
Danang Seta berusaha lari sejauh mungkin, setelah sampai Muntilan larinya di hentikan dan di lanjutkan dengan berjalan. Ia menghindari jalanan yang ramai, saat ini di kepalanya belum ada rencana sedikitpun untuk tujuan ke depan, entah apa yang harus di lakukannya sekarang.
Ki Danang Seta tak menghitung sudah berapa lama dia berjalan dan berapa kali beristirahat. Ketika sampai di tepian pantai, tubuhnya di baringkan di pasir-pasir hangat, sambil terlentang, "akh...senja sudah mulai turun, biarlah aku beristirahat di sini" Ki Danang Seta bergumam seorang diri. sebentar kemudian diapun terlelap karena lelah.
Pada pagi hari di kawasan gantung, markas pasukan pilihan Wiratama di Parangtritis terlihat banyak kesibukan, terlihat mereka sedang berlatih, baik Pasukan Badai, Topan maupun Guntur, mereka berlatih sesuai ke khususan masing-masing. Sementara itu Nini Sangga geni dan Wirayudha berjalan meninggalkan Kawasan gantung untuk berlatih di tepian pantai.
"Ayo Nini, kita mulai berlomba adu kecepatan menuju tepian pantai!", Wirayudha berlari dengan cepat menggunakan Menjangan kabut mendahului Nini Sangga geni.
Sampai mereka di tepian pantai, mereka berdua melihat seseorang yang sedang duduk menatap laut, walaupun Ki Danang Seta wajahnya berubah akibat luka, tetapi Nini Sangga geni tetap mengenalinya. Dengan cepat Nini Sangga geni berkelebat dan langsung berdiri di depannya.
"Tak ku sangka akhirnya kita bertemu disini Kisanak!" Pandangan Nini Sangga geni menatap tajam Ki Danang Seta yang sudah berdiri juga, "Aku mengingat namamu saat kau membongkongku Danang Seta!", "Nisanak apakah Kau perempuan tua yang bersama Padasukma?" Ki Danang memperhatikan Nini Sangga geni untuk memastikan dugaannya.
__ADS_1
"Keparat! kau pikir aku akan lupa dengan dirimu!' tangan kanan Nini Sangga geni memukul Ki Danang dengan Aji Selaksa gunungnya, "Hiaaath....blarh...blarh....terjadi benturan tenaga dalam yang membuat keduanya berjumpalitan untuk menghilangkan daya dorong tenaga lawan.
Nini Sangga geni kembali meloncat melakukan tendangan bertubi-tubi ke arah tubuh Ki Danang Seta, "Wugh...wugh..wugh.. tendangannya menimbulkan tenaga tekanan yang kuat, Ki Danang Seta menghindari dengan membuat langkah-langkah bayangan, tetapi tak urung kemudian dadanya terkena satu tendangan, "Wush....djegh.....Arrgkh..., tubuh Ki Danang Seta terpental jatuh bergulung di permukaan pasir-pasir laut. "Perempuan sialan!, kau tak memberiku kesempatan bicara!".. "Hiaath....wush...wush...dari kedua tangannya mengeluarkan senjata rahasia menuju titik-titik lemah tubuh Nini Sangga geni, tetapi dengan mudah Nini Sangga geni merontokannya hanya dengan satu kibasan.
Wirayudha menonton pertarungan gurunya, dari pembicaraan mereka Wirayudha bisa menangkap penyebab dari pertarungan itu, ia hanya memperhatikan kalau saja posisi gurunya terdesak ia akan ikut turut serta bertarung.
Pertarungan Nini Sangga geni dan Ki Danang Seta berlangsung seru, masing-masing mengeluarkan kemampuan terbaiknya, Jari sakti Ki Danang Seta menyambar Nini Sangga geni, mengarah ke berbagai jalan darah dan anggota tubuh yang membahayakan. Pakaian Nini Sangga geni banyak yang robek, terkena angin serangan Jari Sakti, Hingga suatu saat keduanya mengeluarkan Aji yang Dasyhat, "Hiaaath...."hiaaath...keduanya melompat tinggi hampir tiga tombak ke atas, tangan mereka masing-masing di aliri tenaga dalam yang tinggi guna melancarkan pukulan andalan, Nini Sangga geni menyerang dengan Aji Tapak geni tingkat terakhir sementara Ki Danang Seta menggunakan Aji Jari Sakti yang sempurna...." Blarhhhh...."Blarrrrh...akibat benturan pukulan itu pasir-pasir tepi pantai beterbangan. keduanya mendarat dengan posisi tubuh terjajar dua langkah, memperlihatkan tenaga dalam mereka dalam tatanan sama tingkatannya.
