Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Pengembaraan I


__ADS_3

Wiratama duduk menyendiri di pojok sebuah kedai, pandangannya mengawasi ke sejumlah pengunjung yang datang sendiri maupun berkelompok, di minumnya kopi yang masih mengepul panas sambil menyibakan gerai rambut yang menutupi wajah.


Tiba-tiba dari arah samping, berjalan dua pasang pendekar yang langsung duduk di depannya, "Kisanak, tempat dudukmu sangat enak untuk menikmati pemandangan di luar sana! apakah engkau mau mengalah untuk memberikan tempatmu kepada kami?" Pria tirus yang berikat kepala merah langsung duduk berhadapan dan menatap tajam kepada Wiratama, sedangkan wanita yang berada di sampingnya dengan senyum manja mendekat dan berbisik kepada Wiratama "Jika engkau mau mengalah kepada kami, semua makanan yang engkau makan akan kami bayar Kisanak!"


Wiratama meletakan minumannya di atas meja, perlahan dia mendongakan wajahnya memandang wajah pria yang berada di depannya " Pendekar! hatiku sedang dalam suasana berkabung, pergilah mencari tempat lain dan jangan menggangguku, saat ini emosiku tidak mudah di kendalikan! tolonglah! berlalu dari hadapanku!"


Pria berikat kain merah itu berdiri "Demit Alas!....kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa?" tangan kanannya memukul meja..."Braaakh!....meja kayu yang tebal dan bulat itu terbelah menjadi dua, dan suara keras itu membuat seisi kedai menengok ke arah mereka, membuat kedua pasang pendekar itu merasa mendapat perhatian dan merasa senang.


"Hik...hik...hik Kisanak kami adalah sepasang Camar iblis dari Nusa kambangan, pergilah sebelum sauadaraku bertindak kejam" Wanita yang bersamanya mencoba menengahi dan menahan serangan.

__ADS_1


"Wuuugh...Kkkrrkhh...tangan kanan Wiratama berkelebat, jari-jarinya mencengkeram leher pria tersebut, "Aku tidak peduli siapa kalian!" di saat lehernya tercengkeram, tangan kanan pria itu membalas memukul dari arah bawah, "Hkkkhhh.....slap...dengan gesit tangan kiri Wiratama menahan pukulan sambil balik mencengkeram dengan keras..."Sappph......Rrrtth....Kraaakh...Aaaaakhhh!..bunyi patahan tulang jari-jari terdengar di iringi teriakan kesakitan.


Wiratama mendorong cengkeraman yang di leher dengan keras, membuat tubuh pria itu terhuyung ke belakang dan jatuh " Bruugh!"


"Hiaaath....serangan menderu terarah ke kepala Wiratama, pukulan itu berasal dari wanita pasangan Camar Iblis, tetapi dengan mudah dapat di elakan oleh Wiratama, Kaki Wiratama bergeser sedikit ke samping "Hmmm....aku tidak pernah membedakan dalam menghadapi musuh, baik itu pria maupun wanita!" tubuhnya berkelebat ke depan dengan cepat dan menarik lengan kiri wanita itu, di lanjutkan dengan mematahkan sikunya ke arah atas..."Kraaakh.....Aaaakh!..


Sepasang Camar Iblis jatuh terlentang hanya dengan beberapa gebrakan sederhana dari Wiratama, membuat pengunjung di kedai riuh dan ramai. Keduanya sedang menahan rasa sakit, tetapi rasa malu yang melanda melebihi rasa sakit mereka "*******! kau tidak akan selamat dari tempat ini, tunggu pembalasan kami!" keduanya berusaha berdiri.


"Nisanak! aku sudah katakan dari tadi, tidak akan membedakan musuhku baik pria maupun wanita, pergilah tanpa dengan umpatan! sekali ku dengar kau bersuara, kepalamu akan ke pecahkan persis seperti pasanganmu!".

__ADS_1


Setelah melemparkan beberapa koin ke arah pelayan, Wiratama keluar kedai dengan langkah perlahan.


Setengah Purnama telah terlewati, karena perjalanan Wiratama tanpa tujuan, membuat dirinya tersesat sampai ke pesisir laut pantai selatan.


Setelah bertanya kepada salah satu penduduk yang di jalan, ternyata Wiratama sampai di daerah Jeruk legi, salah satu kampung yang masuk daerah Cilacap. Langkahnya kembali di percepat untuk segera sampai di perdukuhan berikutnya karena terlihat langit menghitam pertanda hujan akan segera turun.


Rintik hujan mulai turun membasahi tubuh Wiratama yang belum menemukan tempat berteduh, pandangannya mengawasi rumah-rumah di perdukuhan. Tidak ada nyala api sedikitpun untuk penerangan rumah mereka, dengan perasaan yang di liputi banyak pertanyaan terpaksa Wiratama mengetuk salah satu rumah penduduk yang gelap tanpa cahaya. Pintu itu tidak terbuka membuat Wiratama beranjak pindah untuk mengetuk pintu rumah yang lain.


Beberapa rumah sudah di coba, tetapi beberapa kali pula tidak ada sahutan, karena tubuhnya yang kini basah kuyup, terpaksa pada rumah berikutnya Wiratama berusaha membuka pintu itu dengan paksa.

__ADS_1


"Dughh...Braakh!....dengan bantuan cahaya kilat yang sedikit, terlihat oleh Wiratama empat sosok yang sedang bersembunyi di pojok ruangan tengah. Salah satu dari mereka yang terlihat sudah renta berdiri sambil menghunus golok "Kami sudah tidak memiliki apa-apa lagi! apalagi yang akan engkau ambil?" mata Wiratama menyipit berusaha memperhatikan tua renta yang sedang menghunus golok, langkah kakinya terdengar keras pertanda dia tidak memiliki olah kanuragan.


"Aki, aku bukan pencuri atau perampok, aku hanya ingin berteduh di gubukmu, jika engkau keberatan, aku akan keluar kembali!" Wiratama beranjak akan keluar kembali dan menutup pintu. "Tunggu Kisanak! mohon maaf aku salah mengira, masuklah kembali!"


__ADS_2