Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Ketangkasan Ki Seno Keling


__ADS_3

"Kragh...kragh.....panggilan Ki Seno Keling kepada pasangan burung Alap-alapnya terdengar, sepasang burung itu terbang menjauhi Somantara dan terbang berputar-putar di atas.

__ADS_1


"Ha...ha...ha, kau menghadapi peliharaanku saja tak sanggup", "Hei pembongkong, jika kau ingin menghadapiku jangan malu-malu", ayoo hadapi aku dengan terang!" Ki Sobali merasa sebal dengab kesombongan lawannya, ia kembali menyerang dengan pukulan-pukulan beruntun, mengarah ke perut dan dada Ki Seno, kali ini Ki Seno tak bergerak, ia berada di posisi tegak dengan kokoh, "bugh...bugh....bugh..., tiga pukulan bersarang dengan tepat di tubuh Ki Seno.

__ADS_1


"Aaakh.....jeritan melengking terdengar, tetapi bukan dari mulut Ki Seno, semua orang yang berada di situ terkejut, Ki Sobali terjengkang sambil memegang tangan yang tadi ia pakai untuk memukul, "Ha....ha....ha, kau pikir aku mudah di tumbangkan, kalian bukan lawanku pergilah sebelum aku berubah pikiran!" akhirnya Somantara dan Ki Sobali sadar diri, mereka kemudian pergi dengan menanggung malu. Ki Seno keling menyapa para petani yang tadi menyaksikan pertarungannya, "kalian jangan takut, aku akan menjamin keamanan disini tanpa dengan persyaratan apapun, kami akan tetap membeli hasil perkebunan kalian dengan harga yang wajar dan bersaing dengan pembeli-pembeli yang lainnya. Petani - petani itu menyalami Ki Seno mengucapkan rasa terima kasihnya.

__ADS_1


ada perubahan terlihat pada penampilan Arya Permana, yang sebelumnya selalu menjaga penampilan dan selalu terlihat kemayu dan tampan, sekarang agak sedikit mengerikan karena hilangnya dua telinga di samping kepalanya. "Arya Permana, apa pembelaanmu dengan situasi yang kau hadapi sekarang? tuntutan dari pihak kami, kau telah melakukan pelanggaran tingkat tinggi, gagal dalam tugas pengamanan wilayah yang kami tunjuk, saat kau dalam pengawasan dan tanpa jabatan, kau merugikan kerajaan ini, membawa pasukan tanpa misi dari kami, jelaskan kenapa kau bisa selamat, tetapi semua prajurit yang kau bawa tewas mengenaskan tanpa tersisa!" Arya Permana yang tertunduk lesu akhirnya mengangkat kepalanya, "Gusti Panglima, hamba terpaksa membawa pasukan, tujuan kami ingin menyelidiki peristiwa - peristiwa penghadangan pasukan kami saat melaksanakan tugas, karena kami curiga, pelaku penghadangan, di setiap tempat selalu pasukan yang sama" Panglima Mandala Putra berdiri, "Arya Permana kau terlalu bodoh sekali! sebagai seorang panglima muda, kau seharusnya menguasai strategi-strategi pertempuran, saat kau kalah dalam satu wilayah, harusnya kau lakukan evaluasi terhadap kelemahan-kelemahan pasukanmu, bukan dengan melanjutkan misi ke wilayah yang lain, dan berkali-kali mengalami kekalahan kembali", tampak wajah Panglima Mandala Putra membesi menahan kemarahan, "hei dunguu! pasukan dari mana yang mengalahkan pasukanmu?"

__ADS_1


"Hamba tidak tahu Gusti, pasukan itu berasal darimana" Arya Permana menjawab dengan penuh ketakutan. "Kau memang benar-benar dunguu! pasukan telik sandimu kau pergunakan untuk apa? hah! dari awal aku sudah meragukan kemampuanmu dalam memimpin pasukan", sambil berkata demikian wajah Panglima Mandala Putra di palingkan ke arah para pangeran yang sedang menyaksikan persidangan, ia sengaja berkata demikian untuk menyindir para bangsawan yang terkadang dengan seenaknya sendiri mengambil keputusan untuk memberikan suatu jabatan. "ada yang ingin ku tanyakan kepadamu kembali, menyangkut pribadimu Arya Permana! sebelum kau menjadi Panglima Muda, kau memimpin pasukan apa dan di wilayah mana?"

__ADS_1


__ADS_2