Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Anjungan Berdarah di Penghujung Senja


__ADS_3

"Aku tidak bisa melakukannya Pramudita! cobalah sedikitnya memahami keadaan, kita terlahir dari rahim yang sama!"


"Aaah...Aku bosan mendengar nasehat itu Kakang, ribuan kali aku pernah mendengarnya, bunuh aku jika kau ingin menghentikannya! atau kau yang harus mati?"


"Hiiaaath....Sraaakh....Sraaath, bayangan tubuh Dewi Pramudita berkelebat, tangannya menyambar menyerang Ki Bondan Wiratama.


Dengan cepat Ki Bondan Wiratama menghindari serangan, "Wuuush...Pukulan Dewi Pramudita nyaris mengenai kepalanya.


Pramudita dengan kalap melanjutkan serangan-serangan maut melalui pukulan maupun tendangan.


"Kau hanya berusaha mengelak dan menghindar Kakang! apakah kau ingin menyiksaku!"


"Pramudita sadarlah! kita masih mempunyai waktu untuk memperbaiki semuanya!" terlihat Ki Bondan sama sekali tidak memiliki niat untuk menyerang Dewi Pramudita.


"Aku tidak mau menghentikannya, Hiaaath...Sraaath, sekali lagi Dewi Pramudita mencoba untuk menyerang, setelah pukulannya dapat di hindari, tangannya dengan cepat melingkar ke tubuh Ki Bondan untuk memeluk, dan di lepaskannya setelah mengambil sesuatu yang terselip di pinggang Ki Bondan.


"Apa yang kau lakukan Pramudita?" Ki Bondan terkejut setelah merasa keris yang terselip di pinggangnya telah terenggut oleh Dewi Pramudita.


Tanpa menjawab pertanyaan Ki Bondan, Dewi Pramudita melompat dan menusukan keris tersebut ke arah dada Ki Bondan.


Ki Bondan Wiratama mengelak dan menepis pergelangan tangan yang sedang meluncur, "Traaakh!..

__ADS_1


Pergelangan tangan Dewi Pramudita tertekuk ke arah belakang, tetapi tanpa di sadari oleh Ki Bondan, tubuh Dewi Pramudita dengan sengaja menyorong ke depan mengarah ke ujung keris yang sudah terbalik dan tertekan oleh tangan Ki Bondan, "Craaash...Hugggkh!"


Ujung Keris menghunjam dada Dewi Pramudita sampai dalam, tubuhnya terjatuh di pelukan Ki Bondan Wiratama. "Pramuditaaaa!"


Ki Bondan Wiratama merasa lemas sekujur tubuhnya, ia jatuh terduduk sambil memeluk Dewi Pramudita.


"Huggh...Apakah kau puas Kakang? aku tahu, kau telah mempersiapkan keris itu untuk membunuhku, aku rela kau tikam ribuan kalipun ke jantungku!"


"Kau bisa membunuh jasadku, tapi kau tidak bisa membunuh perasaan cintaku kepadamu Kakang!"


Ki Bondan Wiratama hanya terdiam, matanya dan telinganya mencoba untuk tidak melihat dan mendengar semua yang terjadi, dan berharap ketika ia sadar semuanya hanya sekedar mimpi.


Tetapi harapannya pupus, karena saat ia membuka matanya, Dewi Pramudita masih dalam pelukannya dengan tubuh terkulai.


Wiratama yang sedari tadi melihat dan mendengar apa yang terjadi dengan ayahnya, hanya menundukan kepala dan ikut merasakan kepedihan yang teramat dalam.


"Romo!"


"Eyang!"


Wiratama dan Wirayudha akhirnya mendekat dan memeluk orang yang mereka kasihi itu.

__ADS_1


Ketika malam telah tiba dan bintang-bintang di langit menghiasinya, Jenazah Dewi Pramudita di larung ke dalam lautan di lepas oleh Ki Bondan Wiratama dengan berurai air mata.


Keesok paginya Kapal telah merapat di pantai Cilacap, semua penghuni Alas Roban berpamitan untuk kembali, sedangkan pasukan Mataram yang di pimpin Raden Sangaji bersiap akan kembali ke Kotaraja.


Wiratama menghadap Raden Sangaji untuk pamit "Gusti Panglima, hamba pamit undur diri! kami mohon maaf jika ada perilaku atau tutur kata yang tidak berkenan, hanya ini yang bisa kami lakukan untuk Mataram!" kemudian Wiratama membungkuk dan menjura memberikan penghormatan kepada Raden Sangaji.


Panglima Muda Wilayah Timur Raden Sangaji kemudian mundur perlahan, memberikan tanda dan perintah kepada seluruh pasukan untuk memberikan penghormatan bersama kepada Wiratama, "Senopati Wiratama!!!...Namamu akan kami kenang selamanya sebagai Pahlawan yang gagah perkasa dalam menunaikan tugas dan kewajiban Nagara!"


Seluruh Pasukanpun menjura memberikan penghormatan bersama-sama.


Setelah melihat para prajurit telah tegak berdiri kembali, Wiratama bersama yang lain membalikan badan dan berjalan menuju Parangtritis dan melanjutkan perjalanan mereka ke Alas Roban. Ki Bondan, Wiratama dan Wirayudha berjalan beriringan, di iringi di belakang mereka Ki Sawung Galih, Ki Seno Keling, Ki Pandawa dan Nini Sangga geni, sedangkan Ki Sampang, Nyai Ambarukmo dan Candrasih ikut kembali ke Kotaraja bersama Raden Sangaji dan Pasukan Mataram. Dari kejauhan terdengar teriakan Raden Sangaji "Jalasena siapkan pasukan, kita berangkat!"


Wiratama kembali ke Parangtritis dengan di sambut suka cita oleh Putri Retno Ningsih yang sangat merindukannya. Mereka berpelukan dengan erat melampiaskan kerinduan. Keesok harinya mereka melanjutkan perjalanan ke Alas Roban bersama-sama setelah mengirim pesan lewat telik sandi untuk di sampaikan kepada Panglima Utama Mandala putra.


Selesai.


Terimakasih kepada seluruh pembaca setia, mohon maaf atas segala kekurangan atas karya ini.


...Perkenankan kami mendapatkan Komentar kalian yang terakhir sebagai salam perpisahan kita...🤝...


...Kelanjutan Kisah ini "Jiwa Ksatria"...

__ADS_1


IG iwanazis_as


__ADS_2