Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Kabut Hitam Nusakambangan XVIII


__ADS_3

"Ha..Ha..Ha, sepertinya kalian kaum golongan putih sudah tidak mengenal aturan pertarungan!" terdengar suara mengejek dari Hulubalang Keling sambil tetap meladeni serangan dari Lodaya.


"Hiiaath...Traakh...Traakh, terdengar benturan tulang lengan Hulubalang Keling beradu dengan kaki-kaki Lodaya yang masih mencoba berebut untuk menerkam.


"Craaakh...Craakh..Ujung jari Lodaya yang runcing hanya mampu membuat baju besi sang Hulubalang tercabik, tetapi tubuh di balik baju itu tidak terpengaruh.


Ki Sawung Galih yang matanya jeli, sempat melihat Burung Alap-alap Ki Seno mendapatkan sejumput rambut Hulubalang Keling saat menyambar, kemudian ia membisiki yang lain untuk mencoba menyerang bagian ubun-ubun di kepala Hulubalang Keling.


Ki Sampang maju menyerang kembali, Jari-jari tajamnya mencoba menyerang ke bawah, untuk memberikan yang lain kelonggaran saat menyerang bagian atas kepala.


Nyai Ambarukmo melesat ke atas tidak langsung menyerang anggota tubuh Hulubalang Keling, kemudian tubuhnya menukik mengarahkan telapak tangannya ke arah kepala, "Hiiiaaat...Wuuush!..Braaakh! terjadi benturan di udara ketika Hulubalang Keling menolakan kakinya ke bawah dan mengarahkan kedua tangannya ke atas dengan mengabaikan serangan dari Ki Sampang.


Nyai Ambarukmo terpental ke atas, tenaga dalamnya kalah dengan kepemilikan tenaga dalam lawan, tubuhnya terpental sambil mulutnya menyemburkan darah segar, "Aaaakhh!"..


Ki Sampang tidak menghentikan daya serangnya, jari-jari tangannya yang mengarah ke bawah di belokan ke arah dada, "Praaakh...Praakh!, baju besi milik Hulubalang Keling lepas terkena sabitan kuku-kuku tajam Ki Sampang.


Sementara itu Nini Sangga Geni melesat mengejar tubuh Nyai Ambarukmo yang akan meluncur jatuh ke bawah, "Sraaath...Spph.., Beruntung tubuh Nyai Ambarukmo dapat di sambar oleh Nini Sangga Geni. Nyai Ambarukmo terluka parah tidak bisa melanjutkan pertarungannya.


Sesaat Kemudian Hulubalang Keling berputar dan mengibaskan lengannya sambil berteriak keras "Pemusnah Ragaaa!...Hraaaaaakh...Wusssh!" dari tangannya muncul asap hitam bergulung-gulung dan langsung menyambar Lodaya, "Graaaumh..Kraaakh!" Tujuh Lodaya terpental menggusur tanah sejauh Dua puluh tombak.


"Kalian pikir dengan jumlah sebanyak ini bisa mengalahkanku! Hulubalang Keling mulai melancarkan serangan balasan, "Hiiaaaath...tubuhnya melayang dan meluncur mengirimkan serangan-serangan yang ganas ke setiap pengeroyoknya, "Blarrrh...Bllaaarh...Bllaaarrrh!" dentuman pukulan keras membuat semuanya terpental tanpa kecuali.


Di lain pihak Wiratama terus memburu Moksa Jumena yang semakin dekat dengan Goa Ratu, Ketika melihat punggung Moksa Jumena yang sedang melayang, Wiratama melancarkan serangan jarak jauh "Pukulan Roh Lodaya! Saaaahkk...!" Deru angin pukulan dengan tepat mengenai punggung Moksa Jumena yang kemudian terjatuh tepat di depan Hulubalang Keling "Braaakh...!"


Setelah melihat Hulubalang Keling, Moksa Jumena merasa dirinya ada harapan hidup kembali "Aaarkkkh..., Kakang lindungi aku!" dalam seumur hidup baru kali ini Moksa Jumena sampai menghiba memohon bantuan kepada orang lain.

__ADS_1


Terpaksa Hulubalang Keling menghentikan serangannya, "Kau lemah sekali Moksa Jumena!" sambil menatap Wiratama yang sedang melayang mendekat.


"Uuukh..Dia bukan manusia Kakang! dia siluman Harimau jadi-jadian!" Moksa Jumena berusaha berdiri dan mendekati Hulubalang Keling.


"Hmm..Kita bertukar lawan Moksa! akan ku tunjukan bagaimana cara menghadapi dia!" Hulubalang Keling melesat menghadang Wiratama.


Bersamaan dengan itu, Wirayudhapun telah menyusul ke Goa Ratu dan melihat Guru-gurunya beserta yang lain sedang terluka.


Moksa Jumena dengan cepat menelan obat pemulih tenaga dan mengatur jalan nafas untuk mengembalikan kondisi fisiknya.


"Guru, izinkan aku yang menghadapinya!" Wirayudha memandang berkeliling menatap guru-gurunya, antara lain Ki Sawung Galih, Ki Seno Keling dan Nini Sangga Geni yang sedang terluka, Nini Sangga Geni dengan terhuyung-huyung mendekati Wirayudha "Baiklah Wira, kami semua mengandalkanmu! berhati-hatilah!"


