Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Pertempuran di Bukit Mentasih


__ADS_3

Sepasang burung Alap-alap terbang berputar di atas celah bukit, sepasang sayapnya membentang, terlihat tidak bergerak, mereka terus berputar tiada henti sambil berteriak keras, "Kragh....kruigh....


'Ki Seno Keling, Alap-alap milikmu sudah memberikan tanda kedatangan musuh, panggillah kembali agar tidak menimbulkan kecurigaan!" Wiratama memerintahkan Ki Seno sambil memandang sepasang Alap-alap itu. "Baik Raden!"..


"Kraaagh....kraaagh....kraaagh, terdengar suara keras dari Ki Seno, ia memanggil sepasang Alap-alap itu dengan suaranya yang khas, "Kruuuigh....Sepasang Alap-alap itu seperti memahami tanda tersebut, mereka menghentikan gerakan putarannya, kedua sayap mereka kepakkan meluncur terbang ke arah Ki Seno, tak lama kemudian hinggap di bahu kanan dan kiri Ki Seno.


Wiratama, Ki Pandawa, dan Ki Seno Keling berdiri di atas bukit sebelah kanan, mereka mengawasi sisi lembah di bawah mereka. Tak lama kemudian terdengarlah derap langkah para Prajurit pimpinan Arya Permana, mereka berjalan beriringan dengan maksud melewati lembah mentasih.

__ADS_1


"Ki Seno, Ki Pandawa, biarkan mereka mencapai pertengahan lembah dulu". Jangan perintahkan pasukan untuk menyerang!", Aku akan akan menghadang mereka dari depan, sementara siapkan pasukan badai di belakang mereka, menunggu aba - aba dariku". Setelah berkata demikian, Wiratama berlari melompat ke arah ujung bukit.


Wiratama meloloskan Tombak pendek yang berada di punggungnya, kemudian pangkal belakang tombak ia ikat dengan tali ke pergelangan tangan kanan nya, wajahnya ia tutup dengan kain pengikat rambutnya, hanya kedua matanya saja yang tersisa.


Para prajurit Arya Permana sudah mencapai pertengahan perbukitan, mereka masih melangkah maju ke depan, tak ada rasa curiga dan kewaspadaan sama sekali.


Dari atas ujung bukit, Wiratama mengeluarkan Aji Badai Gunung Ciremainya, ia mengangkat ke dua tangannya ke atas, mengerahkan separuh tenaga dalam dan mengalirkan ke telapak tangannya, menarik kedua tangannya ke belakang kemudian menghempaskan kedua tangannya ke bawah mengarah ke tengah-tengah prajurit yang sedang berjalan, keluar gelombang badai dari kedua tangan Wiratama berbentuk kumparan-kumparan cahaya dan angin, menerobos dan melabrak prajurit-prajurit itu, "Dhuaaarh....dhuarrrgh....saat gelombang pukulan tersebut mengenai tubuh prajurit di bawah, mereka terpental berjatuhan, mereka bergelimpangan menjadi mayat dengan tubuh yang hangus dan gosong. Debu tebal beterbangan menutup pandangan mata mereka ke depan. Setelah debu-debu itu hilang, terlihat seseorang yang berdiri menghadang di depan. Tombak pendek terhunus di tangan kanannya, mata tombaknya masih mengarah ke tanah.

__ADS_1


suara benturan tombak dan pedang terdengar keras, beberapa pedang dari para prajurit itu patah, mereka terpental, terhunjam mata tombak Wiratama. Darah mengalir membasahi lembah Mentasih. Setelah sampai ujung barisan prajurit yang paling belakang, Wiratama membalikan badannya, ia lalu berteriak "Arya Permana, hayoo kau hadapi aku!" jangan kau sembunyi di balik punggung para prajurit ini!" , telihat di tengah-tengah pasukan berdiri seseorang yang sedang membawa pedang, wajahnya kemayu, terlihat halus jauh dari penampakan ksatria yang gagah. Ia ragu untuk menyongsong berhadapan dengan Wiratama.


"Huaa ha...ha...ha, mana jiwa prajuritmu Arya Permana?", bukankah kau Panglima Muda wilayah barat yang gagah perkasa?" sepengecut inikah kau bisa menduduki jabatan itu?" perlihatkan kemampuanmu di medan tempur ini!" jangan kau perlihatkan kemampuan mulutmu yang busuk disini!".


Arya Permana berteriak memerintahkan prajurit-prajuritnya, "Hei kalian!", serang ******** itu bersama-sama, cincang tubuhnya untukku!" yang bisa membunuhnya akan ku berikan hadiah sekantung uang emas".


"Hmmm....Arya Permana, rendah sekali kau hargai diriku, hanya dengan sekantung uang emas?" kau kira hanya dirimu yang mempunyai pasukan?"

__ADS_1


"Suitttt....suitttth....Wiratama memberikan tanda penyerangan, dari atas bukit pasukan Topan gunung berlompatan turun dan menyerang, dari belakang Wiratama, Pasukan Badai sudah siap sedari tadi, kemudian terjadilah pertempuran yang berkecamuk.


"Arya Permana, para prajurit kita sedang mengadu kepandaian, aku ingin mencoba kemampuanmu di medan laga ini!".


__ADS_2