
"Dimas Bondan, jangan lanjutkan kesalah pahaman ini, engkau tahu betapa aku pun menyayangi Wiratama seperti anak kandungku sendiri, aku hanya tak ingin dia terbakar oleh dendam".
Ki Bondan yang masih di liputi amarah menunjuk ke arah Eyang Padasukma "lalu apa yang kau mau?, kau menginginkan Wiratama diammm! dan tidak menuntut hak nya sebagai seorang suami ataupun ayah? kau sangat naif sekali kakang! berusaha mencegah Wiratama untuk merebut haknya dengan jalan kekerasan, tapi kau sendiri pura-pura tidak tahu dengan kelakuan ******* Adiraja dan anak-anak nya! sekarang aku bertanya padamu, apa yang telah engkau lakukan untuk mencegah perbuatan-perbuatan keluarga Adiraja di luaran sana?" Amarah Ki Bondan meluap-luap, tangannya mengepal. Nini Sangga geni terpancing amarah, ia sekarang maju di depan Ki Bondan, "Kisanak kau tak berhak menghakimi kakang Padasukma!"
__ADS_1
"Kruaaarghhh...Ki Bondan tak dapat menahan amarahnya, tangan kanannya yang sedari tadi sudah berkobar karena di aliri Bayu saketi di layangkan ke arah Nini Sangga geni, "Wuuush....Dhuaaarh....Tapak geni Nini Sangga geni menyambutnya, ledakan besar pun terjadi. Ki Bondan terjajar dua tombak ke belakang, tetapi Nini Sangga terlempar beberapa tombak ke arah pohon-pohon Bakau, beruntung Eyang Padasukma segera berkelebat menyambar tubuhnya. Ki Bondan berdiri goyah, tubuhnya di peluk oleh Ki Seno Keling ada darah yang keluar dari sela-sela mulutnya. terlihat oleh Ki Bondan dan Ki Seno, bocah yang berdiri di atas rumah itu meloncat dan berkelebat dengan cepat menghampiri Nini Sangga. "setangguh apapun Wirayudha, ia adalah tetap anak-anak, dan mempunyai rasa takut di tinggal oleh seseorang yang dia sayangi, Wirayudha memeluk tubuh Nini Sangga geni sambil menangis, "Huukh....Nini, jangan tinggalkan aku!....eyang Padasukma membelai kepalanya "tenanglah nak!..Nini mu hanya mengalami luka dalam, kemudian di dudukannya Nini Sangga geni, punggungnya di aliri hawa murni untuk menghentikan pendarahan, sementara itu Ki Bondan sudah kembali berdiri tegak, setelah sesaat menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuhnya. sementara itu Wirayudha berjalan mendekati Ki Bondan Wiratama dan Ki Seno Keling.
"Eyang Bondan, tak seharusnya kau menjatuhkan tangan kejam pada guruku, dia tidak mempunyai masalah apapun denganmu, hanya berusaha untuk melerai kalian!". Ki Bondan dan Ki Seno Keling terperangah mendengar tutur kata dari Wirayudha, bocah kecil itu menegurnya tetapi dengan bahasa yang halus, yang seharusnya keluar dari mulut orang dewasa. "Cah bagus, kau tak memahami keadaan yang sesungguhnya, tapi jika aku salah...aku mohon maaf" Ki Bondan tanpa sungkan menjura kepada Wirayudha, "Wirayudha menjadi rikuh dan sungkan serta malu, begitulah sifat Ki Bondan, ia memang kasar tetapi selalu bersikap layaknya seorang ksatria, pemandangan itu tak lepas dari tatapan Eyang Padasukma, yang membuat hatinya tersentuh dan merasa bersalah, karena selama ini apapun yang di lakukannya berdasarkan kebenaran yang dia yakini tanpa melihat kebenaran yang di pahami orang lain. "Cah bagus, siapa namamu dan kau berasal dari mana?" Ki Bondan menatap Wirayudha, karena di dalan hatinya ada perasaan yang berbeda saat melihat mata Wirayudha. "Namaku Wirayudha eyang, aku berasal dari Jalaksana negeri yang jauh dari Mataram, aku dalam pengembaraan mencari ayahku".
__ADS_1
Wirayudha sudah merasa yakin, bahwa yang ada di depannya adalah Kakeknya. "Nama ayahku "Wiratama" eyang!, bundaku bernama "Saraswati", air mata Ki Bondan sudah tidak terbendung lagi, tangannya langsung memeluk erat tubuh Wirayudha "Aaakh...'Cah bagus, kau adalah cucuku, Wiratama adalah putraku. Aku dan ayahmu telah mencari ke setiap lorong-lorong bumi Mataram ini, apalagi ayahmu, keringat dan darah sudah ia keluarkan untuk mencari kau dan ibumu".
Nini Sangga geni yang baru pulih dari cidera, ikut terharu dengan pertemuan antara kakek dan cucunya itu, apalagi eyang Padasukma, air matanya ikut menetes merasakan kesedihan. barulah kini dia benar-benar menyadari, bahwa apa yang telah di lakukan oleh keluarga Pangeran Adiraja telah merusak kebahagian orang-orang lain, dan kini ia pun bertekad akan ikut membasmi ke angkara murkaan.
__ADS_1