
Mata air masih mengalirkan air yang jernih, Wiratama masih duduk di depan gundukan tanah yang masih basah, pandangannya menatap batu di samping mata air.
Terbayang di pelupuk matanya, saat hari-hari kemarin dia duduk sambil di mandikan Nyai Gendis, masih terasa saat rambutnya yang panjang di belai dan di guyur air yang memakai daun keladi.
"Nyai...aku tak mengira kau begitu cepatnya pergi! kasih sayangmu kepadaku tidak pernah aku lupakan." Wiratama melepaskan ikat rambutnya, di biarkan tergerai sampai bahu....
"Aaakh....Hutan Pengger ini salah satu saksi kebersamaan kita Nyai!" Wiratama menundukan wajahnya, ternyata masih ada sisa air mata yang kemudian menetes. tangannya dengan erat menggenggam tombak yang selama ini selalu ikut mendampinginya.
Wiratama memalingkan wajahnya saat lengannya tersentuh Lodaya yang menggesek-gesekan wajahnya ke lengan Wiratama..."Gggrrrh....!"
"Aku tahu, kau berusaha menghiburku, terimakasih!" tangan Wiratama mengelus kepala Lodaya. di susul kemudian Enam dari Harimau yang lain mendekat dan berebut menciumi punggungnya.
Beberapa hari kemudian suasana Kotaraja kembali normal, walaupun tetap ada kecemasan di antara para prajurit yang khawatir kejadian kemarin terulang kembali. Nini Sangga geni dan Wirayudha pun telah kembali ke Parang tritis.
__ADS_1
Di kediaman Panglima Mandala Putra, semuanya kembali normal, hanya saja masih ada sedikit ganjalan tentang keberadaan Wiratama, Putri Retno Ningsih masih berharap Wiratama untuk kembali.
Putri Retno Ningsih yang tidak terlalu sabar menunggu kedatangan Wiratama, akhirnya dengan diam-diam meninggalkan kediamannya tanpa di iringi pengawal satupun. Ia memang tidak membekali diri dengan olah kanuragan tinggi, tetapi kecerdasannya melebihi orang lain, dengan bermodalkan inilah Putri Retno Ningsih merasa percaya diri dengan kemampuannya.
Kepergian Putri Retno Ningsih membuat se isi kediaman Panglima Mandala Putra kalang kabut, akhirnya Panglima Mandala Putra mengutus Ki Sampang dan Ki Wisesa untuk mencari keberadaan Putri Retno..
Di lereng Gunung Sumbing, Dewi Pramudita duduk tersandar di pohon besar dan rimbun, tubuhnya penuh luka seperti bekas luka terbakar. Sementara itu Kalong-kalong hitam yang menyelamatkannya, tergantung di dahan-dahan pohon tempat dia bersandar.
Dewi Pramudita membuka kelopak mata, berusaha menajamkan penglihatan dan pendengarannya, mencari asal suara yang di tunjukan kepadanya.
"Nisanak, jika kau mempunyai kepentingan denganku hadirlah di depanku!"...Dewi Pramudita membenarkan posisi duduknya, sambil menunggu jawaban teriakannya.
"Slapp...srrt...srrrt"..terdengar desiran angin halus dan suara ranting yang berbunyi, di iringi dengan kehadiran seorang perempuan muda yang berparas garang mirip sosok laki-laki, "Nyi Dewi...Aku Ambarukmo...yang menaruh simpati kepadamu!"...
__ADS_1
Bersamaan dengan kehadiran Ambarukmo, Kalong-kalong hitam yang bertengger di atas pepohonan beterbangan meninggalkan pohon tersebut, seakan-akan mereka takut berhadapan dengan Nyai Ambarukmo.
"Nisanak, apa yang kau kehendaki dariku?" Dewi Pramudita mengajukan pertanyaan. "Hik..hik..hik, aku tak mengharapkan apapun darimu Nyai Dewi! aku hanya bersimpati kepada nasibmu, karena engkau korban dari perasaan cinta, sama seperti diriku!"
"Dari mana engkau mengetahui namaku Nisanak?" Dewi Pramudita kini menyelonjorkan kedua kakinya sambil tetap bersandar di batang pohon, Nyai Ambarukmo kemudian mendekat dan duduk di depannya, "Tidak sulit bagiku untuk memgenalmu! karena kita dari zaman dan waktu berasal yang sama Nyai Dewi, hanya tempat asal kita saja yang berbeda, dan kita pun senasib menderita kutukan, Aku Ambarukmo yang seharusnya mati karena pengorbanan cinta untuk pujaan hatiku, tetapi Sang Pencipta masih memberikan waktu kepadaku untuk menghirup udara di dunia ini". Kemudian percakapan keduanya berlanjut, entah apalagi yang mereka bicarakan, Matahari mulai tenggelam tergantikan Dewi Malam yang mulai menampakan wajahnya, kedua wanita tersebut beranjak meninggalkan tempat.
Kalong-kalong hitam yang tadi membubarkan diri, tak di sangka beterbangan bergerombol kembali mengiringi Dewi Pramudita dan Ambarukmo.
Kita kembali dahulu kepada Wiratama yang kemudian meninggalkan Hutan Pengger, langkahnya menyusuri jalanan di Kotaraja menuju kediaman Panglima Mandala Putra, tetapi setelah sampai di sana, Wiratama melanjutkan perjalanannya dengan tidak menentu setelah mengetahui Putri Rerno telah pergi mencari dirinya.
"Aakh..apa yang harus ku lakukan saat ini?.. di mana aku harus mencari Dewi Pramudita?" sumber dari kekacauan yang terjadi." Wiratama melanjutkan pengembaraannya dengan langkah tidak menentu.
Penampilan Wiratama kini telah berubah, rambutnya di biarkan tergerai tidak terikat, sebagian menutupi wajahnya, sorot matanya sayu dan berkilat, menampakan kesedihan yang mendalam, kini ia bersiap untuk mengelana mencari Putri Retno dan mencari Dewi Pramudita yang telah membunuh Nyai Gendis.
__ADS_1