Ki Danang melirik ke arah sekelilingnya, ternyata selain Wirayudha, dia sudah di kelilingi oleh Pasukan Badai yang sudah siap sedia.
Pasukan Badai yang sebelumnya sedang berlatih, mereka kemudian menyusul karena terdengar pertempuran dari tepian pantai, akhirnya mereka mundur kembali, tetapi tetap dalam posisi mengawasi.
__ADS_1
Danang Seta yang merasa dalam posisi terdesak, akhirnya melakukan serangan dengan segala cara. "Hiaaath...wush..wush terlihat serbuk putih di sebarkan ke arah Nini Sangga geni. "Kau rasakan racun ular dari barat ini!... Wush...wush...Nini Sangga geni menghentikan serangannya, wajahnya terkena serbuk yang di lemparkan oleh Ki Danang Seta, "Ugk...ugh....dia hanya terbatuk, tetapi tidak terjatuh. Ki Danang Seta merasa was-was ternyata Nini Sangga geni tidak terpengaruh oleh racun ular dari barat, tidak seperti saat dia pergunakan kepada Padasukma di lereng Merapi.
Ki Danang Seta tidak mengetahui bahwa serbuk racun ular miliknya telah di tukar dengan obat tabur oleh Ki Sampang saat dia terluka berat, jadi serbuk itu tidak mempunyai pengaruh apa-apa terhadap Nini Sangga.
Kali ini Danang Seta mengeluarkan dua ekor Ular Weling, di lilitkannya ke kedua tangan, dan di pergunakan untuk menyerang Nini Sangga geni. Di tangan Ki Danang Seta, ular itu bisa menjadi senjata yang mematikan, saat tangannya memukul, ular-ular itu ikut mematuk, tetapi Nini Sangga geni dapat mengelakannya.
"Cukup Danang Seta, kau pikir ular-ular itu betul-betul ingin menyerangku?" kemudian dari mulut Nini Sangga geni keluar suara mendesis keras, "Zzzzh....zzzshh!,... suara desisan itu ternyata sebuah perintah kepada seluruh ular di sekitarnya.
Ratusan ular dari dalam air laut meluncur dengan cepat dan mengelilingi Ki Danang Seta, sementara dari daratan pun berpuluh-puluh ular datang dengan merayap.
"Hik...hik...hik, Danang Seta! aku ingin melihat kemampuanmu saat menghadapi Ular-ularku!". Danang Seta mundur selangkah sambil dia berteriak "Kau...kau..Ratu Ular dari puncak Ciremai?" Dengan tersenyum sinis Nini Sangga geni berkata "aku tak perlu menjawab pertanyaanmu!"
__ADS_1
"Zzzshhh.....zzzssssh....ratusan ular yang mengelilingi Ki Danang Seta mulai merayap dan menyerang, sebelum Ular-ular itu sampai dan mematuknya, Ki Danang Seta berteriak..."Aaarkh....arrkh...brugh.., ternyata ular yang di milikinya mematuk kedua lengannya, membuat ia terjatuh akibat pengaruh bisa Ular Weling miliknya sendiri.
Semua yang melihat merasa ngeri dengan kejadian yang menimpa Ki Danang Seta, saat dia terlentang, ratusan ular menyerangnya, "zzzsssh...craph...craaph....mematuk...dan menggigit, tubuh Ki Danang Seta meronta-ronta dan berteriak, semakin lama suaranya akhirnya hilang. Tubuh Danang Seta terbujur melintang dengan kulit hitam dan mulut berbusa, Ia tewas dengan mengenaskan. Nini Sangga geni kemudian mendesis kembali, membuat Ular-ular yang menyerang Ki Danang Seta serentak merayap dan pergi. Sementara dia sendiri menggandeng Wirayudha untuk kembali ke Kawasan gantung.