Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Derita Putri Retno Ningsih


__ADS_3

Dalam sebuah balirung yang cukup luas, Wiratama, Ki Wisesa dan Raden Gilang Seta duduk menunggu kehadiran Panglima Utama Mandala Putra.


Tidak lama kemudian Panglima Mandala Putra keluar dengan berjalan cepat menghampiri mereka, Serentak mereka bertiga berdiri dan menyambut kedatangannya, "Salam Hormat Gusti Panglima, mohon maaf kami mengganggu waktu istirahatmu!" ketiganya membungkuk melakukan penghormatan.


"Wiratama! aku bahagia melihatmu telah sehat kembali, Panglima Mandala Putra tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya dengan kehadiran Wiratama.


Akhirnya mereka duduk bersama dan saling bertukar kisah, Raden Gilang Seta melaporkan perkembangan situasi keamanan di Kotaraja yang agak kurang aman, karena walaupun sudah tidak sering, masih ada saja penduduk yang mati secara misterius.


"Gilang Seta, kau kembalilah ke Markasmu! selain tingkatkan patroli keamanan, gunakan Pasukan Telik sandi kita untuk mendapatkan informasi secepat mungkin, tempatkan telik sandi di sekitar perbatasan-perbatasan Kotaraja, jika perlu tanam di desa-desa yang terlintasi para pengunjung yang menuju Kotaraja, masalah Nini Sangga Geni biarlah aku nanti yang akan menyelesaikan, ini hanya kesalahpahaman di antara kalian saja, jika perlu kau selidiki prajuritmu yang pertama kali melakukan laporan mengenai penyerangan saat mereka berpatroli keamanan."


Raden Gilang Seta berdiri kemudian menjura melakukan penghormatan "Kami pamit undur diri Gusti! kami akan melaksanakan semua perintah Gusti sesuai dengan petunjuk!".

__ADS_1


Setelah melihat Raden Gilang Seta keluar dari balirung, Panglima Mandala Putrapun memberikan perintah lanjutan "Wisesa, kau boleh pergunakan beberapa orang dari Pasukan bayangan untuk ikut membantu menyelidiki masalah ini!" Kemudian Ki Wisesa pun pamit meninggalkan Panglima Mandala Putra bersama Wiratama.


"Wiratama, aku merasa khawatir dengan keadaanmu semenjak kau di larikan iblis betina itu, tetapi rasa ke khawatiran dari putriku kepadamu lebih dari diriku, apakah kau bersedia menemui putriku Wira?", "Tanpa Gusti pintapun aku memang ingin menemui Nimas Retno, kepala Wiratama tertunduk merasakan kesedihan, karena ia telah di berikan kabar tentang keadaan Putri Retno Ningsih oleh Ki Wisesa. "Baiklah Wira, kita tidak perlu mengulur waktu, temuilah putriku!"


Keduanya beranjak pergi menuju rumah pendopo, tempat tinggal Panglima Mandala Putra yang masih satu area di dalan Benteng. Setelah mereka masuk di pendopo itu, Wiratama masuk ke kamar dan melihat Putri Retno Ningsih yang sedang terbaring. Panglima Mandala Putra sendiri kemudian meninggalkan Wiratama yang duduk di dekat pembaringan, ia menunggu dan duduk menyandar di kursi depan taman Keputren sambil merenung sedih.


Wiratama membelai rambut Putri Retno, Putri Retno Ningsih yang sebelumnya dalam keadaan tertidur, terperanjat saat merasa ada yang membelai kepalanya. "Aaarkk....Kangmas kau kah itu?", "Nimas tetaplah berbaring!, aku berada di sini menunggumu", tidak tahan rasanya Wiratama melihat kondisi Putri Retno Ningsih, wajah yang sebelumnya ayu, kini pucat pasi seperti mayat tanpa darah.


"Hu..hu..hu, rasanya aku tak pantas di dekatmu, maksud hati aku ingin menunjukan betapa aku sangat mencintaimu, tetapi Tuhan selalu menunjukan, engkau selalu banyak berkorban untukku, selalu saja Kangmas menderita karena diriku". Tangis Putri Retno pecah, jemarinya yang lemah menggenggam jemari tangan Wiratama yang sedang membelai pipinya.