Moksa Jumena yang baru saja dapat bernafas dengan lega, kemudian merasa kesal dan tertekan melihat siapa yang akan menjadi lawannya, karena ia tahu seberapa hebat kekuatan Wirayudha saat berhadapan dengan Rakyan.


Akhirnya mau tidak mau kini dia akan memulai pertarungan dengan Wirayudha, setelah merasa kondisi dan pembuluh darahnya sudah mulai membaik, Moksa Jumena langsung menyerang dengan pukulan-pukulam yang mematikan, "Srrraaakh!..Wuushh..Deru angin panas mulai terasa ketika Moksa Jumena mengeluarkan Salah satu ilmu andalannya "Jaring Nerakaaa...Wuuush!"


Seperti yang kita ketahui sebelumnya, tingkatan tenaga dalam Wirayudha sangatlah langka di temui tandingannya, karena tenaga dalamnya selain karena berlatih di pengaruhi juga oleh darah hewan Naga langit yang di temuinya di Samudera dulu.


""Krrraaakh...Sepasang mata Wirayudha berubah menjadi mata ular yang biru dan bercahaya, dari dalam tubuhnya keluar sosok yang mirip dirinya dan langsung menggedor dada Moksa Jumena yang sedang terpana menatap perubahan wajahnya


"Dhuuarh...Dhuuuarh!" dada Moksa Jumena terlihat hancur tembus sampai ke punggung, tubuhnya bersimbah darah dan langsung terjengkang tewas dengan rasa penasaran karena ia tidak mengetahui serangan apa yang menimpa dirinya.


Wirayudha telah menggabungkan kekuatan Naga Langit dengan Aji Rogo sukma untuk menghabisi Moksa Jumena dengan waktu yang cukup singkat. Akhirnya semua tokoh-tokoh dari pihak Mataram bisa sedikit lega melihat salah satu lawan yang tangguh telah tewas, kemudian merekapun mengalihkan perhatiannya ke pertarungan antara Wiratama dan Hulubalang Keling.


Pertarungan Wiratama dengan Hulubalang Keling hampir seimbang, tingkatan tenaga dalam mereka berduapun mendekati sempurna dan sama, terlihat saat terjadi benturan tenaga dalam, mereka berdua sama-sama terpental mundur Sepuluh tombak ke belakang.

__ADS_1


Akhirnya Hulubalang Keling sadar siapa yang sedang di hadapinya, Maka dari itu ia sesegera mungkin mengeluarkan Aji dan Kanuragan andalannya.


"Serigala Pemangsa Apii!" "Aaauuuu...Aaauu!" terdengar suara lolongan pemanggil roh Srigala dari mulutnya.


Dari balik pepohonan muncul beberapa ekor Serigala yang besar bersiap menerjang Tubuh Wiratama.


Wiratama mengedarkan pandangannya, pertarungan kali ini sangatlah berat, membutuhkan konsentrasi tinggi dan kekuatan tenaga dalam yang mumphuni dan membutuhkan olah kebathinan yang hebat.


Serigala-serigala yang di panggil Hulubalang Keling terlihat sangat ganas dan lapar, matanya berkilat memandang siapa saja yang berada di situ.


Wiratama menjejakan kakinya ke tanah tiga kali, ia pun memanggil Pasukan Lodaya 40, bait-bait manterapun dia lantunkan dalam hati, "Graaaumh...."Graaaaumh..Hrrrrh!"


Sebentar kemudian dari berbagai penjuru terdengar suara Auman para Lodaya bersahut-sahutan, pertanda Lodaya 40 telah datang, memenuhi panggilan Wiratama.


Lodaya yang berjumlah Empat puluh tidak memberikan kesempatan kepada Serigala-serigala lapar milik Hulubalang Keling untuk menyerang yang lain, Mereka bersama-sama meloncat dan menerkam, terjadilah pergumulan yang sangat mendebarkan bagi yang melihat.


Sedangkan ke dua Tuan dari mereka sendiri bertarung di ketinggian, mereka saling serang dengan mempergunakan senjata dan pukulan-pukulan jarak jauh maupun serangan dengan kontak fisik langsung.


Hulubalang Keling mempergunakan senjata pedang biru dan bertamengkan baja putih, tubuhnya yang gempal bergerak dengan lincah melakukan penyerangan dan pertahanan.


Kali ini senjata Wiratama memecah menjadi bagian dirinya masing-masing, Tombak Kyai Plered dan Pedang Jasinga melakukan putaran dan tebasan serangan-serangan yang membahayakan tubuh lawan.


"Sraaath...Sraaaakh...Braaang...Braaang!!!...


Dentuman akibat senjata beradu terdengar menggelegar membuat semua aktifitas serangan dari kedua belah pihak antara Para Prajurit Mataram dan Perompak terhenti seketika. Pandangan mereka terfokus kepada jagonya masing-masing dan berharap pimpinan merekalah yang dapat menjatuhkan lawannya.

__ADS_1


"Draaakh...Draaakh!" benturan tulang kaki Hulubalang Keling dengan Wiratama terdengar keras.


__ADS_2