngerrr! kau hebat sekali bisa mengalahkan eyang dan ayahmu!".
__ADS_1