"Nimas tenanglah, jangan kau berpikir yang bukan-bukan, tenangkan hatimu! aku menginginkan engkau sehat kembali seperti sediakala."

__ADS_1


Putri Retno Ningsih perlahan kembali memejamkan matanya, ia tertidur sambil tangannya tetap menggenggam tangan Wiratama.


Saat suasana hening, tiba-tiba Putri Retno Ningsih bangkit duduk sambil tangannya memukul ke depan "pergi kau Iblis!..pergi!..pergi!..., Wiratama yang dalam posisi duduk di tepian pembaringan merasa terkejut dan berdiri. Panglima Mandala Putra yang berada di depan segera berlari ke kamar setelah mendengarkan teriakan putrinya.


Ia kemudian menotok jalan darah kesadaran putrinya yang membuatnya kembali berbaring tidak sadarkan diri. "Wira, keadaan putriku seperti ini semenjak ia sadar dari pengaruh serangan lelembut wanita yang turut menyerangmu, aku sudah berusaha mendatangkan para tabib yang mumphuni, tetapi rasa ketakutannya selalu datang tiba-tiba menjelang matahari tenggelam tidak dapat di hilangkan".


Olah batin Wiratama sudah mencapai tingkat tinggi, ia merasakan hawa kehidupan yang berbeda di sekitar tubuh Putri Retno Ningsih, "Gusti, sepertinya sakit yang di derita oleh Nimas Retno bukanlah kewajaran, izinkan aku malam nanti berusaha mengobatinya! mohon malam nanti aku meminta air dari sumur gantung yang berada di sekitar keputren ini!". "Terimakasih Wira! aku sangat mengharapkan bantuanmu!".


Hari sudah menjelang malam, tubuh Putri Retno Ningsih di baringkan di bawah dan di kelilingi oleh Wiratama, Panglima Mandala Putra dan Ki Wisesa, Panglima Mandala Putra terpaksa memanggil kembali Ki Wisesa untuk membantu pengobatan putrinya bersama Wiratama. di samping tubuh Putri Retno di letakan Kelapa hijau tiga manggar yang sudah terbuka ujungnya, kemudian Wiratama beralih duduk bersila di depannya. "Kakang Wisesa, aku mohon bantuanmu, dudukkan Nimas Retno di depanku! saat kedua matanya membuka, siramkan air buah kelapa itu di kepalanya!", "Baik Dimas" Kemudian Ki Wisesa dan Panglima Mandala Putra mengangkat Putri Retno, dan memposisikan duduk membelakangi Wiratama. "Haiik....dalam keadaan duduk bersila kedua tangan Wiratama di angkat ke atas membentuk segitiga, kemudian mulai menempelkan kedua tangannya Ke punggung Putri Retno.


Lama berselang dari ubun-ubun Putri Retno Ningsih keluar asap hitam, di iringi dengan geraman dari mulut Wiratama yang sedang merapal Ajian Macan Lodaya. "Grrrrhhhh....desh...desh...kedua tangan itu menepuk punggung dengan perlahan, "Hoooekh...haaakh...dari mulut Putri Retno keluar darah hitam menggumpal dan berserak di lantai kayu...dari gumpalan darah tersebut kemudian ada beberapa kelabang yang merayap....kedua mata Putri Retno Ningsih membuka dan wajahnya berubah menjadi beringas, sebelum terjadi sesuatu Ki wisesa menyiram kepala dan tubuh Putri Retno dengan siraman air kelapa hijau... Wusssh....Sssh....air kelapa itu seperti menyiram besi panas dan menimbulkan suara berdesis.

__ADS_1


Tangan Wiratama dengan cepat menyambar beberapa ekor Kelabang yang berada di lantai, kemudian meremasnya menjadi abu. Tetapi tanpa di duga siapapun, tangan kanan Putri Retno memukul dada Wiratama yang masih duduk bersila membelakanginya "Hiiaaat...desh...dhuarrrh...tubuh Wiratama terlempar dengan keras dan membentur tembok ruangan. Ki Wisesa dengan gesit menangkap tangan Putri Retno dan menotok jalan darah kesadarannya kembali. "Teluh Kelabang Hitam...gumam Ki Wisesa, suaranya terdengar oleh Panglima Mandala Putra yang masih tercengang.


__ADS_2