Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Misi Rahasia III


__ADS_3

"Jalasena, aku minta kau tidak terlalu banyak membunuh para prajurit, tujuanmu hanya membuat kekacauan untuk mencerai beraikan mereka!", "Baik raden, kami akan mengikuti perintahmu, setelah memberikan perintah kepada pasukan yang bertugas sebagai pemukul pertama, Wiratama bergabung dengan Ki Seno Keling.


Perang berkecamuk di daerah Kertosono, tetapi apalah daya, pemberontakan di daerah Kertosono tidak dalam jumlah skala yang besar, akhirnya dapat di padamkan oleh Panglima Muda Arya Permana. para pemberontak akhirnya melarikan diri menuju Madura.


Para prajurit di bawah pimpinan Arya Permana akhirnya kembali menuju Mataram dengan kemenangan gemilang, mereka melangkah dengan kesenangan karena berhasil mengemban tugas. Mereka tidak menyadari langkah mereka di bayangi oleh Pasukan Badai saat tiba di Wilangan.


Perjalanan mereka berlanjut sampai di Sragen, dan beristirahat di Desa Pendem, tenda-tenda di berdirikan untuk tempat persitirahatan sementara. "Rangkayu semua perkiraanmu tidak terjadi!", perjalanan kita begitu mulus dan mendapat kemenangan yang telak", terdengar suara Arya Permana sedang berbicara kepada Rangkayu, "benar raden, tapi sebenarnya aku tidak setuju kita beristirahat disini, daerah ini terlalu wingit karena masih dalam kawasan Gunung Kemukus", terlihat wajah Rangkayu menandakan keresahan, Aswangga yang mendengar suara Rangkayu mulai menertawakan "ha...ha...ha, Rangkayu apa kau takut Setan penunggu daerah ini?", tenang saja Rangkayu, aku yang akan menghadapinya!".


Baru saja Aswangga selesai bicara, terdengar suara kedua pengawal yang berjaga di depan tenda mereka, "arghkkk......arrghkkk...brug...brug", Arya Permana berdiri hendak keluar, tetapi langkahnya di cegah oleh Rangkayu, "tetap disini raden!"... , Aswangga melompat keluar untuk memeriksa, terlihat dua pengawal yang sudah tewas dengan kepala yang tertancap anak panah. Aswanggapun berteriak dengan keras, "serangan gelap!... serangan gelap!.. seluruhnya siaga!"..,

__ADS_1


Terdengar suara hiruk pikuk para prajurit yang sedang beristirahat, bangun mengambil senjatanya dan merekapun dalam formasi siaga. "Siing....sing.....jlep...jlep...terlihat beberapa anak panah berdesing menyerang mereka, "arghkk...arghk....!, beberapa prajurit kembali tumbang.


Serangan senyap menyerang mereka, tidak terlihat siapa dan di mana yang melepaskan anak panah, membuat para prajurit diam kebingungan. Aswangga meloncat di depan para prajurit kemudian melihat sekeliling ke arah pohon-pohon lebat dan berteriak, "hei pengecut, keluar kalian!", tidak ada jawaban sama sekali.


Berkelebat beberapa orang dari pohon satu ke pohon yang lainnya, kemudian terdengar teriakan, "Hiaaath....dhearr....dheaarh!, mereka melancarkan serangan ke arah tengah-tengah prajurit yang sedang bersiaga,membuat mereka kalang kabut berlarian, dari tangan-tangan penyerang gelap keluar sebentuk sinar merah yang menerjang, "bhummmh....bhummmm...bhummm!,


Aswangga berlari cepat mengejar para penyerang gelap.Ia pun dengan cepat memapas arah lari mereka, "berhenti kau!... "hiaaath...dheaarh...dheaarh Aswangga melepas beberapa pukulan jarak jauhnya, sementara itu penyerang-penyerang gelap yang memakai senjata panah terus menghujamkan panah-panah mereka ke tenda-tenda para prajurit, sementara itu di sisi lain pasukan Arya Permana yang bertugas sebagai pasukan pemanah mendapat serangan dari pasukan lain yang mempunyai kecepatan tinggi, mereka berjatuhan terkena sabetan pedang.


Wiratama dan Ki Seno Keling meloncat dari puncak pohon ke pohon yang lainnya, melihat Jalasena yang berhasil dalam posisinya, Ki Sampang dan beberapa Pasukan Bayangan sedang memghadapi serbuan para pendekar dari pihak Arya Permana. dan terlihat Pasukan Badaipun berhasil menahan serangan pasukan pemanah yang akan mendekat.

__ADS_1


Ki Wanara yang sedang berkuda merasa kebingungan, karena dia yang bertugas sebagai penghubung pasukan tidak bisa mengerahkan pasukan pemanah untuk datang membantu. Satu-satunya harapan ada di pasukan penjepit yang berada di sisi kanan dan kiri, ia pun membelokan arah kudanya ke arah sisi dan melepas anak panah api ke atas untuk meminta bantuan agar segera datang.


Sebenarnya sia-sia saja Ki Wanara melepas anak panah, karena pasukan tersebutpun sedang di serang habis-habisan oleh Pasukan Togan gunung dan Topan laut.


Setelah melihat situasi yang terkendali, Wiratama mulai meloncat mencari Arya Permana di tenda-tenda prajurit yang di curigainya.


"Hayoo raden, kita tidak ada waktu untuk berdebat, dan tidak bisa hanya mengandalkan Aswangga untuk memenangkan pertempuran ini, terlihat Rangkayu dan Arya Permana berlari melalui sela-sela pohon-pohon dan ilalang menuju arah Gunung Kemukus.


Rangkayu yang mempunyai naluri peperangan yang peka, sudah menerka jika posisi pasukan yang sekarang sedang kelelahan kemudian di serang, pasti akan berakibat fatal. karena itu dia berinsiatif untuk melarikan Arya Permana dari awal.

__ADS_1


Pertempuran masih berkecamuk, terlihat yang sangat seru adalah pertempuran antara Ki Sampang yang sedang berhadapan dengan Aswangga.


__ADS_2