Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Cinta Membuatmu Lara


__ADS_3

Nini Sangga Geni mengambil ranting, di gebraknya kedua ekor kuda yang sudah di persiapkan oleh Wirayudha tadi, kedua ekor kuda tersebut berlari ke arah barat dengan cepat, tubuh Pangeran Adiraja terseret-seret sepanjang jalan, menabrak batu maupun tonggak kayu, suaranya menjerit-jerit keras. Nini Sangga geni dan Wirayudha berlari mengikuti dari belakang, untuk memastikan arah lari kuda tersebut.


Kedua ekor kuda itu lari tanpa tahu jika kemudian mereka amblas ke dalam jurang yang curam beserta tubuh Pangeran Adiraja yang terus berteriak. ringkikan kuda dan teriakan pangeran Adiraja hilang setelah mereka jatuh di kedalaman jurang.

__ADS_1


"Ayo kita lanjutkan perjalanan ke Kotaraja Wira!", Nini Sangga geni berbelok arah menuju selatan di ikuti Widayudha yang terus berlari.


Di sebuah taman keputren milik kediaman Panglima Mandala Putra, Putri Retno Ningsih duduk seorang diri. Semenjak pertemuannya dengan Wiratama di Tanjung Emas membuatnya selalu menyendiri. Mandala Putra sudah lama memperhatikan perubahan yang ada pada putrinya, "Sepertinya hari ini saat yang tepat aku berbicara padanya" gumam Mandala Putra sambil melangkah mendekati putrinya.

__ADS_1


"Aku merindukan Kangmas Wiratama romo!" apakah ini suatu kesalahan?" setelah mengatakan itu Retno Ningsih tertunduk dan terisak menangis, "aku tahu romo, perkataanku tak pantas di ucapkan seorang wanita, dan melanggar norma di lingkungan kita, tapi pada siapa lagi aku harus mengadu selain kepada romo". Mandala Putra menghela nafas dan terdiam setelah mendengarkan pengakuan putrinya. Keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing.


Setelah menarik nafas beberapa kali Mandala Putra pun berkata "aku tahu anakku, selama ini kau selalu memikirkan Wiratama, dan tak bisa aku pungkiri, akupun sebenarnya menyukai anak itu, aku menyesal, karena menyangsikan kesetiaannya pada kerajaan ini, entah sekarang dia ada dimana?" Mandala Putra kemudian berdiri, melanjutkan pembicaraannya "Sayang, saat itu dia tidak berusaha membela diri, dan lebih memilih mengikuti nasehat kakang Padasukma untuk mengalah dan pergi". "Aku tahu kakang Padasukma tidak mengharapkan pertumpahan darah, tetapi kakang Padasukma lupa, bahwa kebenaran harus di perjuangkan, bukan malah menghindar. "Akhirnya kita ikut terjebak dengan fitnah itu, "maafkan romo, karena tidak secara langsung romo punya andil, sehingga kalian akhirnya terpisah".

__ADS_1


"Romo, itu adalah masa lalu, Saat aku di Tanjung Emas, aku bertemu dengannya!" kemudian Putri Retno Ningsih menceritakan pertemuannya dengan Wiratama yang saat itu menjadi Nakhoda sebuah kapal dagang.


__ADS_2