
Warok Singo Menggolo melompat mengambil pedang yang masih tertancap di batang pohon yang kini telah roboh.
"Wiratama, aku lihat kau masih ragu dengan kemampuanku!" Warok Singo Menggolo bersiap untuk menyerang Wiratama, tangan kanannya memegang pedang dengan posisi terhunus ke depan, "Hiaaaat....Swuuush!... Tubuh pendek Warok Singo Menggolo meluncur deras ke depan, ujung pedangnya mengincar batang leher Wiratama, "Swwwukh....Traaaang!" tombak Wiratama mematahkan luncuran pedang, di susul dengan sebuah tendangan yang menyambar dari bawah ""Weeeesh.....
Tubuh Warok Singgo melenting ke atas, dan dengan cepat menukik ke bawah, tetapi dengan gesit Wiratama mengelak dengan gerakan yang meniru Belalang Sembah yang baru di pelajarinya. "Dhuaaarh...Tusukan pedang mengenai bebatuan yang sebelumnya di pijak Wiratama.
"Ha...Ha..Ha...Kau hebat Wiratama! tapi kau harus tahu, Lembah Nirbaya adalah medan laga untuk para petarung seperti kita!"
Warok Singo Menggolo melepaskan pedangnya, "Jasinga! tunjukan kemampuanmu!"... Swuuush, pedang yang di panggil oleh Warok Singo sebagai Jasinga, kembali menyerang Wiratama tanpa di kendalikan oleh Sang Warok....
"Hiaaaath....Desh...Desh....Kepalan tangan Warok Singo Menggolo yang di kobari Api menyerang Wiratama yang sedang menahan serangan Pedang Jasinga.
Wiratama berkelit dan mengelak dari serangan Pedang Jasinga dan serangan pukulan Warok Singo. Saat ini Wiratama seperti menghadapi dua petarung yang berilmu tinggi.
"Groaaaarh....Wiratama berubah menjadi manusia setengah Harimau, tombaknya di lepas dan berputar membentengi dirinya dari tebasan Pedang Jasinga!..
"Lodaya Membelah Bukit!... kedua tangan Wiratama yang mempunyai cakar tajam mulai melakukan sambaran-sambaran berbahaya...."Sraaathhh....Kreeekh....Braaakh!.....walaupun tidak mengenai tubuh Sang Warok, Cakar Lodaya membelah dan memotong pohon-pohon sekitarnya.
"Lodaya Mencabik Mangsaaaa!"....Bayangan tujuh tubuh Wiratama mengelilingi tubuh Warok Singo Menggolo yang sebelumnya mencoba bertahan, "Craaakh..."Craaakh...Tubuh Warok Singo Menggolo tercabik-cabik , semburat darahnya tersebar kemana-mana. kemudian jatuh tersungkur.
Bersamaan dengan itu, Pedang Jasingapun mendapatkan beberapa kali tebasan dari Tombak Wiratama, membuat Pedang Jasinga jatuh membentur permukaan tanah berkali-kali. "Traaang!....Traaang!.....
Warok Singo Menggolo yang sedang mandi darah akhirnya berteriak, "Hentikan Wiratama!... Aku mengaku kalah!"
__ADS_1
Bayangan Wiratama akhirnya menyatu kembali, dan dengan cepat menyambar Tombaknya.
Pedang Jasinga melayang dan kemudian menancap di depan tubuh tuannya yang masih terlentang.
"Wira, siapa kau sebenarnya?
"Warok Singo! aku bukan siapa-siapa, Wiratama adalah Wiratama, tidak ada gelar atau kebangsawanan yang menghiasi namaku!"
"Tidak mungkin!... Tombak Kyai Plered yang di bawa olehmu bukan senjata biasa!"...Pedang Jasinga belum pernah terkalahkan oleh senjata apapun!"...
"Warok! aku tidak memaksamu untuk mempercayai kata-kataku!" Wiratama menancapkan Tombak nya di permukaan tanah.
Dalam kondisi terluka, Warok Singo Menggolo masih sempat tertawa, "He..He...He..Wira! Jujur aku akui, aku memang bukan hanya menginginkanmu menjadi muridku, aku ingin menjadikanmu Gemblakanku, tapi sekarang aku tidak bernafsu lagi!"
"Pergilah Wira! tapi sebelum kau pergi, Aku ingin Jasinga mendampingimu! anggaplah sebagai hadiah dariku!"
Warok Singo kemudian berusaha duduk bersila dan melafalkan sesuatu, Kemudian ia berteriak sambil menunjuk Pedang Jasinga "Jasingaaa ikutlah kau dengan Majikan baru mu..."Craaaph...dari telunjuk Warok Singo keluar cahaya kecil yang kemudian menerpa badan pedang.
Pedang Jasinga mengeluarkan asap hitam yang membungkusnya, "Sraaapphh...!... kemudian melayang terbang dan meluncur ke arah tombak milik Wiratama.
"Dhuuaarh....terjadi penyatuan dua senjata pusaka...
Tombak milik Wiratama bergoyang, ada sedikit perubahan bentuk di batangnya, batang tombak kini terdapat dua mata pedang.
__ADS_1
"Warok Singo, aku mengucapkan terimakasih yang tak terhingga, dan aku pamit mohon undur diri untuk melanjutkan perjalananku!"
"Pergilah Wira....!"
Wiratama mencabut tombak dan membawanya pergi, semakin dalam menembus dasar Lembah Nirbaya.
Kabut tipis menghalangi pandangannya, suara-suara yang menyeramkan mulai terdengar samar-samar, teriakan kesakitan, tangisan, tertawa, datang dari balik kabut.
"Hmm...banyak pasang mata sepertinya mengawasiku!"
Lamat-lamat dari jauh terdengar suara tiupan seruling, semakin Wiratama masuk ke dalam lembah berkabut, suaranya semakin terdengar jelas. Alunan suara seruling terdengar mengalun merdu, Wiratama menikmati suara seruling itu yang makin lama semakin menghanyutkan jiwanya, selain merdu, tiupan seruling membawa jiwa Wiratama ke dalam relung-relung kesedihan, tidak terasa air matanya menetes membasahi pipinya.
Tiba-tiba suara seruling yang mendayu-dayu berhenti secara mendadak, memutuskan lamunan jiwa Wiratama yang sedang terbang.
"Aaah...kenapa berhenti!" kaki Wiratama menghentak ke tanah melampiaskan kekesalannya karena suara seruling berhenti.
"Hik...Hik..Hik, lengkingan suara wanita dan sosoknya tiba-tiba muncul di hadapan Wiratama, "Kau suka dengan suara alunan seruling penggetar sukmaku Pendekar gagah!"...
"Aku sangat suka Nisanak!" Wiratama menyunggingkan senyumnya ke wajah cantik yang menertawainya tadi.
"Kau bisa menikmatinya kembali, tapi di dunia ini tidak ada yang gratis tanpa bayaran, apakah kau sanggup membayarnya pria gagah?"
"Ah..Nisanak, hartaku terbatas, berapa aku harus membayarmu untuk mendengarkan suara serulingmu yang sangat merdu tadi?"...
__ADS_1
"Cukup berikan kemesraan saja untukku!...apakah kau sanggup?"...
Wajah Wiratama terlihat jengah dengan keterus terangan wanita cantik yang berada di depannya..."Ehhmmm...!"