
Melihat Nyai Gendis terluka dan khawatir bayangan misterius itu kembali menyerang, Wiratama mendahului untuk menyerang, Menjangan kabut ia pergunakan untuk mempercepat gerakannya, serangan tombak yang di gunakanpun semakin cepat, berusaha menusuk dan memukul tetapi menghindari benturan senjata, tangan kiri nya pun beberapa kali mengirim pukulan yang berisi Selaksa gunung, akibat serangan itu bayangan hitam terlihat menghindar dengan langkah - langkah yang aneh, dan terlihat beberapa bekas pijakan kakinya berlubang besar terhantam pukulan Selaksa gunung. Setelah beberapa serangannya dapat di hindari, Wiratama mengeluarkan salah satu Aji Badai Gunung Ciremai, udara yang dari tadi terasa dingin, berubah menjadi panas, Hiaaaath.....Blarrh....Blaarh.....hantaman Wiratama mengenai berberapa pohon yang berada di seberang, membuat pohon - pohon itu roboh terbakar, Wiratama memekik keras, "Grauuuumh....tanah menjadi goyah seperti terkena gempa, tetapi sebelum Wiratama menyerang terdengar suara menggema, "Cukup Wiratama ! kita hentikan permainan ini !" bayangan hitam itu membuka jubah yang menutupi kepala sampai tubuhnya, "Ha...ha...ha, ku kira setelah kau tidak menjadi prajurit, naluri tempurmu sudah hilang ' ...Setelah mengetahui siapa yang datang, Wiratama menjura hormat " Maafkan hamba yang tidak mengetahui kehadiranmu Gusti !" Panglima Mandala Putra mendekat dan menepuk - nepuk bahu Wiratama " kita tidak sedang berada di keraton, simpan unggah ungguhmu kepadaku !" Berkelebat empat bayangan pengawal Panglima Mandala Putra berdiri di belakangnya, salah satu pengawal itu adalah Ki Wisesa. " Ki Wisesa tolong kau obati wanita itu, aku akan membicarakan sesuatu yang penting dengannya" Panglima Mandala Putra memerintahkan Ki Wisesa.
Panglima Mandala Putra kemudian masuk ke pelataran candi, di ikuti oleh Wiratama yang mengikuti di belakangnya, setelah itu keduanya duduk berhadapan, Panglima Mandala Putra menanyakan langsung ke pokok pembicaraan, " Wiratama sebenarnya aku ingin mendengar kabarmu selama ini, tetapi akan aku tanyakan terlebih dahulu sesuatu yang membuat kita bertemu sekarang " Apa hubunganmu dengan wanita yang pernah mencoba membunuhku ?" Wiratama sadar, yang sedang ia hadapi adalah seorang Panglima utama kerajaan yang kemungkinan kesaktiannya melebihi dirinya, jadi tak mungkin untuk dia berbohong atau bersiasat "Ampun Gusti !... hamba tidak mempunyai hubungan apapun, hamba bertemu dengannya saat dia dalam keadaan terluka parah, hamba hanya berusaha mengobati luka yang di deritanya"....
__ADS_1
Panglima Mandala Putra menatap Wiratama, " Apa hanya itu alasanmu? , apa alasan yang kuat sehingga kau ikut campur terlalu dalam permasalahan ini?" Wiratama menjawab sambil menunduk.." Hamba harus menceritakan secara panjang Gusti, agar Gusti Panglima tidak salah menilaiku lagi ". Panglima Mandala Putra seperti terkena sindiran mendengar kata - kata Wiratama, " Hmm baiklah...ceritakan alasanmu, aku masih mempunyai waktu untuk mendengar keteranganmu !"
Wiratama kemudian menceritakan saat - saat dia menolong Nyai Gendis, dan menjelaskan kenapa nyai Gendis sampai nekad berusaha membunuh Panglima Mandala Putra.
__ADS_1
Panglima Mandala Putra mengerenyitkan keningnya, " Ceritakan apa yang terjadi padamu Wiratama ?"..kemudian Wiratamapun menceritakan kejadian di jalaksana dan perjalanannya kembali ke Mataram tetapi ia tidak menceritakan tindakan - tindakan yang sudah di lakukannya, " Wiratama, kau tahu sendiri, jika menyangkut Arya Permana, sulit bagi kita untuk menghukum dengan hukuman yang berlaku di kerajaan ini, banyak penjilat - penjilat di sekitarnya yang akan menyelamatkan, aku sendiri sudah muak dengan hal ini, aku mempunyai solusi untuk menyelesaikannya, kemudian Panglima Mandala Putra menjelaskan rencana - rencananya dengan rinci.
" Bagaimana Wiratama ?... apakah kau bersedia ?"...Wiratamapun menjawab tanpa ragu..." Hamba bersedia Gusti"
__ADS_1
Satu permasalahan telah kita selesaikan, selanjutnya aku ada satu permintaan kepadamu, dua pekan ke depan, aku menginginkan kau menyambangi ke kediamanku di kotaraja !" kau nanti bisa menghubungi Ki Wisesa di padepokannya sebelum menemuiku. untuk masalah ini, bersedia ataupun tidak, kau harus menyanggupinya Wiratama !" jika tidak Aku akan membawa Wanita itu bersama kami untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Wiratama akhirnya menjawab " hamba bersedia Gusti !" saat Wiratama masih menunduk, Panglima Mandala Putra berdiri dan melangkah keluar kemudian berkelebat bersama para pengawalnya.